Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Punggung dan Leher


__ADS_3

"Ya ... ya sudah!" Raja Gerald memalingkan wajahnya. "Tutup lagi sana!" titah Sang Raja.


Yang Mulia sepertinya tidak ingin memijatku, sudahlah! Itu lebih baik. Eliana pun menutup kembali dadanya dan membetulkan posisi bajunya.


Raja sudah tak melihat pada apa yang dilakukan Eliana lagi. Ia tak mau terjerumus lebih dalam hanya dengan melihat pengasuh bayi Kevin, yang semakin lama kepolosan Eliana semakin terlihat sensual di mata Sang Raja.


"Kevin ... bagaimana keadaanmu hari ini?" Raja Gerald menghampiri bayi Kevin. Manik hazel kedua pria beda usia itu bertemu, seakan saling melempar kata-kata untuk satu sama lain.


"Wah, ternyata ... tidak hanya itu. Kau juga semakin besar dan montok saja," seloroh Raja Gerald.


Blush ...!


Apa maksudnya dia berkata begitu pada bayi Kevin. Apa maksudnya dengan kata-kata tidak hanya itu? Kenapa perkataan Yang Mulia terdengar me sum? Eliana menggerutu dengan wajah yang merona.


Gadis itu menatap Sang Raja yang menggendong bayi Kevin. Rupanya bayi itu sudah bangun, karena seingat Eliana, ia telah menidurkan bayi Kevin saat dokter Arabelle dan konselor Ammy pergi.


"Kevin ... seandainya kakak masih hidup, nasibmu tidak akan seburuk ini," ungkap Sang Raja sambil menatap bayi gembul itu.

__ADS_1


Kakak? Apa maksudnya, Kevin ini adalah anak dari Yang Mulia Raja Gerry? Raja Raisilian VI yang memimpin kerajaan sebelum Yang Mulia Raja Gerald? Ah aku tidak boleh berspekulasi. Eliana menggeleng-gelengkan kepalanya.


Siapapun bayi Kevin ini, aku akan tetap menyayanginya.


Eliana pun berdiri dan berusaha hendak membetulkan gaunnya lagi. Gadis itu mencoba mengikat rambutnya sendiri yang berwarna agak kecoklatan itu. Namun ....


"Aww!" jerit Eliana sambil meringis kesakitan.


Raja Gerald pun sontak menoleh. "Ada apa?" Ia terburu-buru meletakkan bayi Kevin ke dalam box-nya dan menghampiri Eliana.


"Emmmh, resletingnya tersangkut pada rambutku." Eliana merasa sungkan meminta bantuan Yang Mulia, ia pun masih saja meringis menahan rambutnya yang tertarik.


Eliana pun menurut dan menurunkan tangannya.


Perlahan Sang Raja memegang rambut Eliana, ia tarik perlahan resleting dari gaun putih itu. Sedikit tarikan yang tidak terlalu membutuhkan tenaga, resleting itu berhasil turun dan rambut panjang yang sedikit bergelombang tersebut berhasil lepas dari jepitan resleting.


Raja Gerald menyingkirkan rambut Eliana dan ia simpan ke depan. Hingga terpampanglah punggung mulus Eliana, punggung putih yang belum pernah tersentuh itu. Sang Raja segera menutup kembali Resleting gaun putih Eliana menutupi punggung mulus yang begitu seksi dan menggoda itu. Karena semakin lama ia menatap kepolosan yang ada di hadapannya, semakin ingin ia meninggalkan bekas kemerahan dari kecupannya.

__ADS_1


Sreeeeet.


Tarikan ke atas tangan Raja Gerald akhirnya berhasil membuat resleting itu menutupi sang punggung.


Namun masih tersisa satu bagian lagi yang cukup menggoda. Ceruk leher jenjang sang gadis, yang rasanya Raja Gerald ingin sekali menyapukan li dah dan meninggalkan jejak-jejak di atas kepolosannya.


Punggung tangan Sang Raja pun mulai meraba lekuk jenjang itu, menyapukan buku-buku jarinya selayaknya sayap kupu-kupu yang sedang menggelitik.


Bulu kuduk Eliana mulai berdiri, ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari sentuhan Raja Gerald.


Deru napas Raja Raisilian VII itu mengembus ke area tengkuk milik Eliana. Gadis itu sedikit menggeliat karena merasakan sensasi geli yang baru kali ini ia rasakan.


Cup


Sebuah kelembutan yang terasa lembab menempel pada ceruk leher sang gadis. Ia ingin bergidik namun semuanya tertahan.


Kecupan itu semakin lekat, berubah menjadi hisapan-hisapan halus yang membuat Eliana meringis.

__ADS_1


"Ya-Yang Mulia ...."


__ADS_2