
"Dimana istriku ?" teriakan Jason menggema saat pintu telah dibuka.
"Gue gak tau dimana istri lo, lagi pula untuk apa lo datang kesini dan teriak-teriak kayak orang yang gak punya sopan santun aja, nanyain istri lo, heh lo pikir kita gila kenal istri lo aja nggak" ucap Axel, ia juga heran mengapa tiba-tiba Jason datang kerumahnya dan menanyakan keberadaan istrinya, dini hari seperti ini apa seorang Jason Ares Adrian sudah tidak waras.
"Dimana bokap lo ?" tanya Jason penuh dengan amarah.
"Bokap gue lagi di Paris, apaan sih heran deh" acuh Axel.
"Ini udah malem woy, mau bertamu liat jam juga kali" lanjutnya lagi.
"Gue tanya dimana Fredy Nickholas ?" tanya Jason lagi sembari menarik kerah baju Axel, ia yakin sekali semua yang terjadi adalah ulah tuan Fred ayahnya.
"Gue nggak tau yaelah, heh jangan kira gue takut ya sama lo, bokap gue lagi di Paris udah satu minggu dia nggak pulang, kalo lo nggak percaya cek aja sendiri, bukannya lo ahli nyari bahkan mata-matain orang"
"Gue tanya sekali lagi dimana Fredy Nicholas ?" tatapan itu sedikit berhasil membuat nyali Axel menciut, ia biasanya tidak punya ketakutan sama sekali dengan Jason, karena baginya ia dan Jason sebanding, dibekali ilmu bela diri dan menembak yang sama terlatihnya.
"Gue nggak tau bego, lo cari aja deh sendiri kalo emang tu orang tua nggak ada di Paris, gue nggak tau sumpah, heh gue masih sabar yaaa" ucap Axel yang mulai risih dengan tatapan Jason.
Doorr...
Jason menembak sembarang rumah Tuan Fred, ia tidak mau tau baginya Tuan Fred harus keluar dari persembunyiannya.
"Brengsek..." Axel yang selalu menyelipkan senjata di celananya tidak mau kalah, ia merasa harus menodongkan senjata apinya pada Jason.
"Panggil bokap lo, atau lo tewas hari ini" ancam Jason.
"Gue nggak tau, dan gue nggak tau ada urusan apa lo ama bokap gue, kalau bisa lo segera selesein dan cari dia, soalnya gue nggak tau dia dimana, dan yang jelas dia nggak ada disini" jelas Axel.
Axel juga penasaran mengapa seseorang yang sudah bagai guru dan murid harus berseteru seperti ini, karena dilihat dari mata Jason, tatapan pemuda itu syarat akan kemarahan.
"Gue nggak takut, ingat Men kita sama, lo nggak lebih baik dari gue" lanjut Axel lagi.
Dooorrr.
Sebuah peluru bersarang dilengan Axel kala Jason mulai menembaknya, Axel tidak bisa menghindari tembakan Jason yang terjadi dengan sangat cepat, lama tidak berlatih dengan Jason ternyata lumayan juga perkembangannya.
__ADS_1
"Sialan"
Dooorrr.
Peluru itu nyasar mengenai pintu utama, Jason berhasil mengelak, ia kemudian dengan sigap menendang tangan kanan Axel yang masih memegang senjata hingga senjata itu terlempar kesembarang arah.
Dengan segera Jason melumpuhkan Axel, Axel tidak bisa melawan, lama tidak bertemu Jason ternyata Jason sudah lebih handal darinya.
Kini sebuah pistol siap menembus kepalanya, jika ia tidak memberitahukan dimana keberadaan Ayahnya.
"Gue tanya dimana bokap lo" tanya Jason lagi berteriak.
"Son gue beneran nggak tau, sumpah gue nggak tau" sahut Axel, ia berkata jujur karena ia memang tidak mengetahui ayahnya sedang berada dimana saat ini.
"Dooorrrr..." sebuah peluru berhasil mendarat di kaki Axel lagi, Jason memang tidak main-main berarti masalah yang sedang ia hadapi dengan ayahnya benar-benar serius pikir Axel.
"Aaarrhhhh" erang Axel, lengan dan kakinya tidak berhenti mengeluarkan darah segar sedari tadi.
"Hubungin Bokap lo sekarang" perintah Jason.
Axel menurut, jelas saja karena jika tidak entah dimana akan mendaratnya tembakan ketiga, beruntung kedua tembakan tadi mendarat masih jauh dengan nyawanya.
Tidak tersambung, Axel semakin ketar-ketir menangkap tatapan Jason yang seakan memangsanya.
"Gue udah hubungin, dan lo bahkan denger sendiri nggak tersambung, udah Son gue beneran nggak tau" ucap Axel mencoba meyakinkan Jason dan bernegosiasi untuk kebebasannya.
"Lacak dia" perintah Jason lagi.
Axel terpaksa harus menurut, ia dengan tangan kosongnya sementara Jason masih menempelkan ujung pistol pada pelipisnya. Ia harus menerima segala kekonyolan ini, ia yang tidak tau apa-apa pun harus mendapatkan luka tak terduga malam ini.
Namun lagi dan lagi Jason harus menemukan jalan buntu karena ponsel Tuan Fred sama sekali tidak bisa di lacak.
Ia semakin yakin bahwa Tuan Fredlah pelaku dari semua yang terjadi pada istrinya.
Dooorrrr...
__ADS_1
Lagi dan lagi Axel harus membayar apa yang tidak berhasil ia lakukan, kini kaki kirinya tidak akan iri karena juga telah mendapatkan tembakan.
"Aaasshhh" desah Axel menahan sakit, ia tinggal dirumah hanya sendiri, dan nantinya pasti akan merawat semua luka ini sendiri.
Dasar brengsek, bajingan, tidak punya belas kasih, berhati batu udah dibilang gue nggak tau masih juga nggak terima.
"Lo disini dan kalau bokap lo balik, segera hubungin gue, kalau lo berani macam-macam gue bisa pastiin hidup lo nggak bakalan normal lagi" perintah Jason sekaligus berisi ancaman.
Jason kembali ke mobilnya, ia memutuskan akan mencari Shirleen lagi, dan juga mencari tuan Fred mungkin.
"Haahhh" desah kasar Jason, ia tidak ingin menyerah, namun ia tidak punya petunjuk untuk mencari keberadaan Shirleen.
"By..."
Jason menoleh, suara Shirleen lagi dengan jelas yang ia dengar, ia mengedarkan pandangannya, seluas yang ia lihat tidak ada siapapun disitu, berhalusinasi lagi... Sejak kapan ia selalu berhalusinasi seperti itu.
Ia mulai melajukan mobilnya, ia akan pulang kerumah dan berencana mencari petunjuk keberadaan istrinya di rumah.
Sekitar tiga puluh lima menit berlalu, mobil mewahnya sudah terparkir sembarang di halaman rumahnya, lagi dan lagi rumah tampak sepi bisa dipastikan istrinya itu benar-benar tidak pulang, setelah tadi ia mencoba berharap akan mendapati istrinya itu dirumah namun ternyata tidak, segalanya memang benar terjadi.
Satu hal yang ia takutkan, Tuan Fred bisa mengetahui segala rahasianya mengingat ia dan Tuan Fred tidak ada bedanya, mungkinkah Tuan Fred telah memberitahukan segala yang ia sembunyikan pada istrinya itu, sehingga sekarang mungkinkah Shirleen sudah meninggalkannya.
Padahal jelas sekali ia sudah berjanji pada sang istri untuk meninggalkan dunia hitamnya.
Namun harta kekayaan yang selalu melekat pada hidupnya sedari lahir membuat ia tidak rela melepas apa yang telah ia dapatkan begitu saja, hingga ia nekat mencari jalan keluar dengan ia yang seolah berhenti namun masih tidak mau rugi.
"Dengarkan aku, jika kau bisa berjanji tidak akan meninggalkan aku lagi, maka aku juga bisa berjanji untuk meninggalkan semua itu"
Bayang-bayang perjanjiannya dengan Shirleen terlintas jelas dikepalanya, ia yang telah ingkar meski ia sudah berhenti, ia telah ingkar dan ia sebenarnya menyadari itu dari semenjak memutuskan berhenti namun ia tetap abai, ia berharap bisa diterima oleh Shirleen, tidak bukan seperti ini yang ia inginkan, jauh dari Shirleen sungguh membuatnya gila.
"Kau dimana By..."
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!