
"Bunda lihat, ada ayah juga datang, Misca mau foto nanti yaaa, ada Bunda, ada Ayah juga Papa" ucap Misca, saat ini mereka sudah berada di pelaminan, siap untuk berfoto ria.
Jason menurut saja, ia tidak ingin mengacaukan moment pernikahannya meski hatinya serasa menolak.
Seharusnya kan Athar yang cemburu, namun kenapa malah ia yang tampak gelisah tak menentu.
Padahal sebenarnya Athar pun sama, meski mulutnya sudah berkali-kali berucap ikhlas, namun nyatanya ikhlas tidak segampang apa yang diucapkan, hati yang masih menyimpan nama Shirleen itu mulai memanas.
Sementara Misca, anak itu terlihat tidak perduli akan perang dingin yang dilayangkan oleh Ayah dan Papanya itu.
"Senyum..." ucap Misca saat sang fotografer mengabadikan moment mereka.
Semua tampak tiada masalah dan terlihat kompak saja, Athar sedikit menjaga jarak dari Shirleen namun tetap saja masih dekat, sungguh lirikan mata Jason bagai sudah mau membunuhnya.
"Bunda, Misca punya Ayah dan Papa, Misca sayang Papa dan Ayah" ucap gadis kecil berumur lima tahun tersebut.
"Iya sayang..."
"Iya Princess..."
"Iya anak Bunda"
Ucap ketiganya bersamaan, meski berpisah Misca tetap tidak pernah kekurangan kasih sayang.
"Selamat ya Tuan Muda, selamat atas pernikahannya, semoga samawa" ucap Athar berbasa basi pada pasangan fenomenal itu.
"Heemm" jawab Jason seadanya, kemana rencananya yang ingin pamer saat ditanya alasan mengapa ia mengundang Athar, bahkan melihat wajah Athar saja ia kini tampak malas.
Shirleen mencubit pelan lengannya mengisyaratkan mengapa harus besikap cuek begitu.
"Iya, terima kasih udah lepasin dia dengan mudah waktu itu, kami pasti bahagia" ungkap Jason singlat, rasanya ia memang harus berterimakasih pada Athar, selebihnya tidak perlu berbicara apapun atau sekedar mengakrabkan diri.
Athar tersenyum paksa menanggapi ucapan Jason, benar ia yang telah melepaskan Shirleen, tanpa ia ketahui bak gayung bersambut Shirleen bahkan sudah ada yang menunggunya.
Sementara di sebuah tempat, Weni dan Dokter Eri mulai berbincang mengakrabkan diri, ternyata Dokter Eri termasuk orang yang ramah, Weni semakin menyukainya untuk tahap pertama.
Yudha yang memang sedang mencari keberadaan Weni mengumpat kesal dalam hatinya karena menjumpai keakraban keduanya, tidak cukupkah pernyataan cintanya kemarin, tidak cukupkah segala yang ia lakukan kemarin hingga Weni tidak melihatnya barang sedikitpun.
Dengan perasaan marah Yudha melangkah pasti kearah keduanya, tidak ada yang boleh mendekati miliknya.
"Kayaknya lo emang ingin pernikahan kita dipercepat ya" ucap Yudha saat ia sudah sampai di hadapan Weni dan Dokter Eri.
__ADS_1
Weni tersedak air liurnya sendiri yang tercekat, sejak kapan bocah tidak waras ini berada dihadapannya, apa dia terlalu asik berbincang hingga tidak menyadari.
"Kenapa ?" tanya Yudha.
"Maaf, anda siapa yaaa ?" tanya Dokter Eri pada Yudha. Ia pernah melihat anak ini, kalau tidak salah di acara kikahan Jacob tempo hari pikirnya.
"Saya Yudha, calon suaminya Weni, jangan melihat wanita hanya dari tampangnya saja, dia ini buaya betina mau-maunya aja anda kena rayuannya" ucap Yudha, dan berhasil. membuat Weni dan Dokter Eri melotot tidak percaya secara bersamaan atas apa yang mereka dengar baru saja.
"Dan lo, heh udah dibilang berhenti mainin cowok masih aja doyan, udah mau nikah juga" ucap Yudha pada Weni bahkan Yudha dengan santainya menyentil kening Weni. "Ayo pergi, permisi Om" ujar Yudha membawa paksa tangan Weni, meninggalkan dokter Eri yang menampilkan mimik muka kecewanya.
Saat sudah jauh dari dokter Eri, Weni yang mulai tersadar segera memberontak meminta dilepaskan genggaman tangan itu.
"Kamu apa-apaan sih, citra aku jadi buruk tau" protes Weni kesal.
"Gue cuma ngelakuin apa yang seharusnya gue lakuin" jawab santai Yudha.
"Dasar bocil, errrgghhh seharusnya kamu nggak hadir di hidup aku, sana minggat jauh-jauh, kenapa juga kamu bisa suka sama aku, setan mana yang udah ngajarin aliran sesat kek gitu sama kamu" oceh Weni.
Yudha hanya tersenyum manis menanggapi perkataan Weni, sejak dari kemarin di perlakukan buruk oleh Weni sedikit membuatnya terbiasa.
"Ngapain senyum-senyum, dasar aneh" umpat Weni.
"Yakin kalau gue minggat jauh-jauh lo nggak bakalan kangen ?" tanya Yudha menggoda Weni.
"Yakin ?"
"Yakin seribu persen, lagian kita itu nggak ada hubungan apa-apa yaaa, ngapain juga aku harus nugasin diri buat ngangenin kamu, repot amat Pak" ucap Weni.
"Heemm, tampaknya lo belum puas bermain-main ya, apa mau gue bikin kayak kemaren lagi" ancam Yudha.
Seperti kemarin, oh tidak Weni bergidik ngeri membayangkannya.
"Gue peringatin sekali lagi, inget baik-baik awas sampai lo lupa, sejak kemarin kita sudah pacaran, jadi gue berhak larang lo deket sama cowok dan gue juga berhak buat nyuruh lo kangenin gue" ucap Yudha dengan pasti.
"Ampun dah, itu pemaksaan namanya tong, kapan juga aku bilang iya, kemaren perasaan nggak ada deh" ucap Weni tidak mau kalah.
"Oke, mari kita tinggalkan acara ini dan buat kenangan seperti kemarin lagi" ucap Yudha sekali lagi ia akan membawa Weni ke suatu tempat, dimana Weni seolah terpaksa menuruti keinginannya untuk menyandang status berpacaran mulai dari kemarin.
Tapi memang benar Weni memang belum mengiyakan, Yudha saja yang sudah memutuskan sepihak.
"Eehh nggak nggak, nggak jangan, aku takut" ucap Weni mengiba.
__ADS_1
"Lo belum jawab yang kemaren, jawab sekarang, dengan gitu nggak lagi ada alasan untuk lo dekat-dekat sama cowok lain" ancam Yudha lagi.
"Yah yah jangan gitu dong, pacaran itu nggak gampang"
"Satu..."
"Yah malah ngitung dianya" kesal Weni.
"Dua"
"Yud, jangan dong, aku beneran belum siap buat pacaran, apa lagi sama kamu"
"Tiga... Cup" lagi dan lagi Yudha malah dengan agresif sudah mencium bibir Weni, persetan dengan penolakan, yang terpenting ia adalah yang pertama, dan ia tidak akan membiarkan Weni memberikan ini pada orang lain.
Weni terdiam, sejak kemarin ia sudah seharian bersama Yudha, namun ia belum juga bisa memiliki rasa lebih terhadap pemuda yang tengah menciumnya ini.
"Aku sudah pernah bilang, cinta itu nggak bisa dipaksakan Yud" ucap lirih Weni saat Yudha sudah melepaskan ciumannya.
"Gue nggak mau denger" ucap dingin Yudha.
"kita bisa menjadi teman..."
"Wen gue sayang sama lo, jangan bilang itu lagi ya"
"Teman juga bisa menyayangi temannya"
"Gue nggak mau jadi teman lo"
"Yud..."
"Gue nggak bisa, lo akan jadi pacar gue, mau lo terima atau nggak, kita tetap pacaran" ucap Yudha, ia sangat yakin akan ucapannya itu.
"Yudha, jangan gila kamu, masih banyak gadis yang sepadan denganmu, kamu masih muda, kamu bisa memacari siapa saja, cinta tidak bisa dipaksakan Yud, segala sesuatu yang dipaksakan itu tidak akan baik" nasihat Weni pada akhirnya, berharap Yudha akan luluh.
"Gue nggak bisa, dan jangan paksa gue"
Adtagah... Dasar bocil, nggak sadar apa yang sebenarnya maksa itu kamu, dasar tukang maksa...
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!