
Dengan berhati-hati, Putri Estelle berjalan menyusuri lorong istana. Ia melewati kamar Eliana, kamar yang ia ketahui sebagai milik calon istri Sang Raja.
Ingin ia mengetuk kamar itu, namun apa tujuannya? Ia tak punya alasan untuk menemui orang yang ada dalam kamar tersebut.
Ia pun kembali pada tujuan utamanya, yaitu bertemu salah satu dari Raja Gerald atau ibu suri. Ada hal penting yang ingin ia bicarakan.
Berbincang dengan sang ibu dari Noirland tadi, membuat putri Estelle merasa semakin geram pada ayahanda yang selalu bersikap tak adil.
Kini dengan bulat ia bertekad, untuk memenuhi permintaan ibunya. Yaitu menghentikan niat buruk ayahnya dan juga saudara tirinya untuk menghancurkan Raisilian.
Meski putri Estelle menyadari, jika dirinya sangat payah dalam menyusun rencana. Apalagi gerak-gerik putri Estelle yang sangat lamban dan mudah terbaca dibanding putri Emilda yang memang sudah terbiasa tinggal di luar istana.
Ia tidak bisa jika ia bergerak sendiri mengalahkan ayahnya. Maka dari itu, sebisa mungkin dirinya yang akan meminta agar orang-orang Raisilian memperkuat pertahanannya.
Semuanya tidak akan mudah, ia tahu jika Raja Gerald pasti akan anti mendengar pendapatnya. Bahkan sejak awal kedatangannya, Raja Gerald menunjukkan rasa tidak suka pada putri Estelle. Maka dari itu, sebagai langkah pertama dalam rencananya, Putri Estelle harus berbicara pada sang ibu suri.
"Hai penjaga," sapa sang putri pada para penjaga di kamar Yang Mulia Ibu suri.
__ADS_1
"Hormat kami tuan Putri," jawab para penjaga bersamaan.
"Bisakah aku bertemu Yang Mulia Ibu Suri?" tanya Putri Estelle.
"Akan kami panggilkan," jawab salah seorang penjaga.
Tok tok tok
"Yang Mulia Tuan Putri Estelle dari Noirland ingin bertemu dengan Yang Mulia ibu suri."
"Silakan, Tuan Putri!" Penjaga itu membukakan pintu.
Putri Estelle masuk pada ruangan pribadi ibu suri Paula. Ia memasuki sebuah ruangan yang dibatasi oleh pintu geser. Dalam ruangan tersebut terdapat beberapa lemari yang berisi hiasan-hiasan khas Raisilian.
Seorang dayang menyambut putri Estelle dari balik pintu geser yang dibukanya.
Tampaklah sebuah ranjang yang dihiasi dengan kain-kain panjang berwarna putih dan kuning muda yang melilit di antara tiang-tiangnya. Di atasnya, seorang wanita paruh baya dengan gaun sangat elegan sedang duduk dan tersenyum pada kedatangan Putri Estelle.
__ADS_1
"Hormat hamba, Yang Mulia ibu suri!" Putri Estelle membungkukkan badannya memberikan penghormatan.
"Ada apa tuan Putri ke mari? Apa ada hal penting yang ingin tuan putri bicarakan?" tanya ibu suri. "Duduklah di sini!" ujarnya kemudian sambil menepuk-nepuk sisi ranjang di sebelahnya.
Putri Estelle langsung mendaratkan tubuhnya di samping Ibu suri. "Begini Ibu Suri," ucap Putri Estelle mengawali pembicaraannya.
"Iya, ada apa?"
"Saya meminta maaf atas insiden saku celana berlubang milik sang Raja yang merupakan hadiah dari hamba," ujarnya penuh penyesalan.
"Kami sudah sama sekali tidak memikirkannya Tuan Putri. Tak perlu merasa terbebani," respon ibu yang menenangkan hati putri Estelle dari rasa bersalah.
"Ibu suri, karena saku celana yang berlubang itulah, Yang Mulia Raja kehilangan kalung berharganya. Itulah yang membuat hamba semakin dihantui rasa bersalah," lanjut putri Estelle.
"Kau memang anak baik, Putri. Tak perlu merasa seperti itu," balas ibu suri.
"Tapi ... Yang Mulia, kejadian saku celana berlubang dan hilangnya liontin milik Yang Mulia Raja itu ... adalah ... memang, disengaja!"
__ADS_1