
Sebelumnya, aku mau ngakak dulu karena tulisanku yang sebelumnya, amat sangat tidak nyambung. Aku bener-bener minta maaf man-teman. Nanti kalau sempat aku bakal benerin. Tapi, setengah hati aku bilang, biarin aja, biar jadi kenang-kenangan kalo aku pernah nulis sambil ngelindur juga. Haha. Efek obat flu ini mah.
*
"Sssst!"
"Putri ... Pangeran Arshlan sudah banyak membantu kerajaan kita. Sudah sepatutnya jika kita tidak perlu merepotkan pangeran Arshlan untuk melakukan terapi pada ibu yang menyebabkan tenaganya hampir habis." Sang ratu kembali mengenang kejadian beberapa hari lalu di mana dirinya mendapat terapi dari pangeran Arshlan dan itu memberi efek samping yang membuat pangeran harus beristirahat karena kehabisan tenaga dalam.
Pada kenyataannya, ratu Allura bukan orang yang suka berhutang budi.
"Ibu ... aku ... aku hanya ingin ibu sembuh." Sang putri yang memang berharap ratu Allura mau menerima bantuan dari calon suaminya pun menangis.
"Aku ... hanya ingin ibu sembuh." Dia mengulainginya sekali lagi.
__ADS_1
Ratu Allura hanya tersenyum sekilas sambil mengusap rambut putri semata wayangnya itu.
"Bukannya hari ini kau ada pertemuan untuk peresmian salah satu tempat wisata di utara?" tanya sang ratu seraya mengingatkan.
"Tempat itu ... dulunya pernah terkena bencana. Karena bencana itulah, membuat tempat itu pun berubah menjadi sepi dan hampir seperti desa yang mati. Tapi ... seiring berjalannya waktu, Tuhan merubah tempat itu menjadi sangat indah. Kita hanya perlu sedikit melakukan renovasi untuk tempat tersebut agar bisa dijadikan area wisata yang aman dan nyaman untuk dikunjungi manusia." Ratu Allura menjelaskan sejarah tempat yang ingin dikunjungi oleh putri Estelle.
"Tapi ... Bu, bukannya merenovasi dan membangun kembali tempat wisata seperti ini membutuhkan dana yang besar? Bukankah keuangan istana sedang sangat minim?" Sang putri bertanya karena khawatir.
Ratu Allura lagi-lagi hanya tersenyum sebelum menjawab pertanyaan putrinya. "Kau benar. sayang. Keuangan istana memang minim, itu karena digunakan membayar kerugian yang ditinggalkan oleh mendiang ayahmu, selain itu juga dikarenakan sisa dari uang itu sebagian kuinvestasikan pada berbagai macam produk investasi. Salah satunya, proyek pembangunan wisata. Kita harus mengirit bukan semata karena uang kita benar-benar habis, tapi karena kita harus memperbanyak investasi dan tambang uang untuk pemasukan yang baru."
Ratu Allura kembali tersenyum.
"Suatu saat, aku ingin menjadi ratu yang hebat seperti ibu. Aku harus belajar banyak dari ibu," ujar putri Estelle.
__ADS_1
Sang ratu kembali mengusap kepala anaknya. "Nyonya Arumi akan mengajarimu lebih baik dari ibu yang sakit-sakitan ini. Dia lebih hebat dari ibu."
"Kalau nyonya Arumi lebih hebat dari ibu, kenapa dia tidak menjadi ratu? Aku hanya ingin belajar dari ibu."
Sang ratu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan seulas senyum terukir di bibirnya.
"Bagaimana kabar pangeran Arshlan? Kau sudah bertukar kabar dengannya?"
Putri Estelle memonyongkan bibirnya.
"Emm ... sudah. Kan, dia yang mengabarkan kondisi ibu suri Paula."
"Ah, begitu rupanya. Jika dia menghubungimu lagi, sampaikan salam dari ibu padanya."
__ADS_1
"Iya, Bu." Itu juga bila dia menguhubungi lagi.
"Dia bilang, akan kembali ke mari dalam dua minggu lagi," lanjut sang putri.