
"Yang Mulia, kami mendapatkan kembali kalung milik anda, Yang Mulia," ujar Antony menyerahkan kalung lada Raja Gerald.
"Jadi, kalian menemukannya?" Wajah sang Raja nampak bahagia.
"I-iya, Yang Mulia," gugup Antony saat menjawabnya.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" Raja Gerald mendapati keanehan pada ekspresi penasihatnya begitu ia mengambil kalungnya dari tangan Antony.
"Tidak, Yang Mulia. Tidak apa-apa!" Antony masih ragu dengan pemikirannya sendiri.
Jika kalung ini memang kalung asli milik sang Raja, mengapa ada pada Eliana? Setahu Antony, Eliana tidak pernah memiliki bakat mencuri.
"Ada apa, Antony? Apa kalung yang kau bawa ini palsu? Wajahmu sangat mencurigakan!" Raja Gerald menatap sinis pada pria lanjut usia di hadapannya.
Antony terdiam, dia tak berani mengutarakan pemikirannya.
Hal itu membuat Raja Gerald semakin ragu.
"Hubungkan aku dengan divisi keamanan!" perintah Raja Gerald tiba-tiba.
Antony meneguk ludahnya. Apa Yang Mulia ingin menyelidiki sendiri?
__ADS_1
"Ba-baik, Yang Mulia," jawab Antony semakin gugup. Ia menyambar gagang telepon, lalu menekan beberapa tombol untuk menghubungi divisi keamanan Raisilian yang sedang menangani kasus ini.
Tuuut tuuut
Tak menunggu lama, telepon itu pun tersambung.
"Selamat siang! Di sini Antony, penasihat kerajaan. Sambungkan panggilan ini pada pimpinan kalian, Yang Mulia Raja hendak bicara!" seru Antony tanpa basa-basi dalam telepon.
"Silakan, Yang Mulia," ucap Antony menyerahkan teleponnya.
Sang Raja pun menerima telepon.
"Kepala keamanan, katakan secara langsung padaku, apa kalung ini asli?"
"Tunggu! Apa katamu? Kalung milik Eliana? Apa maksudmu?" Raja Gerald meninggikan nada suaranya.
"Iya, kalung itu kami temukan berada di tangan nona Eliana, dan menurut penuturan sang Dayang yang masuk ke kamar Yang Mulia, dia hanya sekedar menuruti perintah," jawab sang kepala keamanan dengan suara yang agak parau dan lemas.
"Maksudmu ...?" Raja Gerald geram dan mengeratkan rahangnya.
"I-itu be-be-"
__ADS_1
"Aku yang akan menginterogasi dayang itu sendiri!" Raja Gerald langsung memutuskan panggilan itu dengan menyerahkan gagang telepon pada Antony agar diletakkan kembali.
Sang Raja pun berdiri dan langsung menuju ke divisi keamanan kerajaan. "Perketat keamanan istana, waspadai semua pekerja yang ada di sini, para dayang, pelayan, semua pengawal dan penjaga. Tidak terkecuali! Awasi terus juga putri Estelle! Beri laporan jika putri Noirland itu berbuat yang mencurigakan!" titah Yang Mulia Raja pada penasihatnya.
"Aku akan pergi ke divisi keamanan dengan pengawal!" lanjut sang Raja yang langsung diikuti oleh pengawal pribadinya.
*
Sementara itu di ruang interogasi utama, di mana terdapat dayang Emma dan para penginterogasi di dalamnya.
Cklek
Pimpinan keamanan itu masuk ke ruangan tersebut.
"Dayang Emma! Yang Mulia hendak bertemu denganmu! Kami harap kau tidak memberi kesaksian palsu!" seru sang kepala keamanan.
"Kasus di negara ini cukup banyak sekali, kenapa harus ada kasus yang merepotkan sampai terlibat dengan sang Raja begini?" keluh kepala keamanan itu lagi.
"Untuk apa aku berbohong! Wanita itu yang memintaku untuk mencurinya! Buktinya, kan, sudah jelas. Dia memakai kalung itu di lehernya!" elak dayang Emma dengan ringan.
"Jadi kau bilang jika Eliana yang memerintahmu?" Sebuah suara tiba-tiba menyergap semua yang ada di sana. Mendadak diam begitu orang nomor satu di Raisilian itu datang.
__ADS_1
"Yang Mulia, anda sudah datang?"