
"Ke mana perginya Raja Gerald?" tanya Putri Estelle pada ibu suri. Mereka berdua masih sedang menunggui di depan kamar Ratu Allura.
Ratu Allura sebenarnya sudah sadar, hanya saja mereka berdua masih ingin bersama.
"Gerald sedang pergi ke Arshville, perdana menteri di sana mengundang untuk rapat gabungan," jawab ibu suri.
"Oh, begitu. Iya, ya, Raisilian memiliki sistem pemerintahan yang dipimpin oleh kerajaan dan otonomi daerahnya diatur oleh perdana menteri. Noirland tidak seperti itu, semuanya mutlak berada di bawah kekuasaan raja," timpal putri Estelle.
"Aku kepikiran dengan Allura, kematian putri Emilda membuatnya tidak sadarkan diri. Dia sangat baik, memikirkan anak selirnya sampai seperti itu ...," gumam ibu suri Paula yang terdengar oleh Putri Estelle.
"Sebenarnya bukan hanya seperti itu," sanggah sang putri.
"Bukan hanya seperti itu? Maksudnya?"
"Ibu bukan hanya terlalu khawatir pada Putri Emilda, tapi ... dia lebih ke ... merasa takut pada ayahanda yang pasti akan menyalahkannya jika Putri Emilda sampai tiada," tukas Putri Estelle.
"Menyalahkan? Kematian putri Emilda karena kecelakaan, ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan ibumu, Nak," timpal ibu suri Paula merasa tak terima saat ia dengar sahabatnya menyalahkan diri sendiri.
__ADS_1
"Seandainya ayah juga berpikir begitu." Putri Estelle tersenyum tipis, menunjukkan perasaan hatinya yang sedang miris.
Ibu suri Paula juga terdiam. Ia memang mendengar jika selain menjemput Putri Estelle ke Noirland, sahabatnya itu juga ditugaskan untuk bernegosiasi dengan pihak kerajaan Raisilian agar membebaskan anak tirinya itu.
Namun nasi sudah menjadi bubur, mustahil untuk menghidupkan kembali jiwa yang telah terpisah dari raganya.
"Semoga ada jalan keluar dari semua permasalahan kalian. Aku mendo'akan yang terbaik untuk Ratu Allura dan dirimu, Putri Estelle," ucap tulus dari sang ibu suri sambil membelai pipi gadis di hadapannya tersebut.
"Terima kasih, semoga Tuhan juga membalas kehidupan Yang Mulia Ibu Suri." Putri Estelle merasa terenyuh, sosok Paula memang bukan hanya seorang ibu suri dari kerajaan tetangga, namun juga seorang ibu yang baru bertemu setelah dia dewasa. "Raja Gerald sangat beruntung memiliki ibu seperti ibu suri," puji Putri Estelle kali ini.
Drrrt drrrt drrrt
Sang Putri segera menggeser tombol hijau agar panggilan itu tersambung dengannya.
"Saya permisi ...," pamitnya pada ibu suri sambil berbisik dan melangkah agak jauh.
Ibu suri hanya tersenyum mengangguk mempersilakan Putri Estelle menerima panggilan padanya.
__ADS_1
"Bukankah Ronald adalah penasihat dari Noirland?" Ibu suri bertanya pada dirinya. "Ada hal apa dia menghubungi putri Estelle secara pribadi seperti ini?" gumam ibu suri lagi.
Tak lama kemudian Putri Estelle terlihat kembali dengan ponsel yang sambungannya telah terputus.
Air matanya berkaca-kaca, jalannya melambat, mengusap-usap wajahnya sendiri seakan ingin menutupi tangisnya.
"Kenapa, Putri?" tanya ibu suri ingin tahu.
Sang Putri belum menjawab, dia menarik kursi di hadapannya dan menekuk wajahnya untuk masuk pada lipatan kedua tangannya.
Ibu suri yang sangat pengertian, tak memaksa sang putri untuk menjawab. Perempuan paruh baya itu hanya mengusap punggung kepala sang putri, membuat orang lain tenang dna nyaman berada di sampingnya adalah keahlian sang ibu suri.
"Selir Sofi," ujar Putri Estelle perlahan.
"Kenapa dengan dia? Apa dia juga marah karena putri Emilda terbunuh."
Putri Estelle menggeleng.
__ADS_1
"Dia meracuni ayah."