
"Yud, lo bisa denger gue ?" tanya Jason sambil memegang kedua pipi sahabatnya itu.
"Yud !" panggil Angga.
"Cebong !" Afik juga.
Tidak ada jawaban, pandangan Yudha masih tetap lurus kedepan, pada tembok putih yang entah mengapa menurutnya lebih menarik dari pada wajah ketiga sahabatnya.
"Denger, apapun masalah lo, cerita sama kita, mau itu tentang apapun, Weni, atau apapun, gue siap dengerin, lo harus kuat, kasian Mama lo, dia cuma bisa berpegang sama lo untuk saat ini, dia cuma punya lo di dunia ini Yud." bisik Jason tepat ditelinga Yudha, berharap Yudha akan mendengar apa yang ia katakan.
Dan berhasil, Yudha nampak merespon meski hanya sedikit pergerakannya, ia memandang Jason seakan penuh arti.
Namun lagi dan lagi, setelahnya hanya tatapan semu yang Jason dapatkan, sahabatnya itu benar-benar kumat seperti tiga tahun lalu.
"Yudha denger gue, kita cari Weni, kita bicarain baik-baik, kalaupun ada masalah antara lo sama dia, bicarain dan cari solusinya, lo nggak boleh kayak gini, lo nggak bisa nyerah gitu aja." ucap Jason lagi.
"Lo harus kuat Yud, lo harus buktiin kalau lo pantes buat dia !" sambung Afik, apasih ia sebenarnya cuma asal menebak saja.
"Iya Yud, kita cari, kalau perlu gue bakalan cari dan bawa dia kesini !" ucap Angga yakin, apapun akan ia lakukan untuk si cebongnya.
Yudha menatap Angga penuh harap, membuat Angga seakan mengerti bahwa yang Yudha butuhkan hanyalah Weni.
"Oke gue bakalan cari, sampai kemanapun gue bakalan cari, lo harus bangun dan nggak boleh nyerah, pasti gue janji, gue bakalan bawa dia kesini buat lo." ucap Angga memberi semangat pada Yudha, bagai sebuah janji kini ia akan melakukan semua itu demi Yudha.
"Son, Fik, gue cari Weni dulu." ucapnya pada Jason dan Afik, keduanya mengangguk setuju.
Saat ini Angga sudah berada diparkiran, hendak menaiki motor sportnya, otaknya mulai berpikir kemana ia akan mencari Weni.
Petunjuk pertama mengarah pada rumah Weni, yah mungkin kesana saja dulu pikirnya, lagipun ia sebenarnya tidak tau harus mencari Weni dimana.
Shirleen sedang mencoba menelpon Weni untuk menanyakan bagaimana kabar Yudha, ia tidak mengetahui sama sekali apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Kamu dimana Wen ? Masih dirumah sakit ?"
^^^"Aku udah balik Len, kenapa ?"^^^
"Oh nggak papa, cuma mau nanya tadi pas kamu balik keadaan Yudha gimana ?"
__ADS_1
Hening, tidak ada jawaban apapun, Shirleen masih menunggu sementara Weni tidak tau harus menjawab apa.
"Wen, halo kamu masih disana ?"
^^^"Ah iya iya Len, tadi sih baik-baik aja."^^^
"Oh, tapi tadi si Afik bilang Jason harus pergi kesana cepat, aku takut terjadi apa-apa sama Yudha, kamu lagi sibuk nggak ?"
^^^"Aku baru mau ke Butik ini, kenapa ?"^^^
"Eem, ah nggak papa, ya udah kamu ke Butik aja, dari tadi nggak jadi mulu kan ke Butiknya.
^^^"Oh iya, aku mau ke Butik ini, udah dulu yaaa."^^^
"Iyaaa !"
^^^"Daaahh !"^^^
"Dah juga !"
Shirleen dilanda cemas, sebenarnya apa yang terjadi dengan Yudha pikirnya.
Suaminya itu tidak mengangkat telponnya dari tadi, entah sedang apa Jason itu pikirnya. parahkah keadaan Yudha atau apa yang sebenarnya terjadi.
Jacob sedang tidur saat ini, dari pada terus-terusan berpikir yang tidak-tidak lebih baik ia menyiapkan makan malam saja.
Shirleen mulai berkutat di dapur, mencoba menghalau pikiran tentang Yudha dengan menyibukkan diri.
Sementara sesuatu tak terduga sedang terjadi menimpa seseorang.
"Bisa anda jelaskan detilnya ?" tanya seorang Polisi pada wanita dihadapannya.
Riska sudah dua jam lamanya diintrogasi penyidik, dua orang Polisi menemuinya saat ia baru saja hendak keluar dari Kantor Pengadilan Agama tadi, dan duduklah ia disini dikenakan status sebagai saksi atas dua kasus untuk dimintai keterangannya.
Yang pertama sebagai saksi dari jerat pidana kasus perdagangan anak dibawah umur, serta yang kedua mengenai kasus penusukan saudara Athar Adjiandanu yang tidak lain adalah adik kandungnya sendiri.
"Waktu itu saya sedang depresi Pak, saya sudah putus asa, saya juga tidak sadar saat saya ingin mencoba mengakhiri hidup saya, adik kandung saya malah mencegah saya, dan mengambil tangan saya, lalu entah mengapa saya juga tidak bisa berpikir kenapa bisa saya menusuk tepat diperut Athar." ucapnya menjelaskan kejadian sebenarnya, ia jujur saja karena mau bagaimanapun ia memang harus bertanggung jawab.
__ADS_1
"Depresi ? Tapi anda sepertinya baik-baik saja ? Dan anda juga menjual anak kandung anda pada seseorang mucikari, bagaimana bisa ?"
Diam saja, ia tidak bisa menjelasakan mengapa alasannya ia menjual Tiara waktu itu, karena ia juga bingung bagaimana bisa ia berbuat sekeji itu, air matanya luruh jika mengingat tentang Tiara.
"Apakah ada tekanan yang saudari hadapi, semisalnya provokasi dari orang lain, atau masalah yang membut anda jatuh dan sampai depresi seperti yang anda akui tadi ?"
Riska kemudian menjelaskan bagaimana ia berusaha bangkit dari keterpurukan karena mengetahui suaminya yang berselingkuh, ia menjelaskan seluruhnya dengan sedikit dibumbui kebohongan, yang mana bagian dimana Jason yang membuat ulah serta mengancamnya, sama sekali tidak berani ia sebutkan.
"Saya juga tidak mengerti Pak, mungkin karena suatu kebencian membuat saya melupakan suatu hal, bahwa pada kenyataannya Tiara tetaplah anakku, anak kandungku." ucap Riska.
"Ya lalu bagaimana, dari tadi anda memberikan jawaban selalu saja berputar disitu saja, tidak ada titik terang, jika untuk masalah kasus penusukan saudara Athar Adjiandanu sudah bisa kami katakan selesai, kami sudah menemukan titik terangnya, namun untuk kasus jerat pidana perdagangan anak dibawah umur ini kami masih belum bisa mendapatkan jawaban bagaimana kejadian sebenarnya, mohon untuk kooperatif disini kami tidak ada sama sekali mengancam atau menyudutkan anda, kami hanya melakukan tugas sebagaimana mestinya dan anda diminta untuk jujur katakan yang sebenarnya." jelas Pak Polisi, dari tadi ia bahkan sudah lumayan pusing karena jawaban Riska yang berbelit-belit.
"Baik Pak !"
"Ya, saya ulangi pertanyaanya, mengapa anda bisa berniat untuk menjual anak kandung anda sendiri ?" tanya Pak Polisi sekali lagi.
"Saya..." gugup Riska.
"Heemm" Pak Polisi masih menunggu semoga pekerjaannya dimudahkan.
Tidak ada lagi jawaban, selalu saja seperti itu.
"Jawab saja dengan bahasamu, misalnya apapun tinggal diceritakan saja mengapa alasannya, tidak perlu merangkai kata yang bagus sebagai penyampaian, kami bisa mengerti meskipun anda mengatakannya sambari mencurahkan isi hati !" ucap Pak Polisi lagi.
Riska menarik nafasnya dalam, bagaimanapun ia harus menyelesaikan semuanya "Saat saya melihat Tiara, bayangan Mas Rendi selalu saja menghantui, Tiara sangat mirip dengan ayahnya, tidak ada celah, kadang saya merasa tidak sudi melihat wajah itu hingga saya mulai memperlakukan Tiara dengan buruk."
"Entah saya dapat dari mana pemikiran seperti itu, saya sungguh menyesal sebenarnya Pak, sampai hari ini saya juga merindukan anak saya, saat kejadian saya menusuk Athar itu, saya benar-benar tengah depresi, saya benar-benar terpuruk, saya merasa kebahagiaan selalu saja tidak berpihak pada saya."
Isak tangis mengiringi penjelasan Riska.
"Baiklah ! Jadi, dapat saya jelaskan bahwa sakit hati adalah faktor utama penyebab saya melakukannya, karena wajah anak saya yang sangat mirip dengan Ayahnya membuat saya lupa bahwa saudari Tiara adalah anak kandung saya. Begitu saja, apa ada yang ingin ditambahkan ?" tanyanya pada Riska setelah ia mengulangi apa yang tadi dijelaskan Riska untuk ia tuangkan sebagai jawaban di Berita Acara Penyidikan.
Riska mengangguk membenarkan, dan mengatakan tidak ada yang ingin ia tambahkan.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!