Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Menyambut Kedatangan Pangeran


__ADS_3

Sang pangeran kembali ke Noirland menggunakan mobilnya. Karena ia menyimpan mobil kesayangannya di istana Raisilian dan kini ia bisa menaikinya.


Dengan kemampuannya, ia bisa mengalirkan tenaga dalam ke mobilnya hingga ia bisa sampai di Noirland lebih cepat sama seperti ketika pergi menggunakan pesawat.


Sementara pangeran Arshlan hampir sampai di istana Noirland, ada seseorang di istana itu yang sangat resah menunggu kepulangannya.


Dia berulang kali mengecek telpon, barangkali ada kabar dari bandara istana Noirland.


"Kenapa pesawatnya sama sekali belum mendarat?" gumamnya sambil menggigiti kuku di jari kanannya.


Ia berjalan mondar-mandir sambil sesekali menengok ke arah ponsel yang ia geletakkan di atas nakas.


"Tok tok tok." Terdengar ketukan pintu yang membuatnya bergegas menoleh.


"Siapa?" sahutnya antusias.


"Ini hamba, Tuan Putri."


"Oh, dayang. Ada apa?" tanya putri Estelle sambil menyembunyikan kekhawatirannya. Ia tak ingin terlihat sedang menunggu kedatangan seseorang.


"Penjaga gerbang utama mengabarkan kedatangan pangeran Arshlan ke istana. Tuan putri bisa menyambutnya nanti." Dayang itu membungkuk saat memberitahukan informasinya.


"Emmm ... aku? Apa aku harus menyambutnya? Cih, tidak perlu serepot itu menyambut pangeran Arshlan." Putri Estelle jelas berpura-pura.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu hamba permisi."


"Hmmm ... pergilah!"


Dayang itu pun berjalan mundur sebelum berbalik meninggalkan putri Estelle.


Ia pun melihat pintu kamarnya tertutup kembali. Setelah memastikan tak ada orang lagi, sang putri segera berlari menuju ke kaca riasnya. Ia pun menyisir rambutnya agar lebih rapi.


Puk puk puk. Sedikit tambahan bedak, agar terlihat lebih flawless.


Pak pak pak. Ia tekan-tekan kedua belahan bibirnya untuk meratakan lip cream berwarna nude kesukaannya.


Tak lupa tambahan sedikit blush pada pipi mulusnya dan beberapa shimer untuk highlight yang sempat memudar.


Kemudian yang terakhir ia semprotkan kembali parfum di sekujur tubuhnya.


"Sebentar!" Ia kembali ke depan cermin tersebut. Mengambil sebuah botol lip cream berwarna red cherry yang jarang ia gunakan.


Ia membuka botol itu dan menyapukan seulas ke tengah bibirnya.


"Aah, begini terlihat lebih manis." Sang putri memuji penampilannya sendiri.


Putri keluar dari kamarnya, para dayang mengikuti dirinya seperti biasanya.

__ADS_1


"Putri, kau terlihat lebih cerah dibandingkan tadi pagi. Apa tuan putri menambahkan riasanmu?" tanya seorang dayang.


Putri Estelle mengerjap-ngerjapkan matanya lalu menggeleng kepala. "Ah tidak, aku tidak menambahkan apa-apa," elak sang putri.


Para dayang hanya saling melempar senyum satu sama lain sambil melirik. Namun tak ada satu pun yang berani menyangkal perkataan tuan putri mereka. Padahal sudah jelas jika putri Estelle terlihat sangat berbeda hari ini.


"Tuan putri, akan ke mana sekarang?" tanya salah satu dayang yang akan mengikutinya.


"Ke halaman depan istana," jawabnya santai.


"Ouuuh, kita akan menyambut kedatangan pangeran Arshlan?" tanya sang dayang lagi.


"Apa? Ti-tidak. Kita hanya akan berjalan-jalan di depan saja."


"Ooouh begitu. Tapi ... pangeran Arshlan tentunya akan melewati halaman depan istana, kenapa tidak sekalian menyambutnya."


"Emm ... benar juga ... kita menyambutnya sekalian saja ya. Iya, sekalian saja ya."


"Iya, Tuan Putri."


Sang dayang di belakang tersenyum sambil saling berbisik satu sama lain.


"Tuan putri masih malu-malu ...."

__ADS_1


"Iya, kenapa tidak mengaku saja jika memang ingin menyambut pangeran ...."


"Sudah, seperti tidak pernah jatuh cinta saja ...."


__ADS_2