
Dari kejauhan, sang putri menatap kebersamaan ibunya bersama pangeran Arshlan.
"Apa lagi yang kau bicarakan dengan ibuku, Pangeran?" gumam sang putri dari tempatnya dengan mata yang tak terlepas dari interaksi ibu dan calon suaminya itu.
"Aku akan mengikuti segalanya sesuai rencanamu! Aku tau, kau sedang bersandiwara."
Sang putri pun pergi dan meninggalkan tempat itu.
*
Sore pun menjelang, ratu Allura sudah menyiapkan banyak perlengkapannya karena ia hendak melakukan perjalanan malam.
Sementara itu, putri Estelle kembali diminta oleh neneknya untuk mengantarkan ramuan pada sang pangeran di kamarnya.
Tok tok tok
Seharian ini, sang putri sama sekali belum bertemu dengan pangeran secara langsung selain ketika ia sarapan pagi tadi. Karena ketika waktu makan siang, anggota kerajaan selalu melakukannya masing-masing di tempat mereka beraktivitias.
"Masuk!" Suara maskulin dari dalam kamar terdengar.
Penjaga kamar pangeran Arshlan pun membukakan pintu.
"Kalian tunggu di sini!" ujar sang putri pada para dayang.
Putri Estelle masuk dan melihat ke dalam. Tidak ada seorang pun.
"Pangeran Arshlan?" panggil tuan putri lagi.
__ADS_1
Suara pintu yang digeser pun terbuka.
"Pangeran?"
Putri Estelle mengerjap-ngerjapkan matanya. Lalu ia berpaling membuang pandangannya.
"Kau mengantarkan ramuan untukku lagi?" Sang pangeran menyambar handuk dan mengelap keringat yang bercucuran di sekujur tubuhnya.
Tubuhnya penuh dengan peluh, sang pangeran tidak mengenakan kaosnya hingga memperlihatkan dada dan perut atletisnya.
"Emm," jawab singkat putri Estelle.
Sluuuurp
Sang pangeran langsung menyeruput ramuan yang dibawa putri Estelle dan menenggak habis.
Sang pangeran menyimpan cangkir itu kembali di atas nampan yang masih di bawa sang putri.
Cup
Sembari melewati putri Estelle, sang pangeran mengecup pelipis sang putri dari samping.
Tangan putri cantik itu bergetar, beruntung saja ia tidak menjatuhkan nampan dan cangkir yang ia bawa.
Pangeran Arshlan ...! Berani-beraninya kamu!
Sang putri menggerutu dalam hatinya lagi.
__ADS_1
Lihat saja, aku akan mengikuti sejauh mana permainanmu!
Brak
Putri Estelle meletakkan nampan yang ia bawa ke atas nakas.
Tap tap tap
Putri Estelle mengikuti sang pangeran yang berjalan lagi ke balkon kamarnya. Terlihat sang pangeran sedang mengangkat bola besi di sebelah tangannya.
"Kau sedang berlatih?" tanya putri Estelle menatap sang pangeran.
Ia mencoba membiasakan diri dengan pemandangan di hadapannya. Yakni, pangeran Arshlan mode shirtless.
"Hmmm," jawab sang pangeran tanpa menatap pada putri Estelle. Ia fokus pada bola besi di tangan yang sedang ia angkat.
"Bukankah dokter melarangmu menggunakan energimu lagi?" tanya sang putri sambil jalan mendekat pada pangeran Arshlan.
"Yang dilarang itu, menggunakan energi tenaga dalam. Sementara untuk mengangkat ini, aku sama sekali tidak menggunakan tenaga!" ujar sang pangeran menyombong.
"Ngomong-ngomong ...." Ia pun meletakkan bola besi di tangannya lalu berdiri mendekat pada sang putri. "Kau khawatir padaku?" Sang pangeran tersenyum meledek.
Putri Estelle mundur beberapa langkah. "Menyesal aku sudah bertanya."
Pangeran Arshlan tersenyum melihat wajah judes sang putri yang kembali lagi.
Putri Estelle terus membuang pandangannya, ia tak ingin menatap dada dan perut pangeran Arshlan yang penuh dengan peluh menghiasi otot-otot yang menonjol di sana. Belum lagi otot bisep dan trisep yang berbalapan untuk menonjol di bagian lengan atas. Mungkin ... ini adalah definisi sexy untuk wujud seorang pangeran.
__ADS_1
"Kau menjauh, memalingkan muka, tapi matamu melirik terus ke arahku? Kenapa? Kau suka dengan ini?"