
Putri Estelle merenung mendengarkan penjelasan pangeran Arshlan yang bercerita tentang kesembuhan ibu suri Paula. Dalam pikirannya ia ingin mengungkapkan kondisi ratu Allura dan juga ingin pangeran Arshlan membantunya.
Namun, ia mengurungkan niatnya mengingat efek samping yang harus diderita oleh sang pangeran setelah memberi terapi pada ibunya seperti waktu itu.
"Hei, kenapa kau terdiam begitu? Apa kau terkesima?"
Putri Estelle bergeming dan baru menyadari jika panggilan video itu masih berlangsung.
"Ah, iya. Eh, apa? Terkesima? Cih ...." Putri Estelle menyebik sambil sedikit tertawa. "Anu ... emm ... syukurlah, semoga kondisi ibu suri Paula segera membaik, dia ada ibu dan nenek yang baik."
Putri Estelle menunduk, ada rasa sedih dalam setiap kata-katanya.
"Bagaimana kondisi ratu Allura di sana?" tanya sang pangeran mengganti topik pembicarana.
"Dia ... baik. Iya ... dia baik-baik saja." Putri Estelle tak menceritakan perihal ratu Allura yang tak sadarkan diri seraya muntah darah.
"Oh, begitu. Syukurlah, jika Yang Mulia Ratu baik-baik saja."
Putri Estelle kembali tersenyum. Senyum yang mengandung luka namun tersembunyi.
"Aku ... paling aku butuh waktu dua minggu lagi untuk bisa kembali ke Noirland."
Putri Estelle mengangguk.
__ADS_1
"Apa kau tidak merindukanku?" Pangeran Arshlan mulai menggoda putri Estelle lagi.
Sang putri memutar bola mata jengah.
"Aku tutup ya, kau lihat, aku masih menggunakan bathrobe dan perlu mengganti baju."
"Ganti saja di depanku."
"Dasar mes*um!"
*
Keesokan harinya, sang putri bangun pagi seperti biasanya. Ia segera menuju ke kamar ibundanya karena ia merasa khawatir oleh kondisi ratu Allura.
Ia berjalan diikuti oleh para dayang. Menyusuri koridor istana yang dihiasi oleh berbagai ornamen berbentuk naga.
"Sudah, tuan Putri. Silakan masuk, Yang Mulia ratu perlu banyak beristirahat." Penjaga itu mempersilakan.
Seperti biasa, para dayang yang menemani putri Estelle akan menunggu di luar kamar, sementara putri Estelle masuk menemui ibunya
"Selamat pagi, Bu. Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya sang putri pada ibundanya yang tengah berbaring di atas ranjangnya.
Ratu Allura mengangguk dan tersenyum. "Kalau begitu, bagaimana dengan dirimu?" tanya sang ratu.
__ADS_1
"Aku ... cukup baik," jawab sang putri sekenanya.
Kalau boleh aku akan mengatakan, jika semalaman aku benar-benar tak bisa tidur karena memikirkan kondisi ibu.
Dalam hati sang putri bergejolak, bukan karena gelombang asmara, melainkan karena rasa takut kehilangan dan bersamaan dengan itu ada rasa tanggung jawab besar yang mengikutinya.
"Ibu ... kabarnya ibu suri Paula sudah menggerak-gerakkan jarinya, kabarnya dia sudah mampu untuk melanjutkan pengobatannya sendiri tanpa bantuan dari pangeran Arshlan."
Ratu Allura tersenyum. "Itu, bagus!" puji sang ratu.
"Ibu ...?"
"Hmm? Ada apa?"
"Apa ibu tidak ingin menerima bantuan dari pangeran Arshlan?"
"Sssst!" Ratu Allura memerintahkan putri Estelle agar tak membahas itu.
"Putri ... Pangeran Arshlan sudah banyak membantu kerajaan kita. Sudah sepatutnya jika kita tidak perlu merepotkan untuk melakukan hampir habis." Sang ratu kembali mengenang kejadian lampau di mana Noirland.
"Ibu ... aku ... aku hanya ingin ibu sembuh." Sang putri yang memang suami idalam itu, manjadi kegeraman bantuan ratu.
"Aku ... hanya ingin ibu sembuh."
__ADS_1
*
Author mau nebeng pesan. Guys, ini aku abis minum obat flu, dan ngantuk super parah. Maaf untuk typo, cerita yang halu, dan kalau ada yg tidak nyambung, dm ya, biar kubaca nanti pas mobil semua berkumpul. Aiish ngaco lah inu ngetik.