
Sembari menunggu kedatangan dayang memanggil dokter Arabelle, ibu suri Paula menimang bayi Kevin yang terlihat sangat senang berada di pangkuan neneknya.
“Ibu, apakah Yang Mulia Raja akan pulang hari ini?” tanya Eliana pada calon mertuanya.
Ibu suri Paula tersenyum mendengar pertanyaan Eliana. Semakin hari hubungan calon mertua dan calon menantu ini semakin dekat saja.
“Apa kau merindukannya?” Senyum ibu suri terbit saat bertanya balik pada Eliana. Mungkin wanita paruh baya itu berniat menggoda calon menantunya.
Semburat pipi Eliana seketika memerah. Senyum malu-malu menjadi jawaban dari Eliana pada ibu suri.
“Sa … saya …,” tukas Eliana dengan gugup. “Saya hanya takut masalah kalung itu akan mempersulit Yang Mulia Raja.” Eliana memberikan alibi. Meski jawaban darinya ada benarnya, namun tak dapat dipungkiri jika dirinya merindukan sang Raja seperti kata ibu suri.
Sehari saja tak bertemu dengan pria itu, rasanya aneh bagi Eliana. Seperti rindu, tapi ia tak mau mengaku.
“Ya, ibunda juga mengerti apa yang kau pikirkan.” Ibu suri berjalan mendekati Eliana sambil mengayun-ayun bayi Kevin.
“Tapi, kau tau, Eli? Selama kau tidak salah, Tuhan akan selalu berada di sisi kita. Dan kau pasti sudah tau, jika tidak akan ada yang pernah kalah dalam melawan Tuhan.” Ibu suri Paula mengingatkan Eliana.
__ADS_1
Matanya menerawang jauh sambil mengingat-ingat kenangan yang mencederai perasaannya. “Kau tau, dulu Yang Mulia Raja Gabriel pun sempat memilih jalan yang salah. Semesta mendukung rencananya, hingga tiba pada satu titik, seluruh pihak yang mendukung aksi antagonisnya itu lalu menyudutkan satu orang yang menolak rencananya. Orang yang disudutkan itu adalah Louis.”
“Ibu tak pernah mengira, jika keinginannya sampai sekarang tidak ada yang bisa memenuhi.” Ibu suri kembali menggumam.
“Memang, apa yang jadi keinginan Yang Mulia Raja Gabriel sehingga ibu suri mengatakan Yang Mulia memilih jalan yang salah?” Eliana mempertanyakan.
“Apa kau lupa? Raja Gabriel ingin mengeksploitasi tambang emas yang ditemukan ayahmu. Yang Mulia sudah tahu lokasinya, namun Yang Mulia tidak tau bagaimana cara mengeluarkan emas itu,” jawab ibu suri.
“Ah, iya!” Eliana mengangguk-angguk, dia ingat akan keinginan sang Raja Gabriel untuk mengeksploitasi tambang emas temuan ayahnya dari Raja Gerald.
"Kau lihat, Eli? Sampai detik ini, Tuhan mendukung rencana siapa?" tanya ibu suri Paula.
Eliana ingin menjawab, tapi ia memilih diam.
Ibu suri yang akhirnya menjawab sendiri pertanyaannya. "Tuhan menyimpan rapat lokasi tambang itu. Bahkan ketika Louis sudah tiada. Mungkin, Tuhan akan mulai menunjukkan tambang itu jika sudah tidak ada lagi manusia yang menggilai emas."
Eliana tersenyum mengangguk. Apa yang dikatakan ibu suri benar, Tuhan akan selalu berpihak pada sisi yang membawa cahaya.
__ADS_1
"Kau tidak perlu risau, Gerald pasti akan mendapat pertolongan dari Tuhan." Ibu suri mengakhiri perkataannya.
"Ya, semoga Yang Mulia bisa melewatinya dengan baik." Eliana berharap.
"Kevin sudah tidur," ujar ibu suri yang baru sadar jika cucunya tertidur di pangkuannya.
"Daripada kita pusing memikirkan rapat gabungan, bagaimana kalau membicarakan konsep resepsi pernikahanmu dan Gerald?"
"Ah, aku terserah pada ibu."
"Kau mau tema out door? Kita bisa gunakan taman lilac untuk itu."
"Ya, bagaimana baiknya."
"Gerald biar berdandan ala ksatria abad 12, hahaha."
"Ah, ibu ada-ada saja."
__ADS_1