
"Kau percaya padaku?"
Manik Raja Gerald mencari keseriusan pada tatapan Eliana. Lalu dengan mantap gadis itu pun mengangguk dan tersenyum.
"Terima kasih ...," ucap lirih Raja Gerald pada Eliana.
Keduanya bertatapan sangat intens. Mata hazel sang Raja untuk ke-sekian kalinya bersirobok dengan tatapan hangat dari manik kecoklatan milik Eliana.
Syahdu di antara mereka berdua. Sepasang sejoli yang dimabuk asmara dan baru saja meredakan pertengkaran di antara mereka.
Menatap penuh cinta wanita di hadapannya, diraihnya tekuk sang wanita, dan didekatkannya bibir ranum itu pada miliknya. Hingga sebuah kecupan hangat pun membuai keduanya.
Tanpa ada yang terucap dari mereka, keduanya bertautan saling merengguk manis dari satu sama lain. Saliva yang dirasa bak madu saling dicecap dan dihisap sampai semuanya terasa kering.
Raja Gerald membelai tengkuk Eliana agar semakin dalam lidahnya membelit di sana. Sang Raja benar-benar semakin lihai meski hanya beberapa kali melakukannya dengan Eliana.
"Haaaah ... haaaah ...." Merasa kehabisan napas, Eliana mendorong sang Raja. Dengan terpaksa, Raja Gerald pun melepas pertautan cinta mereka.
"Yang Mulia," ujar Eliana malu-malu sambil memalingkan muka.
__ADS_1
"Jangan marah padaku lagi ...," ucap Raja Gerald lirih di telinga Eliana.
"Kalau begitu, jangan membuatku marah," jawab spontan Eliana.
Sang Raja tersenyum senang, apalagi Eliana menggunakan kata ganti -ku saat menyebut dirinya. Biasanya gadis itu menggunakan kata hamba. Ya ... meskipun menyebut hamba pada dirinya adalah permintaan sang Raja, namun mendengar Eliana kini menyebut -ku membuat Raja Gerald sangat senang.
"Berani, ya! Kamu sekarang?" goda sang Raja sambil mendorong Eliana hingga terbaring di atas kasur.
"Ahaha, tolong ...," ucap Eliana lirih meminta tolong. Ya, seperti orang yang tidak niat meminta tolong.
"Tidak akan ada yang menolongmu dariku, Eliana!" Raja Gerald menyeringai sambil mengungkung gadis di bawahnya.
"Aku lebih senang di saat seperti ini kau menyebut aku untuk dirimu sendiri," timpal sang Raja.
Eliana menjadi grogi mendengar sang Raja terang-terangan berkata demikian.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Sang Raja berguling di samping Eliana. Ia berbaring menyamping menghadap gadis itu, namun tangannya tetap posesif memeluk pinggul Eliana.
"Apa kalung itu berguna untuk Yang Mulia?" tanya Eliana. "Emm ... maksudku adalah kalung milikku yang memiliki kemiripan dengan kalung Yang Mulia, apa memiliki kegunaan untukmu, Yang Mulia?"
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" Raja Gerald malah balik bertanya.
"Emmm ... itu ..., jika tidak penting, bolehkah hamba menjual kalung itu saja?" tanya Eliana lagi yang membuat dahi sang Raja semakin berkerut.
"Kenapa kau ingin menjualnya? Dan pada siapa?" Sang Raja merasa aneh pada keinginan Eliana. Pasalnya kalung ini adalah pemberian ayahnya, kenapa dia ingin menjualnya?
"Emm ... itu ..., aku ingin ...," jawab Eliana terputus-putus karena ragu.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau beli? Berapa keping emas uang yang kau butuhkan?" tawar sang Raja tiba-tiba.
Eliana menjadi semakin gelagapan jika ditawari seperti itu. "Anu ... bukannya ingin sesuatu ... aku ... aku hanya ...." Semakin kalang kabut Eliana dibuatnya.
"Kau hanya apa? Kenapa jadi berbelit seperti ini?"
Eliana duduk dari posisi berbaringnya. Ia merasa jantungnya berdetak sangat kencang. Entah karena permintaan konyolnya, entah karena ada sang Raja di sampingnya.
"Begini saja, aku beri kamu beberapa keping emas untukmu mengirim pada ibumu dan saudaramu, bagaimana?"
"Da-dari mana Yang Mulia tahu?"
__ADS_1