
Jason tersadar dari halusinasinya kala melihat Shirleen sudah memeluknya, pria itu tidak tau kenangan buruk di rumah ini seakan menjadi hantu yang memekakkan telinganya.
"Kamu kenapa By? Udah, tenang ada aku!" ucap Shirleen, istri Jason itu mengusap peluh yang membasahi wajah suaminya.
"Tidak apa!" ucap Jason.
"Ya sudah istirahat, kalau udah enakan nanti kita pulang, aku akan telpon Ipah sebentar."
"Iya By!"
Shirleen menghubungi Ipah, mengatakan bahwa mereka masih di rumah utama keluarga Adrian, Shirleen juga menyuruh Papanya mengantar Ipah dan anak-anak padanya.
Jason masih diam sembari berbaring, merenungi masa lalu yang kelam, sebisa mungkin dirinya harus bisa berluas hati untuk menerima, supaya bayangan atau suara-suara seperti tadi tidak bisa mengganggunya, yah seorang Jason tidak akan kalah dengan emosi yang bisa kapan saja menguasai hati.
Athar mendengar keributan yang terjadi, sebenarnya ia bukanlah orang yang mudah perduli, namun entah kenapa tubuhnya bereaksi dan membawanya ke pusat suara.
"Kalau jal*ng, ya jal*ng aja, kamu sengaja mau godain suami saya kan!" umpat seorang wanita paruh baya memberi malu Lisa.
"Tidak Bu, maaf, bukan begitu maksud saya, tapi..."
"Apa? Kamu mau bilang suami saya yang mau godain kamu, heh kamu pikir saya buta, kamu pikir saya bakalan percaya dengan muka kamu yang udah pernah nongol di tv atas kasus vidio asusila kamu, seorang ******* itu nggak akan berubah jadi alim, murahan ya tetep aja murahan!" ucap wanita itu memandang jijik seorang Lisa.
Athar bisa melihat itu, vidio asusila apa yang dimaksud wanita itu pikir Athar.
"Bu, mohon sabar ya, kita ada cctv kok, kalau benar memang temen saya yang godain suami Ibu, nanti biar Bos kami yang ngurus masalah ini, mohon tenang." ucap salah satu karyawan, Lisa tampak tegang ditenangkan kedua karyawan cafe lainnya.
"Alah, udah lah, saya mau pokoknya pecat aja karyawan gatel kayak dia!"
Lisa menganga tidak percaya, baru saja dirinya merasakan mempunyai teman dan kehidupan normal, namun gara-gara kasus sialan itu namanya sudah di cap buruk bahkan meskipun dirinya tidak melakukan kesalahan sedikitpun.
__ADS_1
Lisa memang membenarkan dirinya memegang tangan suami dari Ibu-Ibu yang mencelanya itu, namun bukan berarti dirinya yang harus disalahkan. Suami Ibu ini saja yang mata keranjang, dengan tidak tau malunya menampar bokong Lisa tiba-tiba, dan untuk yang kedua kalinya Lisa sudah waspada, dia melihat pergerakan tangan pria tua itu dan langsung menghentikan dengan memegang cepat tangannya, dan saat itu juga istri dari Bapak itu memergoki sehingga menimbulkan kesalahpahaman.
Lisa ingin menjelaskan, namun bagai ditelanjangi, bahkan orang-orang di sekitar kejadian pun tidak ada yang berniat membelanya, lidahnya kelu terlebih dadanya begitu sesak karena tuduhan bahkan hinaan yang dirinya terima.
Memang benar kalau ada yang mengatakan sekali saja kita melakukan kesalahan meski dulunya beribu-ribu kali kita berbuat baik sekalipun, semua itu tidak akan ada gunanya, orang tidak akan mengenang kebaikan namun hak buruk yang sudah dikubur dalam pun masih juga diingat.
Beruntung kedatangan Zalin, Vita, dan Naura bisa sedikit melegakan hatinya, dirinya bisa berpegangan untuk tidak benar-benar ambruk, Lisa masih bisa sadar bahwa saat dirinya memutuskan untuk hidup normalnya maka hal seperti inilah yang akan dirinya hadapi.
Dirinya heran, kadang artis tanah air ini bahkan melakukan hal lebih dari dirinya, namun sayangnya masih bisa diterima dan bahkan dengan senang hati meniti karir seolah tidak terjadi apa-apa, lalu mengapa dirinya semenyedihkan ini?
"Maaf, Ibu, Bapak, pengunjung sekalian, ada baiknya kalian bubar dan tidak memperkeruh suasana, kalian tentu tau siapa pemilik dari cafe ini kan, jika hal seperti ini diketahui olehnya, mungkin kalian juga tau apa konsekuensinya, terlebih Ibu dan Mbak ini, saya tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, siapa yang benar dan siapa yang salah di sini? Namun satu, pemilik cafe ini tidak akan senang dengan perdebatan antara kalian, kalau Ibu memang menganggap tuduhan Ibu sangat mendasar dan begitupun Mbak ini kalau menganggap yang dia lakukan tidak salah, mari kita lihat cctv sebagai bukti, tidak ada yang perlu ditakuti jika kalian tidak salah."
Lisa tidak menyangka, seorang pria dengan tenang menghadapi masalahnya, dan sayangnya pria itu adalah pria yang dirinya sukai.
Athar berdiri diantara kerumunan pengunjung, dirinya hendak menengahi, setelah melihat tatapan lapar dan penuh minat suami dari Ibu-ibu yang menuduh itu pada Lisa, Athar jadi merasa kasihan, entah mengapa dirinya yakin bahwa Lisa tidak bersalah.
Terlebih pria tua yang menjadi suami dari Ibu itu tampak bangga karena istrinya membelanya. Dan sekarang yang Athar bisa lihat pria tua itu sedikit terkejut akan usulnya.
"Mari, Ibu, Bapak, Mbak tau di mana letak ruang cctvnya?" tanya Athar pada Lisa.
"Ikut saya Mas!" ucap karyawan lainnya, Zalin sangat antusias akan hal itu, dirinya juga yakin bahwa Lisa tidak bersalah.
Lalu, Athar, Lisa, dan pasangan suami istri yang sudah marah-marah tadi, serta Zalin menuju ruang cctv cafe Jash tersebut.
"By, liat deh, keknya aku harus ke cafe mungkin!" ucap Shirleen saat melihat vidio yang beredar di sosial medianya, sebuah akun mengunggah kejadian yang menimpa salah satu karyawannya serta tag lokasi yang tertera merupakan cafenya.
"Kenapa?" tanya Jason, pemuda itu baru saja keluar dari kamar mandi, membersihkan dirinya untuk membuat badan dan kepalanya biar lebih segar.
"Ini, ada sedikit masalah sama karyawan cafe, kamu mau ikut nggak?" tanya Shirleen.
__ADS_1
"Ya udah aku temenin, anak-anak juga dibawa biar kita sekalian pulang." jawab Jason.
"Ya udah."
Duo bocil dan Ipah padahal baru saja sampai di rumah utama keluarga Adrian diantarkan Pak Haris, dan Shirleen sudah menyuruh Ipah bersiap lagi untuk pulang ke rumah.
"Saya juga sudah lihat Nona!" ucap Ipah membenarkan vidio yang beredar.
"Semoga aja kesalahan bukan dari karyawanku." ucap Shirleen.
Dirinya tidak tau siapa karyawannya yang bermasalah, namun seorang Shirleen tidak berharap kesalahan berasal dari karyawan cafenya, bukan hanya karena citra cafe Jash yang ia pikirkan, namun harga diri para karyawannya yang lebih utama.
"Semoga saja Nona!"
Lalu Shirleen dan Jason berpamitan pada kedua orang tua Jason untuk pulang, dan langsung menuju cafe Jash.
Saat sampai di cafe, suasana sudah biasa saja, cafe tersebut masih seperti biasa ramai pengunjung, Shirleen memanggil salah satu karyawannya, menanyakan vidio yang beredar di sosial media, dan karyawannya itu membenarkan.
"Tapi sudah selesai Bu, itu bisa diatasi, Lisa tidak bersalah kok, Ibu itu bahkan malu dan minta maaf atas tuduhannya. Awalnya nggak mau tapi ada salah satu pengunjung cafe juga yang memaksa ibu itu untuk minta maaf, kalau enggak katanya masalah ini bakalan di kasih tau sama Tuan Jason." jelas Alvin, karyawan cafe Jash.
"Apa orang-orang yang bermasalah itu masih ada di sini?" tanya Jason.
Bersambung...
*
*
*
__ADS_1
Like, koment, and Vote !!!