
"Apa Mas serius?" tanya Lisa hati-hati, canggung bukan main berhadapan langsung dengan Athar kali ini.
"Kenapa?" tanya balik Athar.
"Mas pasti bercanda kan?" tanya Lisa lagi.
"Tentang menyukaimu?"
"Emmh, iya!"
"Aku serius!"
Lisa mudur satu langkah, hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya, bahkan dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dirinya dengar.
Athar tersenyum manis padanya, membuat Lisa semakin sulit untuk mengondisikan hatinya.
Tidak, jangan pingsan dulu, jangan...
"Kau cantik! Siapa yang tidak suka, bukan hanya aku, mungkin di luar sana begitu banyak pria yang menyukaimu." ucap Athar lagi.
Seulas senyum yang baru saja terbit dari bibir Lisa, tiba-tiba harus terbenam lagi, Ahhh... Tega sekali mulutnya itu, batin Lisa berteriak.
...#######...
"Ada apa?" tanya Zalin. Pagi ini, ia dipanggil menghadap majikannya, Ibu dan Ayahnya yang sedang sakit bahkan ternyata juga sudah hadir di ruangan itu, dan ada juga beberapa orang yang Zalin merasa benar-benar tidak mengenalnya. Zalin sungguh tidak mengerti apa yang terjadi.
"Duduklah!" titah Zalfa.
Zalin duduk agak jauh, namun Zalfa, majikannya itu menyuruhnya untuk duduk di samping Afik, anak majikannya yang pernah juga ia temui di cafe tempatnya bekerja.
"Zalinda!" seru Ayahnya Afik.
"Iya Tuan!" sahut Zalin.
"Mungkin, kau masih menduga-duga, ada apa kau dipanggil kemari, seperti yang kau lihat, di sini ada Ibu dan juga Ayahmu, maafkan kami harus melibatkan mereka, terlebih ayahmu yang saat ini sedang sakit, tapi beliau tampak begitu bersemangat untuk mendengar kesaksian ini." ucap Ayahnya Afik memulai percakapannya.
Zalin tersenyum canggung, ia melirik beberapa orang yang tidak dirinya kenal itu, ada dua orang wanita yang sudah menangis haru, seperti saling menguatkan.
"Aku juga tidak tau, bagaimana cara memulai perkataan ini..."
"Yah!" Afik memegang tangan Ayahnya, berkata, jika Ayahnya tidak kuat, biar dirinya saja yang bicara. Namun, Ayahnya mencoba menguatkan hati lagi, ini adalah kabar bahagia, harusnya bukanlah suatu yang sulit.
"Kau, Zalinda, namamu sebenarnya bukan hanya sebatas Zalinda." Ayahnya Afik, memberi isyarat pada Ayahnya Zalin untuk mengatakan yang sebenarnya. Dalam keadaan sakit pun Ayah Zalin meminta supaya dirinya saja yang mengatakan kebenaran itu, pria itu merasa harus bertanggung jawab.
"Ayah? Apa maksudnya?" tanya Zalin pada sang Ayah yang terbaring lemah.
"Zalin anakku, meski apapun yang terjadi, kau tetaplah anak kami, maafkan Ayah Nak yang tidak bisa memberikan hidup yang layak untukmu selama ini, bahkan Ayah merasa Ayah begitu sering menyusahkanmu..."
"Ayah, mengapa berkata begitu?" potong Zalin, ia tidak suka Ayahnya berkata demikian.
Sementara Ibunya, Bi Adin, air matanya sudah mengalir deras, wanita itu tidak kuat dan sudah menangis sesegukkan. Membuat Zalin semakin tidak mengerti akan situasinya.
__ADS_1
"Sebenarnya, kau bukan anak kandung Ayah dan Ibu Nak!" ungkap Ayahnya Zalin.
Hening,
Zalin mencoba menetralisir apa yang baru saja dirinya dengar, ingin menganggap semua itu bercanda namun rasanya tidak pantas saja.
"Apa maksudnya?" tanya Zalin lagi.
"Di sana, lihatlah, itu adalah keluargamu yang sesungguhnya." tangan yang sudah lemah itu berusaha menunjuk beberapa orang yang tidak dikenal oleh Zalin, kedua wanita paruh baya yang saling berpelukan tadi, Zalin lihat semakin menumpahkan air matanya.
"Kau putri kami Nak, kau Zalin kami." ucap pria paruh baya sepantaran Ayahnya Afik, Zalin juga tidak mengenal orang itu.
Zalin hanya bisa menatap semua orang di ruangan itu dengan kebingungan, apa maksudnya, mengapa bercanda akan hal seperti ini batinnya menggerutu.
"Ibu, coba jelaskan apa yang terjadi." pinta Zalin mendesak Ibunya yang sudah menangis.
"Nak, apa kamu pernah melihat gambaran dirimu saat masih bayi? Bagaimana cerita Ibu saat melahirkanmu? Ibu sangat bersyukur karena Zalin tidak pernah menanyakannya. Tapi, selama itu juga Ibu selalu diwaspadai ketakutan, karena Ibu sama sekali tidak punya kenangan untuk hal itu." jawab Bi Adin.
"Ibu..." Zalin tersadar, ia tidak pernah menanyakan itu setelah sekian tahun lamanya.
Ia hidup seperti biasa, orang tuanya bukanlah orang berada, dan lagi pula Ibu dan Ayahnya sangat menyayanginya, baginya itu sudah cukup, dan entah mengapa dia tidak pernah penasaran bagaimana waktu kecilnya.
"Zalin, percaya pada Ibu, Ibu sangat menyayangi kamu Nak, meski Zalin bukanlah putri kandung Ibu. Ibu dan Ayah begitu menyayangi Zalin."
"Ibu..."
Tidak ada tangisan, jujur saja yang Zalin rasakan saat ini hanyalah kebingungan, dan tidak mengerti, pada siapa dirinya harus percaya, dan kalaupun kenyataan yang sebenarnya memang seperti itu, bagaimana cerita sebenarnya.
"Panggilannya Zalin, kau adalah anak tunggal dari sahabatku, Darmawan Adijaya dan istrinya Laura Saraswati, yang sampai kini juga masih belum ditemukan jasadnya sejak kecelakaan pesawat Jakarta Singapura sepuluh tahun silam."
"Ini Tante Indah, Zalin, dulu saat Zalin masih bayi, Tante Indah ini yang selalu jagain kamu, Zalin tidak ingat?" tanya salah satu wanita yang berpelukan tadi, dia adalah adiknya Laura, Ibu Kandung asli Zalin, memang benar yang dirinya katakan, dulu saat Zalin masih bayi, Indah Saraswati begitu nama lengkapnya, ia saat itu masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Saat mengetahui Laura kakaknya akan melahirkan, Laura yang saat itu tidak mau menggunakan jasa baby sitter menyuruhnya untuk tinggal bersama supaya bisa membantunya dalam merawat Zalinda, dan dia pun tidak keberatan.
Zalin menggeleng pelan, demi apapun dirinya benar-benar tidak mengingatnya.
"Ini tante Lia sayang, Kakaknya Mama kamu." ucap wanita yang satunya lagi, bernama lengkap Rillia Saraswati, kakak sulung dari Laura.
Tidak bisa dibayangkan betapa terkejutnya, betapa harunya keduanya saat mendengar kabar dari Ayahnya Afik kalau Zalin mereka tiba-tiba ditemukan. Ingin menangis, dan sudah mereka lakukan, rasanya air mata tidak akan bisa membayar seluruh rasa bahagia mereka.
Lagi dan lagi, Zalin menggeleng pelan, bukan maksud dirinya mengecewakan, namun sungguh dirinya benar-benar tidak ingat.
"Apa, ini benar?" tanya Zalin pada semua orang.
Zalin menoleh ke arah ayahnya, pria tua itu mengangguk, kemudian Ibunya, dan sama Ibunya pun mengangguk, dilihatnya wajah semua orang yang seakan setuju akan keadaan ini.
Braaakkk,
Zalin terjatuh, pandangannya gelap, kakinya tiba-tiba tidak kuat menyangga bobot tubuhnya, sehingga ia terjatuh tidak terhindarkan.
"Zalin!" seru Afik, melihat wanitanya pingsan di hadapannya dan sudah terkulai lemas, "Minyak kayu putih, cepat ambilkan! CEPAT!!!" pekiknya panik.
Semua orang melihat itu, melihat cinta yang begitu besar di mata seorang Muhammad Al-Fikram, apa lagi Zalfa, dia sungguh tau bagaimana perasaan Afik terhadap Zalin, bahkan selama ini tidak satupun wanita yang berhasil mendekati Afik putranya, karena bayang-bayang Zalin masih begitu nyata bagi putranya.
__ADS_1
Afik adalah seseorang yang selalu beranggapan bahwa Zalin masih hidup, dan saat ini, Tuhan menjawab doa-doanya, Zalinnya benar-benar masih hidup.
...#########...
"Lo!" Zalin spontan saja memekik kala melihat Afik menungguinya di sebuah kamar.
"Udah bangun?" tanya Afik, pemuda dengan khas slengeannya itu tiba-tiba saja berubah menjadi serius.
"Apa sebenarnya yang terjadi, mereka sedang bercanda kan, apa keluarga lo emang suka mainin drama?" tanya Zalin setengah berbisik pada Afik.
Afik melengkungkan bibirnya, menatap gemas pada gadis berpenampilan tomboi di hadapannya ini. Dulu Zalinnya begitu feminim saat terakhir kali ia melihatnya di umur delapan tahun.
"Kenapa?" tanya Zalin.
"Mereka nggak sedang bercanda, lo emang putri dari keluarga kaya, anaknya Tuan Darmawan, dan beruntungnya lo itu tunangan gue." ucap Afik percaya diri.
"HAHH?" persis seperti respon yang sudah diduga oleh Afik, Zalin pasti akan terkejut jika ia mengatakan itu.
"Lo becanda? Belum tercerna semua omongan mereka di ruangan itu tadi, lo udah nakutin gue dengan perkataan konyol lo itu, tunangan, lo gila ya?" umpat Zalin.
"Gila? Gila apanya? Gue cuma ngasih tau informasi yang ketinggalan tentang kebenaran, tadinya mereka sedang mengatakan informasi penting buat lo, tapi ngelupain satu hal karena lo udah terlanjur pingsan duluan, jadinya gue harus bilangin langsung diluar dari acara tadi kan." Afik tersenyum dengan kerlingan matanya, sembari menaik-turunkan alisnya, dengan percaya diri sungguh tinggi.
Zalin melotot, ya Tuhan kenyataan apa lagi ini batin Zalin berteriak geram.
"Zalin!" seru Afik.
Zalin menatap Afik tidak percaya, ya Tuhan mengapa tiba-tiba hidupnya menjadi penuh drama seperti ini. 'Keluargaku bukanlah keluargaku', 'Ternyata aku anak orang kaya', 'Gadis miskin itu tunanganku', Ternyata aku sudah dijodohkan!'. Begitu banyak judul novel di platform online yang sering dirinya sambangi untuk hiburan membaca di waktu senggang tiba-tiba terpatri di otaknya, sungguh lucu, ah tidak tidak lebih tepatnya gila, mengapa hidupnya seperti kisah-kisah di novel online?
"Menikahlah denganku?" ucap Afik mengutarakan niatnya.
"Apa?" kaget Zalin.
Afik duduk di tepian ranjang, menatap Zalin sekali lagi, "Nikah yuk?" ulangnya.
"Hah? Lo gila, becanda? Nggak lucu ya!"
"Kemarin, saat gue liat lo untuk pertama kalinya di cafe kak Shirleen, gue langsung punya firasat tentang diri lo, gue cuma belum punya bukti aja buat ngungkapin semuanya, dan kemarin lo datang sendiri, boleh nggak sih gue rasa semua ini bukan kebetulan belaka, Tuhan pasti ngejawab doa-doa gue, yang percaya kalau lo beneran masih hidup." ucap Afik, ia sungguh serius dengan perkataannya.
Zalin terdiam, apa benar begitu yang terjadi.
"Jujur gue bahagia banget akan kenyataan ini, dan gue nggak mau kehilangan lo untuk yang kedua kalinya. Jika menurut lo, apa yang terjadi kini begitu sulit buat lo cerna, nggak usah dipaksain, tapi gue mohon untuk lo bisa pertimbangin lamaran gue, simpelnya... Lo bisa, anggap aja gue jatuh cinta pada pandangan pertama sama lo!"
"Zalin, liat gue, gue... Beneran serius, gue akan berusaha nggak bakalan kecewain lo." Afik berlutut di hadapan Zalin, tangannya mengambil sebuah cincin di saku bajunya, "Nikah yuk!" ajaknya lagi.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...Hai gaess, maaf ya lama, kemaren-kemaren fokus ke Novel yang baru soalnya, dan lagi nabung BAB buat Terjebak Cinta Berondong Season 2....
...Doain aku yaaa, semangatin aku, biar aku tetep rajin menulis buat menyajikan cerita-cerita yang aku berharap kalian menyukainya. 🥰🥰...
...Selamat membaca!!!...
__ADS_1