
"Wah, senangnya ...! Ternyata Yang Mulia Raja masih mengingat namaku," ujar Putri Estelle dengan sumringah.
"Haha. Sudahlah, Putri ...! Sedang apa kau kemari, tidak adakah dayang yang bersedia mengantarmu berjalan-jalan? Bukankah cuaca sore ini sangat indah dan sayang bila dilewatkan begitu saja," ujar Sang Raja berbasa-basi. Padahal ia sebenarnya ingin mengusir Putri Estelle secara halus.
"Wah, Yang Mulia memang paling pengertian. Bagaimana jika Yang Mulia yang menemani saya berjalan-jalan? Hihihi," tanggap Putri Estelle sambil tertawa kecil dan menutup bibirnya.
"Anu ... emm ... Antony?" Yang Mulia Raja langsung terpikirkan sebuah ide ketika bertemu dengan penasihat tuanya. "Antony, aku baru ingat dengan laporan perdagangan internasional kerajaan kita. Aku harus memeriksanya, sepertinya kau ada waktu untuk menemani Tuan Putri Noirland yang baru datang ini?"
Antony langsung mengerutkan dahi. Laporan perdagangan internasional? Bukankah laporan itu sudah diperiksa kemarin?
"Oh, begitu, Yang Mulia? Sayang sekali." Ketara sekali jika Putri Estelle itu sedang kecewa.
"Anu ... apakah tidak sebaiknya anda beristirahat saja Tuan Putri? Perjalanan Noirland menuju Raisilian pasti menguras tenaga anda. Anda bisa bertemu lagi dengan Yang Mulia Raja saat makan malam nanti, bagaimana?" Antony jelas juga tidak ingin bila diminta menemani Putri Estelle.
"Begitu, ya? Baiklah," jawab sang Putri dengan enteng. Putri dari Noirland itu pun berbalik arah.
"Biar saya antar anda ke kamar, Tuan Putri," ujar Antony lagi.
"Terima kasih, Tuan Antony!" Sang Putri menyambut bantuan dari penasihat Raja itu dengan senang hati.
__ADS_1
Sementara Yang Mulia Raja sudah pergi diam-diam sejak Antony dan Putri Estelle mengobrol.
"Bisa gila jika aku harus berlama-lama dengan putri manja itu," gerutu Sang Raja.
Dia berjalan menyusuri koridor istana, menuju Ruang kerja khusus untuk Raja Raisilian.
Dari kejauhan, Raja Gerald bisa melihat seorang wanita paruh baya, dengan rambut yang disanggul dan bergaun merah marunnya. Wanita itu selalu tersenyum, dan semakin merekah senyumnya begitu ia melihat sang putra tercinta.
"Gerald," sapanya dengan penuh kehangatan.
"Ibunda," balas Gerald.
"Emmm ... sudah, Bu." Raja Gerald memang tidak berbohong, jika hanya sekedar bertemu, baru saja dia bertemu dengan Putri Estelle.
"Ya sudah! Sepertinya, dia sangat antusias ingin bertemu denganmu. Ibu harap kau tidak mengecewakannya," ungkap ibu suri. Ia menepuk pundak anaknya sekilas lalu pergi dengan diikuti oleh dayang-dayangnya meninggalkan Gerald.
Raja Gerald awalnya hanya tersenyum tipis, sampai dia mengingat sesuatu dan akhirnya berbalik mengejar ibundanya.
"Ibu ... ibu ...," panggil Gerald.
__ADS_1
Paula menghentikan langkahnya, dia menoleh kembali ke arah anaknya yang sedang memanggil-manggil dirinya.
"Ya, sayang? Ada apa?" jawab Paula.
"Apa ibunda ada waktu?" tanya Gerald meminta kesediaan ibunya.
"Emmm ... ada," jawab sang ibu suri setelah berpikir sejenak. "Apa ada yang ingin kau bicarakan dengan ibu?"
Raja Gerald mengangguk. "Iya, tapi sebaiknya kita bicara di ruang kerjaku saja, ya, Ibu."
"Baiklah," jawab sang ibu suri lagi. "Apa kita bicara sekarang?"
"Ya, karena ini sangat penting," wajah Raja Gerald sangat serius.
Air muka sang ibu suri pun berubah menjadi lebih tegang karena melihat anaknya yang berekspresi tidak santai.
"Sepenting apa, Gerald? Wajahmu membuat ibumu ini menjadi takut!" ujar Paula pada anaknya.
Gerald menatap ibundanya lekat-lekat dan berkata, "Ini semua ... tentang Louis."
__ADS_1