
Raja Gerald memandangi email yang masuk dari tabletnya. Bergantian, sambil memandangi email tersebut, dia melihat ke arah wanita yang esok hari akan menjadi Ratu-nya itu. Eliana sedang menggendong bayi Kevin dan berjalan berkeliling di tengah taman yang telah selesai didekorasi.
Raja Gerald menggeleng-gelengkan kepalanya. “Pertemuan kita terasa sangat ajaib, Eliana ….” Sang Raja menggumam seraya memperhatikan kembali setiap tulisan yang ada pada badan email tersebut.
“Gerald,” panggil seorang wanita paruh baya mendekat padanya.
“Ibu …,” jawab sang raja.
Ibu suri Paula datang dan kemudian mengahampiri putranya. “Besok, Raisilian akan memiliki seorang Ratu. Besok pemimpin kerajaan ini akan ditangani oleh dua kepala. Sudah sejauh mana kau membimbing Eliana dalam hal tersebut?” Ibu suri menatap putranya itu dengan tatapan teduh seorang ibu.
“Tenang saja, Eliana sudah banyak belajar mengenai cara menghadapi masyarakat, rumah tangga istana dan banyak hal. Tinggal satu,” ucap Raja Gerald tertahan.
“Apa? Menurut ibu sudah cukup hal itu untuknya.” Ibu suri Paula mengedikkan kedua bahunya.
“Coba, ibunda baca ini,” pinta sang raja sambil membawa tabletnya. Dia membuka kembali halaman yang sebelumnhya ia baca, lalu ditunjukkan pada ibu suri Paula.
Dengan rasa penasaran, ibu suri Paula melihat ke layar tablet tersebut. “Ini dari Noirland?” Ibu suri bertanya untuk memastikan.
Raja Gerald menjawabnya dengan anggukkan kepala, lalu menggeser layar untuk dibaca oleh ibunya lebih lanjut.
__ADS_1
“Tes DNA yang waktu itu dibicarakan putri Estelle dan Ratu Allura,” ucap ibu suri membaca surat elektronik tersebut.
“Betul sekali, Bu. Eliana, adalah anak kandung dari putri Alana. Sepertinya, pesona paman Louis terlalu kuat hingga berhasil membawa putri Noirland kabur dari istananya,” ucap Gerald sambil tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Dan kamu lebih beruntung lagi, karena bisa menikahi cucu dari istana Noirland dan mengembalikannya lagi ke istananya.” Ibu suri Paula menimpali.
Raja Gerald tersenyum mengiyakan. “Aku akan mengundang keluarga istana dari Noirland ke mari,” ujar Raja Gerald.
“Itu harus!”
*
Bayi itu berteriak-teriak mengeluarkan suara riangnya diiringi tawa-tawa bahagia.
Tiba-tiba bibi Odeth mendekat pada mereka sambil membawa sesuatu. “Nona, ada panggilan video untuk Nona.” Bibi Odeth memberikan tablet untuk Eliana.
“Dari siapa?” Eliana pun menerima tablet itu dan langsung tersenyum begitu melihat wajah-wajah yang terpampang di layar tabletnya.
“Haaai …!” sapa dari seberang sana.
__ADS_1
“Putri Estelle? Yang Mulia Ratu? Ibu suri?” Eliana melambai-lambaikan tangannya pada ketiga orang yang ada di layar. “Apa Yang Mulia Ratu Allura sudah membaik?”
“Sangat baik!” Putri Estelle yang menjawab penuh semangat. “Selamat atas pernikahanmu. Kami akan datang besok, sepupuku!” ucap putri Estelle lagi.
“Terima kasih! Aku tunggu kedatangan kalian.” Eliana tersenyum bahagia, hingga ia menyadari ada satu kata yang diucapkan putri Estelle yang mengundang tanya. “Eh? Sepupu?” Eliana mengerutkan alisnya.
“Iya, Eliana do’aku terkabul. Kau adalah sepupuku,” jawab putri Estelle histeris hingga Ratu Alura dan ibu suri Noirland menutup telinga mereka berdua.
“Memangnya hasil tes DNA-nya sudah keluar?”
“Sudah! Bukankah pihak laboratorium diminta untuk langsung mengabarkan ke Noirland?” ujar putri Estelle.
“Mungkin Raja Gerald yang menerimanya dan belum sempat memberitahumu,” sambung ratu Alura.
“Cucuku ….” Ibu suri di sana berkaca-kaca, pada akhirnya mereka bertiga saling berpelukan dan terlihat sangat mengharukan di mata Eliana.
*
__ADS_1