Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Pondok Tepi Pantai


__ADS_3

"Kukira kau akan langsung pergi Yorksland. Untuk apa kau ikut mampir di Noirland," sinis ratu Maria begitu ia turun dari pesawat dan mendapati anaknya sudah ada di bandara menunggu mereka.


"Aku menjemput kekasihku. Terlalu lama bersama wanita tua yang cerewet tidak baik untuk kesehatannya. Dokter mengatakan, dia harus merasa tenang, aman dan nyaman sepanjang waktu," jawab pangeran Arshlan seraya mengulurkan tangan kepada putri Estelle.


Sang putri menyambut uluran tangan itu. Ia terlihat malu-malu karena hal itu dilihat oleh calon mertuanya secara langsung.


"Ibu .... Ada banyak pengawal yang akan membawamu ke istana Noirland. Aku akan berjalan-jalan bersama kekasihku."


"Hey, kau mau bawa dia ke mana? Putri harus beristirahat."


"Dia kuat, tidak seperti wanita tua yang lemah."


"Aku tidak lemah ya, anak nakal. Bahkan aku masih bisa memenggal kepalamu sekarang juga."


Putri Estelle tertawa kecil melihat interaksi di hadapannya. Cukup aneh dan menggelikan, tapi juga sangat menghibur.


Tanpa banyak basa-basi, pangeran Arshlan pun menaiki motornya dan membawa sang putri.


"Kita akan ke mana?" tanya putri Estelle.


"Berisitirahat," jawab pangeran Arshlan sekenanya.


"Ke istana?"


"Bukan."


Sang putri tak bertanya lagi, hingga mereka tiba di sebuah tempat yang tak asing namun ia sedikit lupa dengan tempat itu.


PANTAI AMBROGIO

__ADS_1


Sebuah papan kecil tertancap pada pohon yang berada di sisi jalan. Betapa terkejutnya sang putri jika di balik hutan yang mereka lewati terdapat sebuah pantai yang sangat indah.


Hari sudah cukup gelap, deburan air yang menabrak sisi pantai menghasilkan suara yang menyegarkan telinga.


Pangeran Arshlan memarkirkan motornya si sebuah pondok kecil yang sangat familiar bagi putri Estelle.


Sang putri tersenyum saat melihat pondok penginapan itu.


"Kau ingat tempat ini?" tanya pangeran Arshlan.


Sang putri tersenyum mengangguk.


"Aku sempat lupa, karena kita datang di malam hari," jawab sang putri.


"Kukira kau sudah lupa." Pangeran Arshlan melepas helm dan sarung tangannya. Ia juga membantu putri Estelle melepas helm yang dikenakan.


Putri hanya bisa merona tanpa menjawab apa-apa.


"Kau mau bermain di sana?" Pangeran Arshlan menunjuk ke arah pantai.


Putri Estelle menggeleng. "Airnya dingin. Aku tidak membawa baju ganti."


"Baiklah." Pangeran Arshlan berjalan masuk ke dalam pondok tersebut.


"Ke mana?" tanya sang putri seraya mengekor. Ia sedikit terkejut ternyata pondok itu merupakan sebuah kamar tidur dengan satu ranjang, televisi, meja rias, dan satu kamar tidur.


"Aku akan beristirahat di sini." Pangeran langsung menunjuk pada kasur yang ada.


"Apa kau telah mendapat izin? Siapa pengelola tempat ini?" tanya putri Estelle khawatir.

__ADS_1


"Tentu saja sudah. Aku sudah mempersiapkannya." Pangeran Arshlan menjawabnya dengan santai.


"Lalu aku?" Putri Estelle membelalakkan matanya.


"Terserah. Kau mau di sini bersamaku pun tak apa." Senyum jahil sang pangeran mulai terbit kembali.


Putri menganga tak percaya. "Kau menjebakku? Pulangkan aku sekarang!" pinta putri Estelle seraya mengerucutkan bibirnya.


Pangeran Arshlan berdiri dan berjalan mendekati putri Estelle.


"Apa yang akan kau lakukan?"


Sang pangeran tersenyum penuh arti. Ia membawa putri Estelle dan mendesaknya hingga ke bagian belakang pintu.


"Kalau begitu, silakan pulang sendiri, tuan putri." Pangeran Arshlan tersenyum.


"Kau sengaja, ya? Kau ingin meniduriku?" tuduh sang putri dengan tajam.


"Wow! Tentunya sangat ingin!" Sang pangeran sengaja mempermainkan putri yang ada di hadapannya.


"Dasar b*jingan!" Putri Estelle menginjak kaki pangeran Arshlan.


"Itu sama sekali tidak menyakitiku, sayang!" Pangeran Arshlan membelai pipi putri Estelle dalam jarak yang sangat dekat.


"Bagaimana? Kau mau pergi?"


Sang putri diam.


"Aku mencintaimu,"

__ADS_1


__ADS_2