Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Berdebar lagi.


__ADS_3

"Maafin aku By..." suara itu terdengar serak lengkap dengan terisak, masih terbayang betapa takutnya Shirleen.


"Aku yang harusnya minta maaf, aku terlalu emosi By" Jason tak kalah, semburat penyesalan masih terlihat jelas diwajahnya..


Keduanya saling tatap, Shirleen yang merasa bersalah telah berani membahas masa lalu, pun Jason yang menyesal atas betapa egoisnya ia.


Berpelukan lagi, haru sekali yah rasanya. Hilangkan segala beban mari kita saling memaafkan walau bukan edisi lebaran.


Ada yang bergerak, oh ternyata bayi dalam perut Shirleen nampaknya tidak mau ketinggalan, di suasana haru begini ia akan mencoba untuk mempersatu kedua umat yang kadang tidak waras ini, seolah tau kedua orang tuanya sedang tidak baik-baik saja.


"Anak Papa, mau minta diuyel-uyel yah, nanti yah kita pulang dulu" Jason mengusap singkat perut kekasihnya itu.


"Iya Papa, Papa jangan marah lagi yaa" ucap Shirleen dengan menirukan suara anak kecil.


Jason memberikan senyum termanisnya, sudahlah ia sudah tidak marah lagi, si utun memang pawang yang handal bukan.


Mobil mulai merayap lagi, kali ini tampak Jason sudah membuang segala emosinya terbukti dari caranya mengemudi, sudah santai seperti semula.


Shirleen memilih tidak lagi bicara, walau ia merasa semuanya sudah baik-baik saja, namun ia masih takut, cara Jason mengemudikan mobilnya tadi bukanlah kejutan yang baik baginya, itu benar membuatnya senam jantung. Masih terbayang meski terus mencoba melupakan.


Diam, jangan sampai salah bicara lagi kalau tidak mau mati.

__ADS_1


Sudah hampir satu jam Athar berada dikamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan shower, namun pikirannya melayang jauh bepergian.


Adakah kesempatan untuknya mengulang biduk rumah tangga dengan sang mantan istri, atau ia harus menyerah, dan anak itu, ia sangat yakin itu anaknya.


Ia menyesal, bertemu Riana dan dengan bodohnya bermain gila mengobarkan api asmara hingga bendera perang, sekarang apa yang ia dapat, satu kata hanyalah kehancuran.


"Aarrrggggghhhh"


Berteriak sekuatnya, berharap beban ini akan lepas darinya.


Tidak ini bukan gunung atau tebing yang akan membawa teriakkannya pergi menjauh bersama angin, tolong hentikan, rasanya konyol sekali saat gemanya memantul berdengung ditelinga sendiri. Membuat pengang saja.


Apa yang harus aku lakukan agar Shirleen mau kembali, pria itu nampak benar-benar menyukainya, secepat itu, heh.


Ia menuju kamar anaknya Fahira, satu-satunya wajah yang bisa menenangkannya saat ini.


Dilihatnya gadis kecil itu tertidur nyenyak dalam box bayi, wajah tanpa dosa, sekecil ini harus terpisah dari ibunya, sekecil ini sudah harus menerima ujian. Bukankah sang khalik begitu tega, tapi tak apa semoga kau bahagia kelak nak, Athar membatin dalam hatinya.


Ia mencoba menerima garis takdir yang ditujukan untuknya dan Fahira, meski berat dan nampak sering mengeluh dengan Tuhannya, namun setelah melihat wajah damai Fahira, ia seakan mempunyai kekuatan lagi, Fahira benar-benar sumbernya.


Mencium singkat pipi mungil itu, entahlah setitik air mata tiba-tiba membasahi pipinya, Athar selalu saja menangis jika berdekatan dengan putri kecilnya ini.

__ADS_1


Hidup tanpa Riana sang istri yang sedang berjuang melawan sakit disana membuatnya kadang rapuh, tidak bisa dipungkiri ia sendirian, meski benci menyelubungi hati, tapi Fahira sangat membutuhkan ibunya, dan ia sebenarnya cukup menyadari tidak sepenuhnya Riana harus disalahkan.


Ah Riana, tidak mungkin kan segala yang terjadi padamu adalah azab menyakiti istri sah seperti di sinetron.


Athar berusaha menahan gelak tawa yang menggelitik hatinya, bisa-bisanya ia sempat berfikir apa yang terjadi dengan Riana adalah sebuah azab bagi perebut suami orang, apa kabar dirinya sebagai peselingkuh, bukankah ia seharusnya juga dapat kisi-kisi azab dari Tuhan, dengan membayangkannya saja sudah membuat tubuhnya meremang dan merinding.


Lalu apa lagi, ia segera keluar dari kamar anaknya, mengambil wudhu dan segera menunaikan ibadah yang kadang ia tunda, memohon ampun tiada hentinya pada sang pembolak balik hati manusia, sungguh saat itu ia khilaf ya Tuhan.


Tak lupa ia mendoakan kesembuhan untuk ibu dan istrinya, semoga diberi kemudahan untuknya menjalani kehidupan.


Dreetttzzz dreettzzz Dreeetttzzz


Ponselnya berbunyi, seperti mendapat undian dadanya berdebar melihat nama si penelpon padahal sejak tadi ia mencoba melupakan apa yang mengganjal dihatinya, kini ia kembali gelisah tak karuan lagi.


Bersambung...


*


*


*

__ADS_1


Like, koment, dan vote yah


Happy reading !!!


__ADS_2