
Tes tes tes
Darah menetes pada pedang naga milik pangeran Arshlan. Satu-satunya orang yang ia tebas menggunakan pedangnya tidak lain tidak bukan adalah pamannya sendiri, pangeran Aro. Ketika semua prajurit pengkhianat kerajaan Yorksland mati hanya karena pedang angin.
"Aku tidak akan pernah bisa tidur dengan nyenyak jika pembunuh ayahku dan pemimpin kudeta kerajaan masih hidup." Sang pangeran membersihkan mata pedang dari darah.
"Sebenarnya aku masih berharap kau meminta maaf dan kau akan kuampuni. Tapi ... perbuatanmu sudah melewati batas."
Pangeran Arshlan menatap tumpukan jasad di hadapannya. Dengan jasad pamannya sendiri yang berada tepat di ujung kakinya. Ia tak peduli jika nanti banyak saudaranya yang lain menuntut dirinya atas kematian pangeran Aro, karena pasti masih ada anggota kerajaan yang akan memihak pada pamannya itu.
"Sepertinya kita sangat terlambat," ujar raja Gerald bersama para pasukannya.
"Ini urusan kerajaanku. Aku yang membereskan mereka. Atas nama Yorksland, aku meminta maaf atas kekacauan yang telah dibuat di sini." Pangeran Arshlan berlutut di depan raja Gerald.
"Berdirilah, aku percaya kalian berada di pihak yang berbeda. Terima kasih telah menyelamatkan kerajaan kami," ujar sang raja seraya menepuk bahu pangeran Arshlan.
Kemudian raja Gerald berjalan melewati pangeran. Ia mengamati hamparan mayat prajurit Yorksland yang telah dibunuh oleh pangeran Arshlan. Lalu di sebelah hamparan jasad itu, ia mendapati sebuah galian yang cukup dalam dan luas.
"Apa ini sengaja kau gali untuk mengubur mereka?" tanya raja Gerald pada pangeran Arshlan.
__ADS_1
Sang pangeran berjalan menghampiri, ia melihat cekungan yang ditunjuk oleh kawannya itu. Pangeran Arshlan menggeleng. "Bukan!"
"Lalu ... untuk apa galian ini?"
Pangeran Arshlan menggeleng lagi. "Aku tidak tahu, sepertinya para prajurit ini yang menggali. Apa ... mereka tahu jika mereka akan mati dan menggali lubang kuburnya sendiri?"
"Konyol! Aku tidak mengizinkan hutan konservasi ini menjadi pekuburan masal!"
"Lalu? Aku harus mengembalikan puluhan mayat ini ke Yorksland? Yang benar saja?" protes sang pangeran.
Raja Gerald tersenyum menggeleng, lalu ia menepuk pundak pangeran Arshlan. "Aku akan memfasilitasi pengangkutan mayat mereka."
"Tapi akan kumasukkan sebagai hutang Yorksland pada Raisilian. Hahaha."
"Dasar Gerald." Pangeran Arshlan pun menggerutu.
"Sepertinya, mereka mencoba mencari emasnya dengan menggali." Raja Gerald berkata seraya mencibir pada galian lubang yang lebar di hadapannya.
"Emmmh, masuk akal. Tapi ... kenapa emasnya tidak ada?" Pangeran Arshlan bertanya-tanya.
__ADS_1
Raja Gerald menatap kawan di sampingnya dengan tatapan tak percaya. "Kau percaya bisa menemukan emas itu dengan menggali tanah ini?"
"Kenapa memangnya? Benar, kan?"
"Haha, haha, hahahaha." Raja Gerald malah tertawa terbahak-bahak tak percaya dengan yang pangeran Arshlan katakan.
"Memang kenapa, ada yang salah?"
"Kukira otakmu tak sedangkal mereka."
"Apa maksudmu?"
"Ini tambang emas, Arshlan. Bukan harta karun emas yang terpendam." Raja Gerald mencoba menjelaskan.
"Memang apa bedanya? Kan, sama saja. Apa mungkin mereka kurang dalam menggali. Kalau menggunakan tenaga dalam mungkin galian sepuluh bisa didapatkan dalam setengah jam saja."
"Lalu setelah itu, kau berharap ada batangan emas bersinar dalam peti yang terkubur di tanah?"
"Iya, atau bagaimana? Emas itu tidak dalam peti?"
__ADS_1
"Haha haha. Kalian terlalu banyak menonton kartun. Kalau semudah itu, untuk apa mendiang ayah mertuaku bersama kawannya mendesain kendaraan tambang. Untuk apa pula lokasi ini disembunyikan dan ia takut terjadi perusakan lingkungan? Kalau menemukan emas hanya semudah menggali sepuluh meter dan langsung menemukan batangan emas. Kau pikir ini harta karun terpendam."