
Petang telah tiba, bahkan kini sudah agak larut, walau yang datang hanya kerabat dekat yang diharapkan bisa menjaga rahasia, namun ternyata jadi manten lumayan menguras tenaga.
Shirleen nampak lelah, belum lagi Jacob yang masih asi, membuat energinya hampir habis terkuras.
"Sini sayang, Biar Jacob sama Misca tidur bareng Oma yaaa" ucap Mama Mila yang mengunjungi kamarnya.
"Gak usah Ma, lagian disini gak ada kulkas khusus untuk asi, jadi kalau malam-malam Jacob masih asi lewat aku"
"Ya udah, kalau gitu Misca aja yang tidur sama Oma"
Misca setuju saja, ia memang sangat merindukan Omanya itu, sudah lama sekali kan.
Jason baru saja selesai mandi, dilihatnya Shirleen sedang duduk di meja rias, menghapus riasan di wajahnya, cantik... meski tahun depan istrinya itu sudah genap kepala tiga namun angka seakan tidak mengurangi kadar cantiknya, Jason tidak menyangka wanita yang selalu ia impikan kini sudah menjadi miliknya utuh.
"By, mandilah" ucap Jason penuh minat, Shirleen mengerti namun sebisa mungkin ia bersikap biasa.
Jantungnya serasa mau lepas melihat Jason yang hanya berbalutkan handuk, berondongnya sangat sexy jika habis mandi begitu.
Tubuh atletis, dada yang bidang, wajah tampan, yaaa Tuhan bagaimana bisa ada manusia sesempurna dia.
Diam-diam Shirleen mengagumi kekasihnya, hingga ia tidak sadar kalau sedari tadi ia sudah menghentikan langkahnya dan malah mematung memandangi Jason.
Jason ingin sekali tertawa lepas namun masih ia tahan, ia ingin tau sampai kapan Shirleen akan menatapnya, bagaimana bisa seorang yang sudah pernah menikah bertingkah sepolos istrinya itu.
"Sudah puas ?" tanya Jason membuyarkan lamunan Shirleen.
"Kau sudah tidak sabar yaaa"
__ADS_1
"Hah" Bingung Shirleen, demi apapun percayalah Shirleen sendiri juga heran, kenapa ia bisa bertingkah demikian.
Tak ingin berdebat, Shirleen memilih segera berjalan menuju kamar mandi, ia harus menyembunyikan wajah yang pastinya sudah memerah.
"Hei boy, mau dibikinin adek nggak ?" tanya Jason pada bayi yang nampak pulas tertidur, ia pasti sudah gila orang tidur diajak ngomong, mana masih bayi pula.
Jason membelai pipi chubby Jacob, membisikkan sesuatu ditelinganya, "Jangan bangun dulu sampai papa selesai ritual, oke boy"
Bayi mungil itu nampak menggeliat karena tudurnya terganggu, dasar Jason sialan.
Ia bahkan sengaja tidak mengenakan celananya, ia masih betah berbalutkan handuk, toh nanti akan dibuka juga pikirnya.
Shirleen keluar dari kamar mandi, ia terpaksa keluar hanya berbalutkan handuk juga, karena tadi ia terburu-buru masuk ke kamar mandi sehingga lupa membawa pakaian ganti.
"By, kau menggodaku ?" ucap Jason, bagai lauk ia menatap Shirleen yang seakan siap santap.
"Ya ya ya baiklah, ku pastikan kau tidak akan lepas malam ini" teriakan itu terdengar dari luar kamar mandi.
Baru saja Shirleen keluar, tubuhnya sudah ditangkap oleh Jason, memeluknya dari belakang, bahkan Shirleen bisa merasakan deru nafas suami berondongnya itu.
"Kau milikku" ucap Jason penuh hasrat.
Shirleen terpaku, apa Jason benar-benar menginginkannya.
"By, tapi..." Jason tidak memberi kesempatan Shirleen bicara lagi, ia langsung melahap candunya sebelum ia menjelajah candu-candu yang lain pada tubuh Shirleen nanti.
Jason seolah handal dalam bermain, saat bertemu Shirleen dan memutuskan untuk jatuh hati pada wanita itu, ia bahkan kerap berfantasi memimpikan Shirleen dibawah kungkungannya, dan itu sebentar lagi terjadi.
__ADS_1
"Kau menyukainya ?" tanyanya berbisik ditelinga Shirleen setelah beberapa saat ciuman panas itu terlepas.
Shirleen mengangguk teratur, inilah bodohnya ia, sentuhan Jason begitu berbahaya, tubuhnya menegang dan setelahnya pasti lupa diri.
Kembali menyatukan benda kenyal keduanya, ******* dengan lembut, memainkan lidah sambil bertukar saliva, pelan tangan itu menyusup kedalam, mencari-cari apa yang bisa dimainkan dalam genggaman.
Hasrat yang membara membuat Shirleen tidak sadar kini ia sudah berada di ranjang yang katanya ranjang pengantin. Entah bagaimana Jason membawanya dari depan pintu kamar mandi ke sini.
Jason terus saja memberi sentuhan demi sentuhan, mengecup leher jenjang itu, membuat beberapa maha karya yang jangan dihitung jumlahnya, meraba belakang Shirleen yang tampak berkeringat, nafas Shirleen memburu, ia suka itu. ia sungguh menyukai Shirleen, setiap inci tubuh Shirleen ia sungguh menyukai, anggap saja ia sudah tergila-gila.
Jason membaringkan Shirleen, kini benar saja Shirleen sudah berada dibawahnya, malam ini ia akan menunjukan betapa perkasanya ia.
Shirleen lupa akan sesuatu yang harus ia ucapkan, ia justru terbuai.
Jason mulai lagi, kali ini ia memilih bukit kembar yang sedari tadi menantang, ibu menyusui memang tidak main-main soal ukuran.
Melahap benda kenyal padat berisi yang menjadi sumber makanan favorit Jacob itu, nampaknya Jacob harus berbagi hak milik mulai dari sekarang, pasalnya kini Jason juga memfavoritkan itu.
Shirleen mend**ah, rasanya beda saat dihisap Jacob, bayi besarnya ini tampak rakus namun menciptakan nikmat yang membuatnya ketagihan.
Jason benar-benar puas dengan kinerjanya, terbukti dari Shirleen yang tampak begitu menikmati, tak sia-sia semasa bujang ia sesekali pernah sengaja survei di dunia perbo**pan.
"Kau sudah siap ?" tanya Jason parau. Matanya sudah diliputi kabut naf*u.
Sebentar lagi ia akan menjadi mantan perjaka.
Bersambung...
__ADS_1
Like, koment, gift, dan vote.