Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Ibunda yang Sehat Kembali


__ADS_3

"Kenapa kamu murung terus seperti ini?" Pangeran Arshlan sedang menghampiri tuan putri Estelle yang duduk di gazebo taman.


Putri Estelle menengok ke sumber suara, ia melihat pangeran Arshlan dengan wajah datar, lalu menunduk lagi tanpa menjawab pertanyaan sang pangeran.


"Kamu sedih karena tak bisa pergi ke Raisilian?" tebak pangeran Arshlan.


Sang putri diam saja, ia tak mengangguk, tak juga menggeleng.


"Kalau kamu seperti ini, ibumu pasti akan sangat sedih. Dia akan berpikir jika penyebab dirimu tak bisa pergi ke mana-mana adalah dirinya," ujar sang pangeran.


"Ibu tidak tau aku ingin pergi ke Raisilian," elak sang putri putus asa.


"Kata siapa?" Pangeran menyenggol sedikit bahu putri Estelle. "Kau lihat itu?" Pangeran menunjuk ke arah balkon lantai dua istana Noirland.


Putri Estelle mengikuti arah telunjuk pangeran Arshlan, dan ia pun tersenyum "Ibu sudah bisa bangun lagi?" tanya sang putri yang terkejut melihat ibunya bangun dan berdiri balkon lantai dua istana.


Sang putri mengusap air matanya, namun buliran bening itu tak berhenti menetes, selaras dengan senyumnya yang tek berhenti merekah. Ia bahagia. Saaaangat bahagia.


"Ibuku ... ibuku sembuh?" tanya sang putri sambil menatap pangeran Arshlan.


Pangeran mengulum senyumannya, namun ia mengangguk mengiyakan asumsi sang putri.

__ADS_1


"Aku akan ke tempat ibu. Kau telah menyembuhkannya, terima kasih!" Sang putri menggenggam kedua tangan pangeran Arshlan seraya menatap manik mata hitam jelaga milik pangeran.


"Temui dia! Mungkin, ada yang ingin beliau bicarakan!" titah pangeran Arshlan dengan suara parau.


"Iya! Terima kasih." Putri Estelle melepas genggamannya dan berbalik untuk berlari menuju ke ibunya.


Sang pangeran diam di tempat, menatap punggunh sang putri yang berlari menjauhinya. Matanya berkaca-kaca, namun ia menahan agar tidak yang jatuh air mata miliknya.


Ia berjalan ke arah yang berlawanan dari tuan putri, sambil ia mengetik sebuah pesan dari ponselnya.


[Tolong, siapkan penerbangan untuk putri Estelle ke Raisilian malam ini!] ~ Pangeran Arshlan.


Sementara itu, di lantai dua istana Raisilian terjadi kehebohan karena sang putri berteriak bahagia melihat ibunya telah bisa berdiri lagi.


"Ibu ... ibu ...!" teriaknya terdengar sangat histeris. "Kau sudah sembuh?" Ia pun menghambur ke pelukan ratu Allura dan menangis di bahu ibunya.


"Aku harus sembuh, sayang," ujarnya sambil melepaskan pelukan sang putri. "Ada yang ingin kusampaikan kepadamu!"


"Apa?"


"Kita bicarakan di dalam," ajak ratu Allura pada putri Estelle. Mereka menuju ke kursi sudut yang ada di ruang istirahat ratu Allura.

__ADS_1


"Apa yang ingin ibu sampaikan? Aku akan turuti keinginan ibu," ujar sang putri.


Sang ratu tersenyum, ia memeluk anaknya dan menepuk-nepuk bahunya cukup lama.


"I-ibu ...?" Sang putri bertanya-tanya dengan tingkah sang ibu.


Ratu Allura tetap memeluk tanpa melepas pelukannya, kali ini ia juga mengusap pucuk kepala anaknya.


Cukup lama, hingga akhirnya sang ratu melepas pelukannya.


"Ibu ... ingin menyampaikan jika ... ibu ... sangat menyayangimu!"


Sang putri berkaca-kaca, ada yang aneh dengan ibunya. "I-ibu? Aku ... aku ... aku juga sangat menyayangi ibu."


Air mata mulai menetes kembali. Apa ini salam perpisahan? Apa ini hanya ungkapan biasa antara ibu untuk anaknya.


Putri Estelle terus berusaha tersenyum.


"Pergilah ke Raisilian! Jenguk bayi Eliana, tanyakan siapa namanya. Katakan pada mereka, aku memberkati putri dari Raisilian agar menjadi putri yang meneduhkan semua orang dan dicintai dewa-dewi pembawa kemakmuran. Katakan, ya! Sampaikan salamku!" Ratu Allura mengusap punggung tangan putri Estelle.


"Ibu ...?"

__ADS_1


__ADS_2