
"Son, kalo lo nikah ntar kan abis kak Shirleen lahiran, nah lo kan belum tamat SMA nih, lo yakin ?" tanya Afik, kini mereka sedang berada di kelas sembari menunggu guru mata pelajaran yang sepertinya telat masuk.
Jason mengangguk, mengeluarkan suara terlalu mahal baginya.
"Yakin ?"
Jason mengangguk lagi.
"Son, bukannya apa nih ya, lo kan publik figur nih secara, lo bakal terang-terangan nggak ntar ?"
"Heemmm"
Nihil, siapa yang akan bertanggung jawab untuk semua ini, ketika kita berbicara panjang lebar namun hanya dibalas dengan heemmm, emang dasar Jason sialan.
"Ya ya ya, anggap aja gue rumput yang bergoyang, kan anjim"
Lima menit, sepuluh menit, hanya ada keheningan, udara menyesakkan disekitar membuat Afik seakan gila sendiri. Membolak balik buku, main gadget sudah ia lakukan, hufft biasanya ia tidak sebosan ini.
Ketika main hape sudah bisa dikatakan membosankan, disitulah level kebosanan anak muda sedang di atas-atasnya.
"Gue bakal rahasiain pernikahan gue, lo santai aja kali, kita bakal tetep lulus bareng" ucap Jason yang semakin tak tega melihat Afik yang menekuk wajahnya sedari tadi. Ia akhirnya mau buka suara, sayang sekali kan jika sahabatnya ini harus mati penasaran.
Afik menoleh, apa ada yang bicara padanya.
Pagi ini entah sudah keberapa kalinya Athar beristighfar, Riana makin menggila.
Semalam Riana mulai berhalusinasi lagi, ia bingung harus berbuat apa, dan paginya sebuah kenyataan yang tidak ingin ia lihat namun harus ia akui, Riana itu istrinya.
Suminem hampir saja mati dicekik oleh istrinya, dengan mata yang memerah dan penuh kebencian, Riana menganggap Suminem adalah Shirleen.
Athar kira pernyataan maaf seolah menyesal waktu itu memang benar istrinya katakan dari hati, tapi ternyata tidak, hari ini istrinya bahkan menunjukkan betapa ia membenci Shirleen, luar biasa.
Athar hari ini izin dari kantornya, ia marah terhadap kelakuan Riana, sudah sekarat seperti itu masih juga banyak tingkahnya, ia sudah memutuskan akan membawa Riana ke rumah sakit jiwa, melihat perlakuan istrinya pada Suminem tadi, ia takut Riana akan melukai orang lain, apa lagi dirumah ini ada Fahira, ia tidak ingin mengambil resiko.
Riana tampak ketakutan, ia tidak tau kenapa emosinya begitu tidak stabil membuat ia sering melakukan tindakan diluar nalar, ia hampir saja membunuh Suminem dengan tangannya, ada apa dengan dirinya yang semakin diluar kendali ini.
Ia melihat suaminya datar tanpa ekspresi, walaupun kemarin-kemarin Athar juga tidak bicara padanya, tapi pandangan dan sikap suaminya itu masih berbaik hati, memperlakukan ia dengan layak selayaknya istri, namun saat ini lain sekali rasanya, Athar diam saja matanya syarat akan kekecewaan.
__ADS_1
Percayalah Mas, aku juga tidak ingin seperti ini.
Pagi itu juga, setelah mengemasi berkas untuk mendaftarkan Riana ke rumah sakit jiwa, ia membawa Riana, hanya berdua karena Suminem terlihat sangat ketakutan dan athar juga tidak menawarinya untuk ikut, Athar paham siapa yang tidak trauma jika dihadapkan dengan kondisi seperti tadi.
Riana harap-harap cemas, ia tidak berani bertanya akan dibawa kemana ia.
Satu tujuan yang paling tidak ingin ia tuju adalah rumah sakit jiwa, sungguh jika suaminya membawanya ke tempat itu, ia benar-benar pupus, dengan begitu ia benar-benar sudah tidak diharapkan lagi.
Riana hanya diam disepanjang perjalanan, ia tidak berani membuka suara, sesekali ia menoleh kearah suaminya, Athar pun enggan mengajaknya bicara.
Tiga puluh menit berlalu, Riana kecewa melihat gerbang yang bertuliskan nama tempat yang paling ia hindari. Benar dugaannya, suatu hari nanti Athar pasti akan membawanya kesini.
Ingin Riana pulang kerumah keluarganya saat itu juga, namun ia sudah tidak diterima, sebenarnya ibunya Athar tidak mengetahui seluk beluk keluarganya dengan baik saat mengenalnya, ia saat itu hanyalah wanita yang bekerja sebagai wanita malam mengatakan kalau ia memiliki perkerjaan sebagai buruh pabrik, ia menipu ibunya Athar mengatakan kalau ia adalah seorang janda yang ditinggal suaminya dan harus bertahan hidup sebatang kara.
Hal itu membuat ibunya Athar tersentuh, dan bodohnya percaya begitu saja.
Tidak heran jika ia bisa menjalankan aksi penjebakan Athar malam itu dengan lancar, karena hal semacam itu memang sudah biasa ia lakukan.
Dunia malam adalah hidupnya, **** dan alkohol adalah temannya, itulah cara ia mencukupi hidup tinggi gengsinya.
Mengenal Athar membuatnya gelap mata, harta yang cukup dan wajah yang tampan membuatnya mengabaikan status Athar yang saat itu adalah suami orang. Ia menyetujui cepat kerja sama dengan calon mertuanya waktu itu. Ia pikir inilah awal hidup mewahnya.
Awalnya ia hanya ingin menguras harta suaminya itu, namun setelah hamil dan mengetahui akan menjadi seorang ibu, pelan mindsetnya berubah, perlakuan Athar yang selalu menuruti dan memanjakannya membuat ia benar-benar mencintai suaminya itu, lalu ia pun jatuh sakit, dilihatnya Athar sangat setia dengannya dan mau merawatnya, hal itu membuat ia menyesal telah pernah memanfaatkan suaminya dulu.
Hari ini Athar membawanya ke rumah sakit jiwa, seketika harapan hidup bahagia bersama keluarga kecilnya luruh begitu saja.
Hari itu pasti akan datang...
Sementara itu, disebuah kamar seorang wanita sedang tersenyum menyeringai.
Ia tidak menyangka hasil pekerjaannya begitu efektif.
"Hahaha" ia kini bisa tertawa bebas.
Jika aku tidak bisa membunuhmu, maka jangan salahkan aku bila membuatmu harus pergi dari sini. Kau hanya akan menghalangiku liburan jika kau masih disini.
Shakira tersenyum puas, akhirnya ia bebas.
__ADS_1
Shirleen merasakan perutnya sakit lagi, kontraksi palsu lagi pikirnya.
Akhir-akhir ini ia merasa tidak begitu banyak aktivitas yang berlebihan, ia juga sudah makan dengan teratur, minum air putih yang cukup, tapi mulas itu datang lagi.
Ia menuju kamar mandi,
Ia mencoba buang air besar supaya bisa menghilangkan mulas, namun tidak bisa, nampaknya bukan itu yang perutnya inginkan.
Ia keluar dari kamar mandi, diusapnya perut buncit itu, berjalan menuju dapur untuk membuat teh hangat, berharap bisa meredakan sakitnya.
Misca sedang diasuh oleh maid, mereka sedang diruang keluarga bermain dan menggambar mengikuti kemauan Misca.
Benar saja, beberapa menit berlalu, mulas diperutnya berangsur membaik. Ia lega, semoga saja tidak terjadi sesuatu yang seperti kemarin.
Lalu ia bergabung bersama Misca dan maidnya, ia tidak ikut bermain, ia hanya memperhatikan keduanya.
"Nona Shirleen, apa nona baik-baik saja ?" Tanya maid tersebut, ia melihat nona mudanya itu seperti agak pucat.
"Ya, aku baik-baik saja" jawab Shirleen.
"Nona Muda, jika nona butuh sesuatu, panggil saya saja, saya siap melakukan apapun" ucapnya, ia tidak ingin melakukan kesalahan sekecil apapun, Tuan muda Jason sudah berpesan padanya dengan nada ancaman.
"Ipah, kau sudah mengatakan itu lebih dari sepuluh kali hari ini, kalau ada apa-apa aku pasti akan memanggilmu, tenang saja" ucapnya pada Maid yang bernama Ipah itu. Ipah nampak seusia dengannya entahlah masih tuaan siapa.
"Baik Nona"
Bersambung...
*
*
*
Like, koment, dan vote
Happy reading !!!
__ADS_1