Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Aku Mau Minum


__ADS_3

Duk ... duk ... duk ....


Sebuah jari tengah diketuk-ketuk di atas meja membentuk irama berkala. Bahkan sampai hampir tengah malam, Sang Raja masih berkutat di depan laptopnya.


"Antony," panggilnya pada seorang pria tua yang setia duduk di sebuah kursi sudut ruang kerja Yang Mulia.


"Iya, Yang Mulia."


"Bagaimana penyelesaian kasus tuna karya di beberapa daerah? Sudah ada program apa yang diajukan oleh para menteri?" tanya Raja Gerald.


"Saya dengar mereka mengadakan bantuan program bantuan operasional berupa bahan-bahan pokok dan uang tunai, tapi ... entahlah, lebih baik kita dengar saat rapat parlemen nanti," jawab Antony.


"Kalau menurutmu, apa yang sebaiknya kita lakukan? Apa dengan memberi bantuan langsung seperti itu merupakan solusi yang bijak?" tanya Gerald lagi, sang Raja seakan menyangsikan pendapat tersebut.


"Menurut hamba, ada baiknya kita jangan memberi bantuan langsung tunai seperti itu. Karena itu akan menurunkan daya produktifitas masyarakat kerajaan kita, Yang Mulia," jelas Antony. "Pemberian modal usaha terdengar lebih baik untuk menyelesaikan masalah tuna karya ini Yang Mulia," lanjutnya.


"Masuk akal, aku pun berpikiran seperti itu. Jadi ... apa perlu kita tolak, jika anggota parlemen mengajukan hal terkait pemberian bantuan nanti?"


"Lebih baik, Yang Mulia pikirkan kembali nanti," ujar Antony.

__ADS_1


"Lalu ... bagaimana dengan relokasi para tuna wisma yang banyak terdapat di Arliand?" Gerald membuka pertanyaan baru.


Arliand merupakan sebuah wilayah tak terawat di kerajaabn Raisilian. Di wilayah tersebut dijadikan pelarian para tuna wisma. Sehingga daerah itu lebih mirip dengan sarang gelandangan.


"Rumah susun yang dibangun sudah mulai diisi sebagian, tinggal menunggu para tuna wisma mengisi formulirnya, mereka akan bisa tinggal dengan gratis di hunian tersebut."


"Bagus!" puji Raja Gerald. "Antony, aku ingin minum!" Perkataan yang mengandung perintah keluar dari mulut sang Raja.


"Segera saya sediakan, Yang Mulia," jawab Antony sambil undur diri dan membungkukkan sedikit badannya.


Padahal, air dalam cangkir yang tersaji di atas mejanya tidak diminum. Tapi dia meminta minuman lagi?


Tak butuh waktu lama, pria penasihat paruh baya itu sudah tiba lagi.


"Silakan, Yang Mulia!" Antony meletakkan tatakan cangkir yang kemudian menjadi alas cangkir tersebut.


"Terima kasih," jawab Gerald tanpa diminta.


"Antony," panggil Raja Gerald sambil mencecap isi teh dalam cangkir. "Ini bukan rasa teh yang kuinginkan." Gerald menjauhkan cangkir itu dari dirinya.

__ADS_1


Antony mengerjap-ngerjap, ia pikir teh hijau adalah minuman favorit Yang Mulia. Tapi kini Yang Mulia Raja Gerald malah menolaknya.


"Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba salah mengambil minuman untuk Yang Mulia." Antony meminta maaf.


"Ya, tapi ... tidak! Bukan minumannya yang salah! Tapi ...," balas Raja Gerald sambil tersenyum-senyum.


Antony menatap Sang Raja dengan tatapan penuh keanehan.


"Sebaiknya, kau pergi ke tempatmu, Antony! Sudah malam, kau lebih baik istirahat!" ujar Raja Gerald. sambil tersenyum kecil.


"Apa Yang Mulia sudah hendak beristirahat?" tanya Antony tiba-tiba. Ia terkejut, biasanya Raja Gerald akan masuk ke ruangannya terlebih dahulu, baru dirinya yang pergi. Sekarang Raja bahkan belum masuk ruangan pribadinya itu tapi Raja Gerald sudah meminta dirinya untuk kembali?


Raja Gerald berdiri dan beranjak dari kursinya.


"Yang Mulia," panggil Antony menahan kepergian Rajanya.


Namun Raja Gerald tak mengindahkan panggilan itu.


"Mau pergi kemana? Biar saya antar!" tawar Antony.

__ADS_1


"Aku ... mau minum," jawab Raja Gerald sambil tersenyum penuh arti.


__ADS_2