
"Ya-Yang Mulia Ratu Allura." Pangeran Arshlan tergagap mendapati Ratu Allura di hadapannya.
Lebih terkejutnya lagi, ternyata yang ada di hadapannya ini adalah energi roh dari Yang Mulia Ratu. Dalam artian, karena tubuh seseorang telah dipenuhi oleh energi lain, sehingga energi roh nya terpaksa pergi dari tubuhnya.
Jika seseorang telah sampai pada tahap seperti ini, itu artinya usianya tidak akan lama lagi. Sebuah tubuh yang tidak didiami energi roh nya, maka detak jantungnya akan berhenti setelah beberapa hari energi rohnya pergi.
"I-ini ...," ujar sang pangeran sambil menggeleng frustasi.
Ia tak percaya secepat ini akan kehilangan ratu Allura. Pangeran Arshlan tiba-tiba menangis terisak, di depan energi roh sang ratu yang mengamatinya.
"Yang Mulia Ratu ... ah, tidak ... ibunda maksudku. Ibunda Ratu Allura ... maafkan aku," lirihnya penuh penyesalan. Ia bersimpuh di tengah pintu dan meluruhkan tangisannya.
Energi roh sang ratu mendekatinya, mengusap perlahan pucuk kepala pangeran Arshlan. "Ternyata, di istana ini, ada dirimu yang bisa melihatku dan aku bisa menyentuhmu. Semua orang yang ada di istana ini, tak bisa kusentuh, bahkan tubuhku sendiri."
__ADS_1
Sang pangeran mendongakkan kepalanya, melihat senyum ibunda ratu Allura yang begitu bersinar.
"Ibunda Ratu ...." Pangeran Arshlan sangat sedih jika kehilangan ratu Allura, meski bukan ibu kandungnya.
"Apa ini artinya ...?" tanya sang pangeran menerka-nerka.
Ratu Allura pun mengangguk, ia seakan mengerti maksud dari sang pangeran. "Kau benar, Ananda. Waktu tidak lama. Energi hitam itu, rasanya menggerogoti seluruh tubuhku. Barusan aku merasakan jika energi itu menendang ke arah jantungku, aku tidak ingat apa-apa lagi, dan tiba-tiba aku bisa mendengar banyak suara meski suara dari jauh sekalipun." Ratu Allura tersenyum getir.
"Sekarang tubuh itu kosong, tapi aku tak bisa masuk ke dalamnya lagi. Sepertinya ... aku akan mati sebentar lagi," ujar sang ratu bersedih.
Pangeran Arshlan menggelengkan kepala. Baginya, ratu Allura adalah seorang ibu kedua. Di saat ibunya sedang pergi karena ada kudeta, pangeran Arshlan datang ke Raisilian, di sanalah pertemuan pertamanya bersama ratu Allura.
Sang ratu begitu baik. Meski mereka telah kembali ke Noirland dan sang pangeran masih di Raisilian, mereka tetap bertukar kabar.
__ADS_1
Ketika sang pangeran murka karena kebohongan raja Jeremy tentang pertunangannya, ratu Allura lah orang yang mendinginkannya. Baginya, ratu Allura adalah sosok ibunya yang ada di kerajaan lain.
"Hamba ... tidak bisa menolong anda, Ibunda Ratu. Tuhan sudah berkehendak, Dewa telah mulai bekerja. Sepertinya waktu ibunda memang tidak lama lagi. Hamba mohon maaf." Sang pangeran bersimpuh menggenggam tangan sang ratu.
"Ini bukan salahmu, Ananda. Bukan salahmu. Bangunlah! Aku senang dengan kehendak Tuhan, bahkan aku berharap, Dewa mempercepat tugasnya. Ini sama sekali bukan salahmu, kau mengerti?" Sang ratu mengusap air mata di pipi pangeran Arshlan.
"Seandainya, aku bisa berbicara dan menyentuh putriku," ujar sang ratu.
Pangeran Arshlan terperangah, ia terpikirkan suatu cara. "Hamba bisa membuatnya melihat anda untuk sementara waktu, Yang Mulia Ratu," ujarnya. "Hamba akan mengalirkan energi dengan gelombang yang satu frekuensi dengan gelombang Yang Mulia Ratu saat ini. Ketika itu terjadi, putri Estelle pasti bisa melihat anda seperti sekarang ini."
"Benarkah? Tapi ... jangan sampai putri tahu kondisiku yang sebenarnya. Biarlah dia memenuhi keinginannya untuk berangkat ke Raisilian."
"Baik, Yang Mulia Ratu."
__ADS_1