
Tok tok tok,
Suara pintu diketuk pelan, Ibunya Weni yang sedang berada di dapur gegas membukakan pintu.
"Cari siapa ?" tanyanya pada seorang pemuda yang kalau tidak salah ia pernah melihatnya, hanya saja ia lupa dimananya, maklum saja faktor U memang sangat berpengaruh pada daya ingat otak.
"Weninya ada Tante ?" tanya Angga, iya Angga sudah sampai di rumah Weni, tempat yang ia tuju untuk mencari Weni pertama kalinya.
Ah iya, Ibunya Weni ingat, pemuda dihadapannya ini adalah salah satu dari temannya Yudha yang waktu itu pernah kemari bersama Shirleen.
"Weninya dari tadi pagi udah berangkat ke Butik, udah pernah ke Butik belum sebelum kesini ?" ucap Ibunya Weni.
"Oh belum Tante, emm Butiknya dimana ya ?" tanya Angga lagi.
"Tau Butik Angels W nggak ?" tanya balik Ibunya Weni.
Angga sepertinya cukup familiar dengan nama Butik tersebut, ia mencoba mengingat ingat, beberapa detik kemudian, astagah itukan salah satu Butik langganan Mamanya pikir Angga seperti berhasil memecahkan suatu masalah.
"Tau Tante, yang dijalan X Itu kan ?" tanya Angga.
"Nah iya, coba temuin dia disitu, dia belum ada pulang sih dari tadi." jawab Ibunya Weni
"Iya Tante, kalau gitu makasih ya, aku permisi dulu ini, maaf udah ngerepotin !" ucap Angga.
"Iya nggak papa, nggak ngerepotin apa kok !"
Segera saja Angga melajukan motor sportnya ke Butik Angels W, yang ia ketahui mungkin Weni bekerja di Butik tersebut, karena cara Weni berpakaian sehari harinya memang tidak mengentarakan kalau ia adalah seorang pemilik dari sebuah Butik yang lumayan terkenal.
Kembali kerumah mewah nan megah, Shirleen tengah mondar-mandir di ruang keluarga, Jason benar-benar tidak mengangkat telponnya, membuat ia semakin dilanda khawatir.
Ditengah kekhawatirannya, Jacob malah sudah hilang dari pandangannya padahal baru saja ia melepaskan pengawasannya, ia melihat sekeliling, bayi itu lumayan aktif saat sudah bisa merangkak di sekitar dua hari ini.
Gorden seakan berkibar menandakan ada sesuatu dibagian sana, Shirleen tersenyun samar, bayinya itu pasti sangat menggemaskan jika sedikit diberi kejutan.
"Dimana sayangnya Mama ya, mana dia ?" ucap Shirleen dengan arah yang semakin mendekat.
"Adek, mana anaknya Mama ?"
"Hee hee waawaa." suara bayinya sudah terdengar jelas.
__ADS_1
"Adeekk !" panggil Shirleen lagi.
"Waa waa."
"Doorr !" ucap Shirleen pelan, Jacob malah tertawa riang mendengar sedikit kejutannya.
"Heekk heekk heekk."
"Anak mama udah pinter yaa, makin pinter ini, kasih tau papa nanti ya, adek udah mulai nakal ini, mau mama bilangin ?" Shirleen begitu memanjakan Jacob, Jacob juga nampak senang diperlakukan Shirleen dengan sangat istimewa dan penuh perhatian.
"Mana kakak Misca ya, belum pulang Kakak Misca ini ?" ucap Shirleen lagi, Misca memang belum pulang dari menjenguk Athar, entah kemana anak gadisnya dan Ipah pergi setelahnya pikir Shirleen.
Lalu, Shirleen kembali bermain dengan Jacob, pelan rasa kekhawatirannya terhadap Yudha bisa diredam juga, Jacob sudah sangat menghiburnya.
Di Rumah Sakit.
"Lo harus kuat Yud, liat gue !" ucap Jason untuk kesekian kalinya memperingatkan Yudha.
Yudha masih saja seperti orang yang mati rasa, arah pandangnya lurus ke depan, kalau saja bukan karena takut dibilang tidak berperasaan, Afik sudah dari tadi mencubit keras tangan atau apapun yang bisa menghasilkan rasa sakit di tubuh Yudha, ia benar-benar tidak sabar.
"Gue udah nyakitin dia !" ucap Yudha yang sudah mulai mau berbicara.
Tidak ada jawaban lagi, menatap lurus lagi kedepan.
Gedek gue si cebong nyalinya kok gini amat, malu sama gambar petak-petak di perut lo.
Afik masih memandangi Yudha dengan tatapan tidak percayanya, kemarin karena cewek dinginnya minta ampun, namun apa ini ? Siapa yang menyangka seorang Yudha bisa menjadi selemah ini.
"Junedi, lo kelarin deh, gue mau keluar telpon si Angga !" ucap Afik mohon undur diri.
"Iye sono lo, nggak kebantu juga gue !" ucap Jason.
"Sialan anak setan, gue dari tadi disini lo anggep apa, gue manggilin si cebong juga ya sama kayak lo, gue harus ngapain coba, gue bukan cenayang atau tukang rukiah ya Junedi, gue hanya manusia biasa yang bernafas dengan paru-paru, yang kek beginian paling mentok cuma bantu doa !" ucap Afik, bertambahlah kekesalannya saat Jason mengatakan kehadiarannya seakan hanya absen muka saja, memang cari ribut si Junedi pikirnya.
"Dih marah, sono lo !" ucap Jason.
"Iye gue pigi, awas aje lo kalau panggil gue !" ancam Afik.
Lalu ia keluar dari ruang rawat Yudha, menelpon sahabat kentalnya untuk menanyakan dimana keberadaannya dan apakah Angga sudah menemukan Weni, kalau sudah tolong segera pertemukan dengan Yudha, sungguh demi apapun ia sudah tidak tahan melihat Yudha seperti menderita.
__ADS_1
Panggilam kedua barulah diangkat oleh Angga, tampak hingar saat panggilan yang sudah tersambut disana menandakan sang empuh sedang dalam perjalanan.
^^^"Gue lagi dijalan woy !"^^^
Samar suara khas Angga terdengar di seberang sana, Afik langsung saja mematikan panggilannya.
"Ntar ajalah, pas dia udah nyampe pasti hubungin gue ini."
Afik melihat lagi ke arah kaca di ruang rawat Yudha, dilihatnya Jason masih tetap mengajak bicara Yudha, namun Yudha masih sama tidak bisa merespon dengan benar.
Dada Afik sesak, hatinya sakit, kejadian tiga tahun lalu kembali memenuhi pikirannya, bagaimana jika Yudha sampai drop seperti tiga tahun yang lalu, bagaimana jika Yudha tidak mau bicara dengan siapapun seperti waktu itu, lalu Ia, Jason dan Angga selalu berusaha supaya Yudha bisa bangkit, kembali bisa tertawa, kembali bisa hidup dengan baik, bukan hal mudah yang mereka lakukan waktu itu, kadang cewek memang rumit pikirnya.
Ia benci Yudha yang seperti ini, ia benci mengapa Yudha harus disakiti, Yudha tidak setegar dirinya dan Angga, kenapa bukan ia saja yang ditinggalkan seorang gadis, mungkin ia masih bisa ikhlas dan berpikir jernih jika hanya menyangkut wanita yang belum sah jadi miliknya.
"Afik... Bagaimana keadaan Yudha ?" ucap Mama Wina, sepertinya Mamanya Yudha itu nampak terburu-buru terbukti dari nafasnya yang sedang ngos-ngosan, benar Mama Wina sedang mengatur nafasnya saat ini.
"Lihat saja di dalam tante !" suruh Afik mempersilahkan, ia juga ikut masuk ke dalam, alasannya hanya takut saja kalau terjadi sesuatu dengan Mama Wina saat melihat anaknya yang kembali bersikap seperti tiga tahun lalu.
Mama Wina pun masuk, benar seperti yang dikatakan Angga waktu di telpon, Yudha kembali kumat.
"Kemarin si Serong, lalu kali ini siapa yang telah berani bikin anak Mama jadi kayak gini ?" tanya Mama Wina pada Jason dan Afik.
Jason dan Afik saling melempar pandang, apa mereka harus menyebutkan namanya ? Sayang sekali jika nanti harus hilang dari daftar list.
"Jason, Afik !" ucap Mama Wina menekankan, ada tanda tanya saat ia memanggil kedua nama itu.
"Nggak tau Ma !" jawaban yang dipilih Jason pada Akhirnya.
Sementara Afik mengelus dadanya.
"Siapa ?" tanyanya sekali lagi.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!
__ADS_1