Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Berjanjilah!


__ADS_3

“Maaf menginterupsi pembicaraan kalian berdua. Selamat malam, calon ibu mertua.” Seseorang menghampiri mereka berdua di balkon, sambil membawa sehelai kain tenun yang cukup lebar dan menyelimutkannya pada ratu Allura.


“Ah, ternyata kau … Arshlan. Akhirnya kau datang juga,” timpal sang ratu.


Putri Estelle melihat reaksi ibunya terhadap kedatangan pangeran Arshlan. “Apa ibu memang sudah membuat janji untuk bertemu dengan dia?” tanya sang putri dengan agak sinis.


“Hmmmm,” jawab ratu Allura dengan arti yang ambigu.


“Heeeuh ….” Sang putri mengeluarkan senyumnya seakan menertawakan dirinya sendiri.


“Aku ke dalam lebih dulu,” pamit sang putri yang seakan menghindar dari pangeran Arshlan.


“Apa begini caramu menyambut calon suami?” tegur  ratu Allura yang bertanya dengan tegas.


Sang putri menghentikan langkahnya, lalu ia merasakan seseorang memegang kedua bahunya dari belakang.

__ADS_1


“Yang Mulia Ratu, calon istri hamba pasti sedang kelelahan. Biarkan dia masuk dan beristirahat saja.” Sang pangeran membuka jaketnya dan menyelimutkannya pada putri Estelle.


“Lagipula tujuan hamba datang ke mari adalah hanya untuk berbicara dengan anda Yang Mulia calon ibu mertua. Jadi sekarang kau boleh masuk sayang …,” ucap pangeran Arshlan sambil meletakkan dagunya di bahu sang putri.


Putri Estelle merasakan sesuatu yang terselimutkan ke punggungnya sungguh terasa menghangatkan. Dia meraih setiap ujung jaket itu dan mengeratkan pada tubuhnya. Tanpa bersuara dan tanpa permisi lagi, sang putri langsung berjalan dan pergi meninggalkan ibunya dan pangeran Arshlan.


Entah debaran apa yang berani menggoyahkan jantungnya, sang putri berjalan menjauh seakan kakinya tak menapaki tanah. Pangeran Arshlan berhasil menabuh genderang dalam hati putri Estelle hingga sang putri merasakan guncangan pada perasaannya.


Pangeran Arshlan tersenyum melihat putri Estelle menjauh. Meski sejauh ini dirinya mengaku hanya memainkan perasaan sang putri dan menikahi putri Noirland hanya untuk kepentingan politik saja. Dalih yang ia ucapkan adalah, dia hanya membutuhkan ratu yang tidak akan pernah jatuh cinta padanya. Namun pada kenyataannya, setiap pertemuan mereka, pangeran Arshlan seakan ingin menaklukan putri Estelle agar jatuh dalam pelukannya.


“Ada sesuatu yang mendesak dan ingin hamba bicarakan dengan anda, Yang Mulia Ratu, Bukankah Yang Mulia Ratu juga berkata jika ada perlu dengan hamba?” jawab pangeran Arshlan yang juga tanpa basa-basi.


Ratu Allura tersenyum tipis. “Ada apa?” tanya sang ratu.


“Ini terkait pernikahanku dengan sang putri.”

__ADS_1


Deg


Ratu Allura tiba-tiba teringat keinginan putrinya yang ingin mengakhiri perjodohan mereka. “Pangeran.” Ratu Allura mencoba menjeda ucapan sang pangeran sebelum ia melanjutkannya. Ia berinisiatif untuk mengungkapkan hal yang ia ingin ucapkan saja terlebih dahulu.


“Aku memiliki riwayat penyakit yang semakin hari semakin parah. Lalu ibu suri juga sudah semakin tua dan ingin segera melihat cucunya untuk menikah, jika pembicaraan kita adalah mengenai pembatalan perjodohan, tolong jangan lakukan itu. Kasihanilah kami para orang tua yang sudah berharap banyak pada pernikahan kalian berdua!” lanjut ratu Allura.


Sang pangeran menatap lurus pada punggung calon ibu mertuanya yang terselimuti oleh kain tenun pemberiannya.


“Aku senang mendengar dirimu ingin mempersunting putriku. Aku harap, dirimu tidak meluaki perasaannya.” Sang ratu berbalik menghadap sang pangeran.


Tangannya ia ulurkan ke depan, lalu ia acungkan kipas hitam yang selalu ia bawa ke arah dada pangeran Arshlan. “Berjanjilah padaku, kau tidak akan mengkhianati putriku dan membawa perempuan lain dalam kisah kalian!”


 


 

__ADS_1


__ADS_2