
"Kurang ajar! Anak kecil itu sudah bertindak terlalu jauh!" Menteri Garfield menerima pengaduan dari Perdana Menteri Arshville.
"Bahkan, dia juga berani bernegosiasi untuk mengancamku, Tuan Garfield," ungkap perdana menteri Arshville mengadu.
Sang menteri kini berdiri dari kursi kerjanya, sambil mengepalkan tangan. Rahangnya terlihat mengeras mempertontonkan urat-urat leher dan kepalanya. Ambisinya untuk menjadi pemimpin Raisilian semakin sulit saja, jika Raja Gerald sudah berani mengganggu rencananya dalam mengeruk keuntungan dari rakyat.
"Perdana Menteri!" panggilnya dengan nada yang tinggi.
"Iya, Tuan Garfield?" Sang perdana menteri menghadapkan tubuhnya mengikuti ke mana menteri keuangan itu pergi.
"Kenapa informasi ini bisa bocor? Kau yakin tidak ada wargamu yang berkhianat?" tanya menteri Garfield lagi.
Perdana menteri itu menunduk sambil sedikit memalingkan wajahnya. "Saya sepertinya perlu melakukan interogasi," aku sang perdana menteri.
"Kalau sampai ada wargamu yang berkhianat, itu karena kau ceroboh!" hardik menteri Garfield lagi. "Kemudian panggil orang itu ke mari! Agar dia tahu, siapa yang patut dituruti di Raisilian ini." Menteri Garfield tersenyum bengis menaikkan sebelah bibirnya.
"Hahaha Hahaha." Tawa sang menteri menggelegar memenuhi ruangan.
__ADS_1
Perdana menteri hanya duduk dan menunduk tak berani menatap pada menteri yang sedang digilai kekuasaan.
Meski perdana menteri merupakan sesepuh yang dihormati di Raisilian, namun itu tak berlaku bagi menteri Garfield dan antek-anteknya. Baginya semua perdana menteri, tak terkecuali perdana menteri Arshville, adalah pion-pion di papan catur yang dapat mereka gunakan untuk mengalahkan Raja dan ibu surinya.
"Sekarang kau tau, rencana apa yang diberikan oleh raja tak tau diri itu untuk rakyat Arshville?"
"Mereka sedang diberi pengarahan untuk menanam hidroponik," jawab perdana menteri.
"Kalau begitu, gagalkan rencana mereka. Suntikkan hama yang dapat merusak tanaman-tanaman hidroponik tersebut. Tanaman yang ditanam dengan media seperti itu, rentan dengan serangan cendawan. Kau bisa sebarkan bubuk cendawan di sekitar tanaman mereka." Menteri Garfield tersenyum menertawakan rakyat Arshville yang dia permainkan.
Perdana menteri itu hanya bisa mengangguk.
"Baik, Tuan," jawab perdana menteri yang sejak tadi hanya mengiyakan.
"Jika mereka berhasil maju satu langkah, maka kita harus maju hingga seribu langkah!" Tatapan tajam menteri Garfield berkilat-kilat, besarnya kelopak mata sang menteri begitu mendukung untuk dirinya memelototkan matanya.
*
__ADS_1
Setibanya di istana, Eliana langsung menemui bayi Kevin di kamarnya. Bayi itu tertawa melonjak-lonjak begitu melihat Eliana tiba.
"Mama ... maamaaa!" teriak bayi Kevin.
"Wah, kamu semakin besar saja sayang? Dua hari tidak bertemu rasanya begitu lamaaaa ...!" Eliana mendekap bayinya dengan penuh kasih.
Dayang Odeth tersenyum melihat pertemuan ibu dan anak itu.
"Dia tidak rewel selama kutinggal?" tanya Eliana pada sang dayang.
Dayang Odeth menggeleng. "Hanya ketika dia minta susu, namun dia akan diam lagi setelah disuapi ASI perah dari nona." Sang dayang menjelaskan.
"Terima kasih sudah menjaga bayi Kevin ya, Bi!" Senyum tulus terbit mengiringi rasa terima kasih dari Eliana.
Cklek
Pintu kamar pun terbuka, muncullah wanita paruh baya dari pintu tersebut.
__ADS_1
"Apakah Gerald sudah bertemu dengan Kevin?"