Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Teh Beraroma Aneh


__ADS_3

Sambil menunggu kedatangan Antony dan  Dave, Raja Gerald dan Eliana kembali ke dalam mansion. Pikirannya sungguh terganggu oleh beberapa hal yang berkaitan akan kematian kakaknya.


 


 


Pertama, apa benar Elsa, istri dari kakaknya adalah seseorang bernama Manda yang sedang menyamar? Kedua, apa benar Manda itu ahli Mikologi? Ketiga dan yang paling utama, jika Manda adalah seorang ahli Mikologi, kenapa dia membiarkan suaminya dan dirinya sendiri memakan jamur yang jelas-jelas beracun, jika bukan itu disengaja?


 


 


Sang Raja tidak ingin berspekulasi. Dia harus memastikan terlebih dahulu identitas dari Elsa yang sebenarnya.


 


 


“Apa yang sedang anda pikirkan, Yang Mulia? Anda terlihat tidak baik-baik saja!” Eliana menghampiri Yang Mulia Raja dan membawa secangkir teh untuk Raja Gerald.


 


 


“Ah, tidak! Hanya ada beberapa hal yang mengganggu pikiranku, aku harus memastikannya lagi,” jawab sang Raja sambil memberi senyuman hangat untuk Eliana.


 


 


“Diminum dulu tehnya!” ujar Eliana pada sang Raja.


 


 


Teh Chamomile kesukaan Raja Gerald, tersaji di depannya.


 


 


“Dari mana kau dapatkan teh ini?” Raja Gerald memicingkan matanya, karena di mansion ini tidak ada makanan ataupun minuman sama sekali.


 


 


“Dari mobil Yang Mulia, aku tadi melihat ini. Mungkin milik pengawal,” jawab Eliana polos.


 


 


“Pengawal, apa kalian membawa teh ini?” tanya sang Raja pada pengawal yang berdiri di sampingnya.


 


 


“Ah … itu … eeemmm,” jawab si pengawal ragu-ragu.


 


 


“Kenapa kau tidak menjawab?” desak sang Raja.

__ADS_1


 


 


Sang Raja meletakkan kembali teh yang ada di tangannya ke atas meja. Melihat hal itu, wajar bila Eliana cemberut. Ia merasa tak dihargai oleh Raja Gerald yang tidak mau meminum minuman buatannya.


 


 


“Sudahlah! Aku minum sendiri saja!” Eliana meraih cangkir teh itu dan merengguk isinya hingga tandas.


 


 


“Eliana! Jangan begitu!” larang Raja Gerald karena khawatir. Wajar bagi anggota keluarga istana yang selalu waspada terhadap makanan-makanan pemberian yang tidak diketahui dengan jelas sumbernya. Itulah yang membuat Raja Gerald merasa curiga.


 


 


“Sudah habis! Lihatlah! Aku baik-baik saja, kan, Yang Mulia?” ujar Eliana.


 


 


Sang Raja mengintip cangkir teh bekas Eliana. Lalu ia meraihnya, ia mencium bau dari bekas teh itu. “Ini bau teh chamomile, tapi seperti …,” ujar Raja Gerald sambil meringis karena mencium bau yang sedikit aneh dari teh Eliana.


 


 


“Apa teh ini sudah basi?” tanya Raja Gerald pada pengawal.


 


 


 


 


“Lantas kenapa baunya seperti ini?” tanya Raja Gerald.


 


 


“Ah, sudahlah, Yang Mulia! Aku tidak akan membuatkan lagi minuman untukmu!”  Eliana merajuk karena respon sang Raja yang mengecewakan menurutnya. “Teh ini baik-baik saja kok!” ujar Eliana.


 


 


“Bukan begitu, Eliana!”


 


 


Eliana tak mendengar apa yang dikatakan oleh sang raja, ia memutuskan untuk melihat-lihat pada kamar yang pernah dipakai oleh Raja Gerry dan mendiang istrinya dulu.


 


 

__ADS_1


Box bayi yang tidak terpakai, ornamen-ornamen berwarna soft blue yang sangat imut dan lucu. Sepertinya Raja Gerry dan istrinya sangat mendambakan bayi. Begitu dalam pikiran Eliana.


 


 


“Kenapa di sini panas sekali?” ujar Eliana.


 


 


Raja Gerald melihat Eliana dari luar kamar, ia mulai merasa aneh dengan gelagat Eliana.


 


 


“Kau kenapa?” tanya Sang Raja.


 


 


Wajah Eliana tiba-tiba memerah, dan dia juga terlihat gelisah dengan mulut yang seperti sedang mendesis.


 


 


“Kamu kenapa?” tanya Raja Gerald lagi.


 


 


“Di sini panas sekali!” ujar Eliana seraya menurunkan bagian leher gaunnya.


 


 


Raja Gerald melihat itu, lalu ia spontan menutup pintu karena secara tidak sengaja ada pengawal yang melihat hal itu.


 


 


Setelah menutup pintu, Raja Gerald melihat ke arah Eliana dengan tatapan yang mendominasi. Jakunnya mulai naik turun melihat Eliana yang terus menggeliat-geliat bak cacing kepanasan.


 


 


Dihampirinya gadis itu, lalu dibelai lembut pipi Eliana dengan punggung tangannya. “Apa sentuhanku yang seperti ini membuatmu nyaman?”


 


 


*


 


 


Ehm … ehmm … duh, wkwkwkwk

__ADS_1


 


 


__ADS_2