
Shirleen masih menautkan jarinya oada jari suaminya itu, menggenggam erat seakan ia ingin seperti itu saja selamanya.
"By, ingat deh waktu pertama kali kita ketemu" ucap Shirleen, sampai hari ini pun ia tidak menyangka bahwa Jason benar-benar akan menjadi suami keduanya, yah kedua dalam arti ia sudah dua kali menikah dan sudah cerai dengan yang pertama sehingga Jason adalah yang kedua namun satu-satunya.
"Heemm" Jason masih betah memandangi wajah istrinya itu. Shirleen masih sama seperti pertama kali ia bertemu di taman. Cantiknya, senyum itu yang selalu membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi.
"Kamu bahkan pernah nganterin pizza kerumah dulu" ucap Shirleen lagi, ia mulai bernostalgia.
"Iya sampe dikatain sinting kan" ujar Jason membenarkan.
"Eehh kok tau, emang kamu masih denger yaa waktu itu, bukannya kamu udah pergi"
"Aku ini apa sih yang nggak tau" bangga Jason pada dirinya sendiri.
"Ck malah bangga sekali anda Pak, terus kamu juga bangga gitu punya keahlian masuk-masuk rumah orang kek maling gitu" tukas Shirleen lagi.
"Yaa itu juga salah satu keahlian aku, mau gimana lagi dong"
"Aku juga punya keahlian kalo nyupahin selalu kena" bangga Jason.
"Maksudnya ?" heran Shirleen.
"Iya inget nggak hari pertama kita ketemu malahan aku nyumpahin kamu jadi janda, terkabul kan akhirnya"
"Ck, dasar, kamu emang orang gila By"
"Eh iya satu lagi, pernah jadi driver taxi online juga kan kamu yaaa"
"Iya waktu itu kamu nggak nyadar, aku juga tau hari itu kamu cere sama Athar" ucap Jason.
"Apa ? Kamu tau segalanya dong ?"
"Lah iya, mudah banget kali aku tau kehidupan kamu"
"By, aku bener-bener nggak percaya" Shirleen menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa anak SMA bisa melakukan apapun yang langka sekali orang bisa melakukannya sekalipun orang itu berkuasa. Mencari informasi pribadi orang lain, apa dunia sudah secanggih itu.
"Bukan aku sih yang bermain, tuh si Roy yang bobolin semua data kehidupan kamu" ucap Jason lagi, ia malah melimpahkan kesalahannya pada sang asisten pribadi.
"Tapikan dia bawahan kamu, kamu juga bisa seperti itu kan" cerca Shirleen.
"By, kamu termasuk kamu saat itu udah tau yaaa keburukan suami sama mertua aku waktu itu ?" dan Shirleen tiba-tiba membahas masa lalu.
Jason mengangguk pelan, sebenarnya ia enggan menanggapi, namun selama Shirleen tidak terlalu membahas Athar yah tidak apalah baginya.
"Kertas yang kamu kirim waktu itu ? kamu mengetahui segalanya kan"
__ADS_1
Jason mengangguk lagi.
"Bukankah berarti dulu banyak sekali orang licik disekelilingku" sesal Shirleen, ia selalu mempercayai mertua dan keluarga mantan suaminya itu dulu, namun ternyata begitulah balasan mereka.
"Udahlah By, ngapain sih bahas mereka" ucap Jason, ia malas sekali karena itu semua bisa saja nanti merembet ke arah betapa bejatannya ia. Apa lagi jangan sampai Shirleen membahas ibunya Athar yang saat ini sudah gila. Bahkan Shirleen tidak tau kalau Riana sudah mati saat ini, dan itu juga sedikit banyak karena kebejatannya kan.
"Iya By, maaf, eh iya kata Mama kamu nggak pernah pacaran sebelumnya, apes banget ya hidup kamu pas pacaran langsung dapet janda" ucap Shirleen yang secara tidak langsung menertawakan dirinya juga.
"Dih emang siapa sih jandanya" goda Jason.
"Ck adalah itu, mana anaknya dua lagi" lanjut Shirleen lagi.
"Pake pelet apa sih tuh janda bisa naklukin aku yang ganteng ini ?" percaya diri Jason yang kelewat tinggi, selalu saja membanggakan dirinya.
"Hadeehh, nggak tau aku, udah ah kamu mah pede terus"
"Yaaah emang fakta kan ?"
"Iya tapi aku baru nemu tau orang sepercaya diri kamu"
"Yaaa nggak papa percaya diri kalau emang fakta, kecuali nih yaaa aku jelek tapi maksa bilang ganteng kan gak kena" Jason memang tidak akan kalah jika diajak berdebat. Shirleen mulai pusing menanggapinya.
"Iya tapi kamu itu udah terlalu" protes Shirleen sembari mengerucutkan bibirnya.
"Kamu iihh, dasar cowok"
"Apa ?"
"Bawaannya mesum mulu" ucap Shirleen kemudian ia berlalu pergi ke kamar Misca, untuk meninjau sedang apa yang anak gadisnya itu lakukan.
"Yaaa nggak papa kali By, mesum juga sama istri sendiri, udah halal" bela Jason.
Rendi masih menggenggam kotak yang berisikan rambut Fahira. Perlukah ia melakukannya ?
Kalau memang benar Fahira anaknya, lantas ia harus apa ? Harus menerima bayi itu, tidak bayi itu pasti bukan darah dagingnya.
Ia lalu masuk kedalam rumahnya setelah tadi lama berdiam diri tidak turun dari mobilnya.
Rumah ini ia beli setelah ia diusir Riska pada hari itu, sederhana namun cukup nyaman dan luas baginya yang hanya tinggal sendiri.
Setelah hak asuh Tiara jatuh ketangannya nanti, ia akan tinggal berdua dengan putrinya itu.
"Fahira" gumamnya tanpa sadar menyebut nama itu lagi.
Mulutnya bisa saja egois untuk menempatkan Fahira pada posisi kesekian, namun tidak dengan hatinya semenjak Athar mengatakan kalau iparnya itu bukan ayah biologis Fahira, ia jadi terus kepikiran perihal Fahira dan mulai penasaran.
__ADS_1
"Apa aku coba saja"
"Tidak, tidak mungkin bayi itu anakku"
Rendi berusaha menghilangkan pemikirannya tentang Fahira, ia tidak pernah melihat jelas bayi itu jadi ia tidak bisa membayangkan bagaimana rupa Fahira yang entah mirip dengannya atau tidak.
Rendi terus memikirkan Fahira hingga tanpa terasa ia malah tertidur.
Dareen mengotak-atik sosial medianya, ia pasti sudah gila saat ini, dengan bodohnya ia malah menstalking akun yang bernama "Dwi Rangga" tersebut, dari facebook ia menuju instagram dan mulai mencari akun yang sama dengan wajah yang pastinya tentu juga sama, ia ingin melihat bagaimana rupa teman Sri yang ia sangka bapaknya Fahira tersebut lebih jelas.
Namun anehnya ia tidak menemukan foto Sri sama sekali di akun laki-laki tersebut, ia yang ternyata punya keahlian menstalking itu tampak kecewa.
Apa benar laki-laki ini memiliki hubungan spesial dengan Sri.
Drettt drettt drettt, sebuah notif masuk pada laman inbox facebooknya.
Benar saja Dwi Rangga membalas pesannya dan memberikan nomornya. Mata Dareen terbelalak menatap pesan yang Dwi Rangga kirimkan padanya namun sebenarnya ditujukan untuk Sri.
📩 Kamu kemana aja Sri, simbok kangen tiap hari nanyain kamu terus samaku, aku kudu piye ? bales cepat yo...
Simbok, nanyain Sri terus, apa maksudnya ini ?
Tanpa sadar kakinya malah sudah melangkah kearah kamar Sri, dan kini bahkan ia sudah berada didepan pintu kamar Sri, entahlah tubuhnya seakan bekerja lebih cepat dari pemikirannya.
"tok tok tok" Dareen mengetuk pintu kamar Sri.
Ceklek.
"Tuan Dareen ?" kaget Sri, ini sudah malam namun untuk apa Dareen menemuinya.
Dareen terdiam, ah sial bukannya ia tadi berada dikamarnya, kenapa ia malah bisa berada disini pikirnya.
"Tuan Dareen, ada apa ?" tanya Sri.
"Aahh ini, eemm ini teman kamu minta bales cepat, jadi aku harus balas apa ?" Jawab Dareen.
Yah benar, bukannya tadi si Dwi Rangga itu suruh bales cepat, benar jadi tidak ada salahnya kan gue berada disini sekarang.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!
__ADS_1