Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Pusat Perkebunan Arshville


__ADS_3

"Perkenalkan, Yang Mulia, saya adalah tuan Edmund. Kepala pengurus pusat perkebunan," ujar seorang pria yang menghampiri rombongan Raja Gerald.


"Salam hormat untuk anda, Yang Mulia." Tuan Edmund membungkukkan badannya.


"Hormat anda diterima. Anda yang mengurus perkebunan ini?" tanya Yang Mulia.


"Benar, Yang Mulia."


"Tuan, apakah saya boleh menanyakan sesuatu?" tanya Eliana pada Tuan Edmund.


"Silakan, Nona," jawab pria berkumis tebal tersebut.


"Tanaman apa saja yang ditanam pada pusat perkebunan ini?" Eliana mulai mengajukan pertanyaan untuk memenuhi rasa penasarannya.

__ADS_1


"Banyak sekali, Nona. Ada sekitar 50 jenis buah-buahan, 100 jenis sayuran, dan palawija-palawija utama ditanam di kebun ini," jawab tuan Edmund dengan bangga.


"Palawija utama? Apa saja?" Baru kali ini ada istilah palawija utama. Biasanya, semua palawija juga dibutuhkan, tergantung dari kegunaan masing-masing. Maka dari itu, Eliana merasa aneh akan istilah tersebut.


"Palawija utama adalah jenis komoditas palawija yang diperkirakan akan mengalami kenaikan harga di masa panennya nanti. Maka dari itu, pusat perkebunan ini dibuat dengan kondisi se-ideal mungkin untuk palawija tersebut tumbuh dan menghasilkan rendemen yang melimpah di saat panen nanti," jelas tuan Edmund.


"Oooh, begitu. Jadi, para petani akan menanam komoditas sesuai yang telah direncanakan. Bagaimana jika kondisi lapangan tidak memungkinkan, Tuan Edmund?" tanya Eliana lagi.


"Seperti yang sudah saya jelaskan tadi, Nona. Bahwa pemerintah daerah akan menyuntikkan dana untuk optimalisasi keadaan, agar tetap dapat menanam tanaman yang diinginkan." Tuan Edmund menjawab lagi.


"Optimalisasi keadaan itu, ya, seperti mengatur suhu dan kelembaban sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tanaman. Memberi tambahan sinar matahari buatan bila hari sedang mendung. Menyesuaikan derajat keasaman tanah, juga mengatur kandungan hara seperti kebutuhan akan unsur makro dan mikro yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Semuanya sengaja diatur sedemikian rupa, agar memenuhi kondisi ideal untuk tanaman tumbuh dan berkembang. Bukan begitu, Tuan Edmund?" Eliana menjawab pertanyaan sang raja mewakili tuan Edmund.


Tuan Edmund mengangguk, lalu melengkapinya. "Benar sekali, Nona. Hingga mereka bisa memberi hasil yang melimpah, di saat negara kita kekurangan akan komoditas tersebut pastinya." Tuan Edmund menerangkan panjang lebar.

__ADS_1


"Jadi bagaimana masyarakat akan menjual semua hasil panennya, jika kebanyakan modal dari pemerintah?" tanya Raja Gerald lagi.


Tuan Edmund mendadak lesu akan pertanyaan Yang Mulia Raja satu ini.


"Tuan Edmund?" panggil Eliana karena pria berkumis tebal itu tiba-tiba menurunkan lekuk bibirnya.


"Nona, Yang Mulia Raja. Rakyat tidak mendapat apa-apa dari hasil panennya. Pemerintah daerah hanya memberi upah pekerja pada para petani. Hal itu dilakukan dengan alasan jika semua kebutuhan bercocok tanam telah dipenuhi oleh pemerintah, jadi para petani hanya menerima upah lelah setara dengan gaji buruh," jawab tuan Edmund sambil membuka topi dan menunjukkan kepala plontosnya.


"Kenapa petani tidak menanam di lahannya sendiri?" Eliana terlihat sangat geram kali ini.


"Lahan kami tidak ada, Nona. Di mana kami harus menanam semuanya? Lahan kami dibeli dengan paksa oleh pemerintah, kemudian dijadikan lahan pusat perkebunan ini," timpal tuan Edmund. Kali ini matanya mengedar mengitari kebun mangga, yang mungkin di sana ada bekas tanah miliknya.


"Jadi kalian tidak bisa bercocok tanam lagi?" tanya sang raja lagi.

__ADS_1


Tuan Edmund mengangguk.


__ADS_2