
"Aku tidak menyangka Bu, perubahannya begitu cepat, benar-benar berpengaruh !" ucap Sri pada Bu Halima. Kala itu Bu Halima sedang berkunjung ke toko yang juga sekaligus rumah anak dan mantunya.
"Dia bahkan mencium tangan Ibu terus-terusan Sri, katanya beruntung sekali dinikahkan denganmu."
"Apa iya Bu ?" tanya Sri, ia tidak menyangka Dareen akan seantusias itu.
"Iya lho, sampai menangis keluar ingus dia katanya makasih, untuk istri yang sholeha, untuk istri yang sangat berbakti, untuk istri yang mendekati sempurna !" jelas Bu Halima, menjelaskan sama seperti saat Dareen berterimakasih padanya tempo hari, tidak kurang tidak lebih.
"Ibuuuu..." Sri memeluk mertuanya itu, ah kebahagiaan seakan tiada hentinya melimpah ruah padanya, meski hidupnya pernah diberikan cobaan, ditipu, hingga membuat kecewa orang tuanya, namun saat ini ia bisa berbangga hati, memiliki Dareen dan Fahira dihidupnya, serta keluarga Dareen yang sangat menerima kehadirannya.
"Anak Ibu !" ucap Bu Halima sembari mengusap punggung Sri.
"Terimakasih sudah menjadi Ibuku, aku bahagia sekali saat ini Bu !" jujur Sri.
"Ibu juga tidak menyangka, perempuan yang ibu tolong saat di Masjid beberapa bulan lalu akan menjadi anak Ibu."
"Ah Ibu selalu membuatku terharu !" ucap Sri.
"Kamu adalah jodoh yang dikirimkan Allah untuk Dareen kami, kamu adalah kebanggaan kami." ujar Bu Halima lagi.
Sementara di sebuah rumah mewah, Shirleen sedang menatap cemas saat suaminya menerima telpon dari Afik.
"Kenapa sih By ?" tanyanya.
"Yudha, aku harus segera ke Rumah Sakit !" jawab Jason.
"By, kenapa ? Apa terjadi sesuatu sama Yudha ?" tanya Shirleen curiga.
"Nanti aku jelaskan saat sudah lihat kondisinya, Afik hanya menyuruhku ke Rumah Sakit." ucap Jason berdusta, bagaimana mungkin ia menjelaskan detilnya, ia juga tidak tau harus mengatakan apa, di telpon tadi Afik menjelaskan mungkin semua yang terjadi pada Yudha mengarah ke Weni, dan dia tidak mungkin mengatakan itu pada Shirleen.
"Oh, ya sudah nanti segera kabari aku ya !" ucap Shirleen.
__ADS_1
"Iya aku pergi ya !" pamit Jason, ia mengecup singkat bibir istrinya itu kemudian berlalu.
"Selalu saja seperti ini, baru juga mau cium tangan udah nyosor aja." gerutu Shirleen, karena uluran tangannya sama sekali tidak dijabat oleh Jason.
Celana training hitam, kaos oblong warna hijau botol, sandal jepit biasa meski harganya selangit, Jason tidak sadar akan penampilannya, untung saja tidak ada yang berani protes, dan yang memakai kostum tipe orang yang bodo amat, jadi saat di Rumah Sakit yang berani melihat aneh padanya hanya Angga dan Afik.
"Ancur langsung image pria kol sama penampilan lo yang kek gini Junedi, lo mau ke Rumah Sakit ape ke Kebun ?" sindir Afik, namun yang disindir nampak biasa saja, entah sudah kebal atau memang selalu saja tidak mau tau.
"Iye tinggal ditambahin caping aja, udeh tuh siap macul, orang mana tau yang lo pake branded !" tambah Angga.
"Gue udah panik dapet telpon Yudha kek gini, lo pada masih bisanya nilai penampilan, heran gue !" ujar Jason, walaupun ia mengakui penampilannya memang kurang mengena, seenggaknya ia tadi ganti kostum dulu sebelum kesini namun karena terburu-buru, ya sudahlah semua its oke wae kok, yang paling penting adalah muka, bangga Jason pada dirinya.
"Nih si cebong napa, Weninya mana ?" tanya langsung Jason.
"Gue nggak tau, eh Mama Wina kemana sih, tadi kan terakhir sama lo ?" tanya Afik pada Jason.
"Mama Wina ke Klinik tadi bilangnya, ia ada janji praktik, udah tau belum anaknya kumat gini ?" ujar Jason.
"Gue belum ngasih tau sih, mau runding dulu, nah makannya gue suruh lo kesini cepet !"
"Iye iye Junedi !" langsung saja Angga menelpon Mama Wina memberitahukan kondisi Yudha.
"Yud, Yud, ini gue, lo kenapa ?" panggil Jason pada Yudha yang nampak meringkuk membelakangi mereka, ia mulai mendekati Yudha, dilihatnya tatapan Yudha kosong, yang Jason tebak seakan berpikir keras dan menyalahkan dirinya sendiri.
"Kayak gitulah terus Son dari tadi, temen bini lo nggak bertanggung jawab banget emang." ucap Afik menuding Weni, saat ini ia sungguh kesal.
"Gue takutnya nih anak nggak makan nggak ngapain lagi kayak waktu ditinggalin si Serong kewong." sambung Angga, yang baru saja selesai menelpon Mama Wina.
"Iya woy, hampir sebulan kayak beban hidup banget." ucap Afik menyetujui ucapan Angga.
"Hemm" singkat Jason.
__ADS_1
"Heran gue, ganteng-ganteng tapi lemah." ucap Afik spontan, mulutnya yang memang bon cabe selalu saja asal nyablak.
"Wess Men, jan kek gitu dong, lo nggak bisa bilang gitu, dia temen kita." debat Angga.
"Ya abis gue kesel Ga, cuma gegara cewek !" ucap Afik lagi.
"Yudha adalah orang yang nggak mudah jatuh cinta, dan orang yang nggak mudah jatuh cinta nantinya akan susah buat move on !" ucap Jason menengahi.
Angga dan Afik diam menyimak, berkawan selama enam tahun dikiranya mereka memang sudah cukup mengenal, namun ternyata belum cukup untuk mereka saling memahami satu sama lain.
"Kalau lo bilang Yudha lemah, sekarang gue tanya sama lo, seberapa sering lo tertarik akan cewek dalam satu tahunnya ?" tanya Jason pada Afik yang tadi sempat julid pada Yudha.
Afik terdiam, jika boleh jujur sering sekali, ah sering banget malah, semisal ada cewek cantik lewat aja dia udah tertarik, sayangnya aja si ceweknya nggak mau sama dia.
"Dengan lo yang pecicilan gue bisa tebak, nah coba lo liat Yudha, lo bandingin hidupnya sama lo dan Angga." ucap Jason lagi.
"Iya Fik, seharusnya lo ngerti, selama ini semenjak ditinggal Serong, Yudha nggak pernah tertarik lagi sama cewek, pan lo sendiri yang bilang Yudha manusia es kedua." ucap Angga menasihati Afik.
"Kita nggak pernah tau, eh maksudnya kita kan belum tau ada masalah apa Yudha sama Weni, kali aja emang ngena, kali aja emang berat, setiap orang kan punya masalah yang beda-beda." tambah Angga lagi.
Afik menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ah salah lagi dia batinnya.
"Sekarang bukan saatnya bilang Yudha kek gimananya, disini kita harus bantu Yudha buat keluar dari keterpurukannya, kadang ada orang itu yang kalau ditimpa masalah langsung down. ya kayak Yudha ini contohnya." jelas Jason bijak luar biasa, Angga sampai mau beri standing applause bertubi-tubi, tapi takut pula dikata lebay.
Padahal yang sebenarnya Jason pernah mengalami masalah yang sangat berat dalam hidupnya, mungkin jika dibandingkan dengan para sahabat kentalnya itu masalah dialah yang paling berat, namun karena sebuah masalah itu jualah dia bisa berpikir lebih dewasa.
"Iya gue minta maaf, abis gue gedek, kalau misalkan nih ya emang bener si cebong kek gini gara-gara temen bini lo itu, heh gue bakalan buat dia minta maaf pokoknya sama nih anak, awas ajah tuh cewek." ucap Afik, ada sesal dan kemarahan menyatu dalam kata-katanya itu.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!