
"Da-dari mana Yang Mulia tahu?" Eliana merasa terkejut karena Yang Mulia Raja tiba-tiba tahu keinginannya, yakni ingin mengirim uang untuk ibu dan saudara tirinya.
"Emmm ... aku ... membaca surat itu," jawab sang Raja dengan sebenarnya.
Eliana mengernyit. Dalam benaknya berpikir, kapan sang Raja membacanya?
"Surat itu, sebelum sampai kepadamu, aku lah yang membacanya terlebih dahulu," jelas Raja Gerald.
"Ooou ..., tapi ... surat itu tidak terlihat seperti bekas terbuka?" Eliana merasa heran.
Raja Gerald tersenyum miring. "Kau tak perlu tau!"
Meski tak terjawab rasa ingin tahunya, namun Eliana tak berusaha bertanya-tanya lagi.
"Biar nanti beberapa kurir dari istana kerajaan yang mengantar untuk mereka."
"Te-terima kasih, Yang Mulia."
*
"Sayang, apa kau baik-baik saja di sana?" Seorang wanita paruh baya berbicara dalam layar video call sebuah tablet.
__ADS_1
"Aku baik, Bu. Ada apa?" Putri Estelle sedang mengobrol dengan ibunya melalui tabler tersebut.
"Sebaiknya, kau pulang saja, Nak," rayu sang ibunda.
"Aku ... aku ... tidak bisa pulang sekarang, Bu," jawab Sang Putri.
"Kenapa? Ada urusan apa lagi? Apa itu ada kaitannya dengan Putri Emilda?" Tanya Ratu dari Noirland itu dengan hati-hati.
Dengan perlahan, putri Estelle mengangguk.
"Sayang, sebaiknya kau pulang saja. Menuruti rencana putri Emilda, tidak pernah berhasil dengan baik untukmu. Benar, kan? Pada akhirnya kau selalu difitnah dan menjadi kambing hitamnya, iya, 'kan?" tanya sang Ratu.
"Ibu kesepian sendiri di istana ini. Ayahmu hanya sering bersama selirnya, ibu selalu sendiri di sini." Ratu dari Noirland itu memelas di hadapan anaknya.
"Tapi aku harus membantu putri Emilda. Demi keberhasilan rencana untuk kerajaan kita, Bu," jawab Putri Estelle memberi alasan.
"Sayang, rencana untuk memajukan kerajaan itu baik. Tapi, jika kita sambil menjatuhkan orang lain, itu sama sekali tidak baik, sayang," terang sang Ratu. "Apa kau ingin kita berbahagia di atas penderitaan orang lain?" tanya ibunda Putri Estelle lagi.
Sebenarnya, Putri Estelle adalah anak yang baik. Namun semenjak datangnya Putri Emilda bersama ibunya ke istana, gadis itu merasa tersisihkan. Sehingga dia selalu berusaha merebut hati ayahnya dengan segala cara. Termasuk mengikuti rencana busuk mereka.
"Jangan jadi penjahat, Nak," terang Ratu dari seberang sana.
__ADS_1
Putri Estelle berkaca-kaca. Ia ingat dengan kedua pengawal yang dijebloskan ke penjara karena kegagalan misinya. Lalu pengawal itu malah dibunuh oleh Putri Emilda. Itu adalah hal yang sangat traumatik bagi Putri Estelle.
Padahal, betapa baiknya kerajaan Raisilian pada dirinya. Sedikit pun, tak pernah ada orang Raisilian yang mencurigainya. Namun Ia malah memilih mengkhianati kepercayaan itu.
"Bu ... aku ...," ucap Putri Estelle terpotong karena sebuah panggilan lain masuk.
"Ibu, kita sudahi dulu, ya! Ada telepon dari ayahanda untukku," ujar Putri Estelle langsung memutuskan sambungan dengan ibunya.
"Hai, ayah!" sapa Putri Estelle.
"Putri Estelle, apa maksudmu memberi hadiah berupa baju dengan saku yang bolong pada Raja Raisilian?" bentak Raja Noirland itu langsung tanpa basa-basi.
"Ti-tidak, ayah! Itu semua adalah-"
"Ah, sudahlah! Kau memang selalu ingin menggagalkan rencana saudaramu, 'kan? Sengaja kau mengirimkan baju itu untuk menjatuhkan nama Noirland, lalu Raja Raisilian itu mencurigai kami semua, termasuk Putri Emilda yang sedang menjalankan misi. Iya, kan?"
Putri menggenggam tangannya erat menunjukkan kegeraman. "Aku mengirim baju itu, karena perintah Putri Emilda, ayah!" geram putri Estelle yang langsung mematikan tablet dan membantingnya.
Trak
Tablet itu membentur dinding. Putri Estelle pun berkata, "Lagipula, kenapa kabar burung ini jadi sampai ke Noirland? Apa Yang Mulia ibu suri atau sang Raja yang memberi tahu tentang ini semua pada ayah?"
__ADS_1