
Jason masih menikmati secangkir teh hangat yang disuguhkan Bi Ida saat Shirleen membukakan pintu untuk tamu yang akan datang.
Ia sedang menyaksikan pemandangan yang miris baginya, sayang sekali kedua wanita dihadapannya ini beberapa hari yang lalu berencana melawannya, namun ia tidak bisa begitu mudah dikendalikan hanya dengan menjauhkan Shirleen darinya.
Mamanya terperangah, seolah bertanya bagaimana bisa ia berada disini.
"Ada apa Ma ?" tanpa menghiraukan keterkejutan Mamanya, Jason santai saja bertanya.
"Kamu, gimana bisa kamu disini ?" tanya Mama Mila gugup, mulutnya sudah mengambil ancang-ancang hendak marah namun urung ia lakukan, ia tidak ingin membuat Jason dalam kemurkaan lagi, sebisa mungkin tidak membuat putranya tersinggung.
"Justru aku yang harusnya nanya, Mama kenapa bisa disini ? Bukannya waktu itu mama bilang gak tau Shirleen dimana ? Jadi ngapain disini, temu kangen ?" ucapnya santai, bak terbalik Mama Mila merasa orang yang paling tersudut saat ini.
"Jason, Mama ngelakuin ini semua juga demi kamu yaaa"
Haruskah Mama Mila membuka semuanya, sudah kepalang tanggung jika sudah basah baiknya mandi sekali, Ia tidak menyangka kebohongannya hari itu akan menjadi sebuah boomerang baginya.
"Demi aku ? Heh, sudah kubilang jangan ikut campur masalah aku dengan Shirleen, urus saja bisnis yamg selalu kalian banggakan" sarkas Jason.
"JASON !!!" Kali ini Shirleen, ia yang tidak pernah berbicara kasar pada orang tua, tidak terima dengan cara Jason menanggapi masalah.
"Ow ow yaaa, sebentar lagi aku juga bukan apa-apa bagimu jika sudah bertemu dia" ucap Jason sembari menatap tajam pada keduanya.
Ia membuang gelas teh yang isinya masih sisa setengah sehingga gelas itu pecah berhamburan.
"Lihat gelas itu, apa bedanya denganku ?" bentak Jason, tatapannya semakin sinis penuh kekecewaan.
"Jason, nak mama minta maaf, mama tidak bermaksud"
"Ma sudahlah, tidak ada yang perlu minta maaf, semuanya sudah terjadi" ucap Shirleen menenangkan mama Mila yang kini terlihat bahunya mulai berguncang.
Sedangkan Jason masih diam, jauh dilubuk hatinya ia tidak ingin membentak Mamanya, namun ia benci siapapun yang telah berani memisahkan ia dengan Shirleen sekalipun itu hanya sekedar berencana memisahkan.
Ia masih ingat saat itu, saat ia bertanya dengan sangat memohon, ia menanyakan dimana Shirleen, kemana Shirleen pergi, namun Mamanya hanya menggeleng pelan dan malah memberikan sebuah surat padanya.
__ADS_1
Surat yang isinya jangan mencari Shirleen, heh hal bodoh semacam itu tidak akan mungkin ia turuti, sekali lagi Jason adalah rajanya memerintah mana mungkin ia bisa diperintahkan seperti itu.
"By, jangan seperti ini ?" ucap Shirleen lembut. bahkan kini ia sudah duduk berdempet mengusap bahu kekasihnya itu.
Darah Jason berdesis, pelan rasa ingin marah itu bisa ia redam, ia tidak suka luluh seperti ini, ini sama sekali bukan sifatnya. Shirleen bagai pawang yang mampu menjinakkannya.
Jason menatap Shirleen tajam, namun yang ditatap malah menyunggingkan senyum paling manis, hati siapa yang tak ketar-ketir, aarrgghh ia bahkan kepikiran ingin melahap candunya.
"Jangan senyum, atau aku tidak akan menahan diri"
"Tapi kamu sedang marah, aku kan sedang membujukmu"
Jason masih diam, mengamati apa yang bergerak saat Shirleen bicara.
"Jangan marah lagi yaaa" ucap Shirleen manja, keduanya terlibat saling tatap, Jason tetap pada fokusnya, yang merah ranum menggoda.
Shirleen tidak tau saja, sebuah gejolak sedang mati-matian ditahan seseorang.
Dan Jason juga tidak tau saja, seseorang juga sedang bingung dengan apa yang dilihatnya. Mama Mila melongo tak percaya apakah keberadaannya masih terlihat disini.
"Jangan bicara lagi" ucap Jason dingin sambil menjauhkan wajah Shirleen yang sangat dekat dengannya.
"Kenapa, ah iya atau begini saja, aku dan Mama minta maaf, janji tidak akan seperti itu, kau jangan marah lagi By" lagi-lagi senyum manis itu.
Oke Mak Jan, jangan salahin gue jika gak bisa nahan diri.
Kalau sudah kerasukan, bicara dan bersikap seadanya saja menggoyahkan iman, apa lagi modelan cetek macam Jason yang kadang setan saja sudah betah bersarang dibadan.
"Sudah kubilang jangan tersenyum" tegasnya.
"Kenapa ?" aahhh emang dasar, apa lagi ini ? Shirleen malah melakukan kesalahan dengan cemberut seperti itu.
"Kau benar-benar yaaa"
__ADS_1
"Apa ?"
"Jangan seperti itu"
"Aku kenapa ? Seperti apa ?"
"Aisshhh"
Hei sialan, kalian berdua benar-benar, Mama masih disini ?
Mama Mila menggerutu melihat perdebatan anak dan calon mantunya, ia tidak mengerti mengapa Jason tidak menyuruh Shirleen bicara, padahal ia dan Shirleen akan meminta maaf jika benar dengan maaf bisa membuat Jason bersikap seperti semula padanya.
Lagi dan lagi Shirleen tersenyum, sayangnya saat ini pikiran Jason sudah terkontaminasi api asmara panas membara, jantungnya saja sudah lelah berdetak tidak normal, dan saat ini senyum Shirleen adalah sebuah kesalahan karena bisa memancing.
"By, jangan marah lagi yaaa" rayu Shirleen.
Kenapa ada janda yang tidak berpengalaman seperti dia, jangan senyum ato gue cium beneran ini.
Disini didepan Mama, jangan senyumin gue kek gitu Mak Jan.
Jason masih menahan diri, kala Shirleen terus merayunya.
Pelan kata-kata bujukan itu seakan tidak lagi ia dengar, ia hanya memandangi fokusnya, tidak bisa dikontrol dan sebentar lagi mungkin akan lepas kendali.
Jason sudah dialam bawah sadar, mulut Shirleen yang terus berkomat kamit menjadi menarik baginya.
"Cup" Bukan hanya kecupan, kini ciuman lembut namun menuntut Jason hadiahkan pada candu yang sedari tadi tidak ada habisnya mengoceh merayunya.
Tidak menyia-nyiakan referensi yang sempat ia pelajari, ternyata hasilnya cukup membuat keduanya terbuai.
Ternyata ada gunanya juga gue ngintip film di laptopnya Shakira. Ciuman ala korea lumayan nagih.
Nampaknya Jason harus berterima kasih pada Shakira setelah ini.
__ADS_1
Bersambung...
Like, koment, gift, dan vote.