
"Sadarlah, Putri Estelle. Dia tidak pernah mencintaimu, dia hanya mempermainkanmu. Sadarlaaaah!" Sang putri meneriaki bayangannya yang ada di depan cermin.
"Kau berharap menjadi pasangan raja dan ratu yang bahagia luar dalam?" tanyanya pada diri sendiri.
Namun, dia pun tertawa. "Apa? Hahaha?"
Entah apa yang ia tertawakan. Tapi setelah itu ia berhenti tertawa, memutar bola mata dan membasuh mukanya.
Ia berpindah ke luar kamarnya, menatap rembulan di malam hari yang tertutup awan sebagian, hingga cahaya tak mampu menembus celah-celah dedaunan.
Dalam hening, ia masih teringat dengan jelas perkataan pangeran Arshlan.
Aku tidak boleh banyak berharap, Pangeran Arshlan hanya menginginkan pernikahan politik.
Putri Estelle mengingatkan dirinya sekali lagi.
"Iya, putri Estelle! Hanya pernikahan politik!"
Sang putri berdiri dan berjalan ke arah pagar balkon. Menumpu badan dengan kedua telapak tangan yang ia letakkan di atas pagar. Ia berbicara sendiri mengabaikan para penjaga karena mereka tidak pernah berusaha mendengar apapun yang dibicarakan orang lain, apalagi yang dibicarakan oleh anggota keluarga kerajaan.
Clak clak clak
Gluduk gluduk gluduk
Putri Estelle menatap ke atas, tetesan-tetesan air itu menembus pada dedaunan. Memberi cipratan-cipratan kecil yang terjatuh di atas tanah.
Brrum brruuum
Cahaya silau menyorot dari arah kanan, sang putri menengok dari balkon kamarnya.
Bruuum
__ADS_1
Sebuah motor melewati dirinya.
Zrrrassh
Tepat dengan motor yang melewat di depan kamarnya, air hujan pun membesar.
"Pangeran Arshlan ...?" bisik sang putri bertanya-tanya.
"Jadi dia langsung berangkat malam ini juga ke Raisilian? Di tengah hujan?" Putri Estelle merasa kesal sendiri melihat motor sang pangeran yang mengebut di jalanan istana.
"Bahkan dia tidak meminta izin padaku? Mentang-mentang dia seorang pangeran lalu seenaknya saja keluar-masuk istana orang lain?" Putri Estelle masuk kembali ke kamarnya.
Brak
Gebrakan pintu saat sang putri menutupnya, hal itu mengejutkan para penjaga yang menjaga depan pintu kamarnya.
Sang putri masuk lagi ke dalam kamarnya, ia duduk di depan meja rias sambil bertopang dagu.
Putri Estelle mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja riasnya. Para botol dan make up bergetar karena getaran jemarinya.
Lama sang putri berada di kamar, mondar-mandir, tidur-bangun, tidur lagi, bangun lagi, sang putri merasa gelisah dan tak tenang.
Jleger ...!
Suara petir menyambar. Kilat-kilat cahaya terlihat dari luar jendela.
Putri Estelle melirik jamnya.
00.45
Sudah lebih dari tengah hari.
__ADS_1
"Apa di jalan hujannya juga seperti ini?" tanya sang putri.
Jleger !
Putri Estelle lagi-lagi menutup telinganya akibat dari suara guntur.
"Apa aku harus menelepon?" Putri mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Eliana.
"Ah, tidak! Eliana pasti sedang beristirahat." ucapnya ragu, lalu ia hanya menggenggam ponselnya.
"Dia bilang butuh waktu enam jam untuk sampai ke Raisilian. Pasti belum sampai."
"Tapi dia berteduh di mana?"
Putri Estelle kembali bermonolog.
"Ah sudahlah, tidak usah peduli. Bahkan dia juga tidak pamit padaku!" kesal sang putri.
"Apa aku harus meneleponnya?"
"Ah, tidak-tidak! Kita tidak sedekat itu untuk saling mengkhawatirkan!"
Tring
Ponsel sang putri berdering dan memunculkan sebuah pesan. Ia pun buru-buru mengambilkan ponselnya.
Ia buka dan ia baca sejenak. Setelah itu remas ponsel tak berdosa itu.
Dan ....
Brak!
__ADS_1