
“Kalau begitu bagaimana jika Nona digotong dengan tandu atau naik kursi roda? Untuk memudahkan anda, Nona? Bagaimana?”
“Tidak! Tidak perlu, aku akan berjalan sendiri!” Eliana pun berdiri mencoba untuk menopang tubuhnya agar tidak terjatuh.
“Hati-hati, Nona!” Antony memegangi Eliana. Wanita itu tidak menolak dan menerima batuna dari Antony.
Eliana mulai menyesuaikan diri setelah berada di luar kamar. Ia berusaha menahan pusing di kepalanya walau sebenarnya ia merasa lebih baik tidur saja.
Antonya membantu Eliana berjalan menuju lift istana untuk menuju ke bawah.
Selama dalam lift, Eliana menyandarkan punggungnya pada dinding lift, hingga lift terbuka karena mereka telah tiba di lantai dasar. Hati Eliana semakin berdebar dan keringat dingin mulai bermunculan di dahi dan telapak tangannya.
Harus bagaimana aku ini? Aku harus bisa mengendalikan rasa gugupku.
Batin Eliana memperkuat dirinya sendiri. Dia merasa jika dirinya memang harus merelakan jika Yang Mulia Raja memiliki wanita lain yang mungkin lebih baik darinya.
Tubuh Eliana merasa seperti melayang-layang. Kulitnya menjadi dingin dan basah oleh keringat. Jantungnya tersa agak sakit karena berdegup terlalu kencang.
“Aduh,” keluh Eliana ketika mulai berjalan di luar lift. Tubuhnya limbung ke sana ke mari yang membuat Antony menjadi khawatir.
__ADS_1
“Nona, anda baik-baik saja?” Antony menangkap tubuh Eliana yang hampir terjatuh ke lantai.
Antony melihat keringat yang bermunculan pada dahi Eliana, lalu ia menyeka keringat itu dengan menggunakan sapu tangan miliknya. “Pengawal!” teriak Antony pada pengawal yang berjaga di lantai dasar.
Eliana masih sadarkan diri, tapi tubuhnya terlalu lemas untuk berdiri.
“Ada apa, Tuan?” tanya salah seorang pengawal yang menghampirinya.
“Tolong bawa kursi roda untuk Nona!” titah Antony yang membuat pengawal langsung berlari dan mencari kursi roda.
“Ini, Tuan!” Tanpa perlu Eliana dan Antony menunggu lama, apa yang mereka butuhkan kini ada di depan mata.
“Terima kasih,” jawab Eliana dengan lirih.
Antony pun langsung mendorong Eliana ke taman yang berada di samping istana. Taman yang dapat dilihat oleh Eliana dari atas kamarnya.
“Eliana? Kamu baik-baik saja?” Yang Mulia Raja menghampiri Eliana dengan sedikit berlari. Ia agak terkejut melihat Eliana yang didorong dengan kursi roda.
Eliana mengangguk pelan tanpa menjawab Yang Mulia Raja dengan suara.
__ADS_1
Raja Gerald merasa biasa saja, mungkin Eliana seperti itu karena sedang sakit. Dua hari tidak bertemu dengan Eliana membuat Sang Raja tak tau bagaimana perkembangan terbaru kondisi Eliana.
“Eliana, ke marilah! Kau pasti akan suka dengan ini.” Sang Raja mengambil kursi roda Eliana dan mendorongnya pelan-pelan.
Eliana memutar bola matanya dengan malas. Apa ia pikir aku akan suka dengan selingkuhannya? Yang benar saja!I
Gerutu Eliana dalam hati. Ia melihat wanita yang menurutnya adalah selingkuhan sang Raja berjalan mendekat ke arahnya lalu membungkuk memberi salam.
“Hormat hamba untuk calon Ratu Raisilian,” ujar wanita itu.
Eliana tak membalas ia diam saja.
“Ah, dia sedang sakit, maaf jika dia tak banyak bicara,” jawab sang Raja mewakili Eliana.
Kenapa dia yang meminta maaf. Sebegitunya sampai dia tak ingin wanita itu sakit hati.
Eliana lagi-lagi merasa kesal namun hanya dalam hati.
“Baiklah, tak apa! Nona, perkenalkan nama saya Shui, saya adalah ….”
__ADS_1