Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Benda Berbahaya


__ADS_3

"Borgol itu bukan penjahat, tapi untuk dirinya."


"Maksudnya? Sebenarnya aku juga tidak tahu, benda apa ini?" tunjuknya pada benda berwarna merah muda di tangannya.


Sang pangeran tersenyum melihat kepolosan wanita di hadapannya.


"Lebih baik kau cari tahu saja. Kurasa ponsel sudah cukup mendukung fitur lens untuk mencari tahu." Sang pangeran menunjuk pada benda pipih yang dibawa oleh tuan putri di tangan satunya lagi.


"Kau benar!" Putri Estelle melihat ponselnya.


Ketika pangeran Arshlan sibuk mencari petunjuk lain, putri Estelle sibuk membuka ponsel dan mencari tau benda yang ada di tangannya.


Sang pangeran mencari tahu barangkali ada petunjuk mengenai energi hitam di tubuh ratu Allura.


"Pangeran Arshlan!" jerit putri Estelle dengan wajah memerah.


Sang pangeran yang sedang memeriksa kasur langsung menoleh dan mendapati wajah putri Estelle yang memerah.


"Ada apa?" Sang pangeran menghampiri ke arah putri Estelle yang sedang cemberut. Terlihat sang putri melempar ponselnya hingga jatuh ke atas ranjang.


Karena penasaran pangeran pun hendak mengambil ponsel sang putri dan ingin melihat apa yang telah putri lihat hingga membuatnya kesal seperti itu.

__ADS_1


"Jangan lihat!" larang sang putri sambil merebut lagi ponselnya.


"Memang kenapa? Apa yang membuatmu marah-marah begitu?" Pangeran Arshlan penasaran dibuatnya. "Apa kau melihat nama benda itu dan jiga fungsinya di internet?" tunjuk pangeran pada benda merah muda di genggaman sang putri yang sebelahnya lagi.


"Jadi ... kamu sudah tau?" kesal sang putri dan wajahnya juga sangat memerah.


Pangeran tertegun sejenak melihat wajah putri Estelle yang merah matang bak kepiting rebus. Namun beberapa detik kemudian, pangeran Arshlan pun tertawa terbahak-bahak. "HAHA HAHA HAHA."


Putri Estelle semakin kembang kempis, dadanya naik turun menahan malu yang teramat sangat.


"Dasar pangeran mes*um! Aku benci kamu, pangeran Arshlan cab*ul!" Putri Estelle memukul-mukul pangeran Arshlan menggunakan benda panjang di tangannya.


"Sakit, kan? Sakit, kan? Hah? Aku kesal sama kamu!" Putri Estelle terus memukuli sang pangeran.


"Aw! Aw! Iya, enak!"


"Apa?"


"Eh sakit!"


"Dasar mes*um!"

__ADS_1


"Berhenti." Sang pangeran memegangi tangan putri Estelle yang memukuli dirinya menggunakan benda panjang dari laci selir Sofi itu. "Kenapa kau memukulku memakai benda ini? Kau sudah tahu, kan, ini benda apa?" Pangeran berkata dengan nada rendah dan suara berat untuk menggoda sang putri.


Putri meronta karena tangannya dicekal dengan erat oleh pangeran Arshlan, namun ia tak berhasil melepaskan diri.


"Kalau kau sudah tau, kenapa benda tidak kau lepas dan malah kau genggam terus? Dipakai memukul padaku pula. Apa kau mau kita bermain dengan benda ini?" Dengan mata nakal sang pangeran mengerling pada putri Estelle.


"Iish dasar mes*um!" teriak sang putri.


"Tak apalah, aku berlaku mes*um padamu. Kau, kan, calon istriku?" Pangeran Arshlan semakin menggoda.


"Ayo kita nyalakan lagi, aku akan bantu kamu memasang benda ini di tempat yang seharusnya," ujar sang pangeran lagi.


"Diam! Kamu tidak akan bisa menyentuhku! Kita tidak akan menikah!"


"Jangan mengelak, rasanya tidak sakit, buktinya ayahmu dan selir itu sering menggunakannya."


"Aku tidak akan seperti mereka!" elak putri Estelle dengan wajah kesal.


"Yah, sayang sekali. Kau mau aku mencobanya pelan-pelan? Ke marilah, buka gaunmu!"


BUG!

__ADS_1


__ADS_2