Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Gue suka gue suka.


__ADS_3

"Lo tega bener nikahin Shakira sama Pak Roy, gak mikirin banget perasaan temen." keluh Angga, semenjak melihat Shakira tadi ia menjadi tidak bersemangat, bakso yang ia pesan saja saat ini hanya sebatas diaduk-aduk olehnya, seperti perasaannya sekarang yang sedang teraduk-aduk.


"Orang mereka yang mau nikah, ngapain gue larang, bukan gue kali yang nikahin, Pak Penghulu." protes Jason, tidak taukah Angga bahwa dirinya saja tidak diundang pada saat Roy dan Shakira menikah, dapat kabar tau-tau dua anak buahnya itu ternyata sudah menikah secara sirih, apa yang harus ia lakukan tidak mungkin kan menghalangi kebahagiaan orang-orangnya.


"Udah lah Ga, cari aja gebetan baru, bukan rezekinya lo itu." ucap Afik.


"Bukan rezeki, lo kata barang apa!" kesal Angga.


"Udah udah , malu sama kegantengan yang hakiki, masa gara-gara cewek satu aja bego, katanya playboy!" ucap Afik, bak setan yang mengompori.


"Ah iya bener, ngapain juga ya!" ucap Angga yang seakan telah kembali tengilnya.


Jason tersenyum miring, sebentar kesal sebentar percaya diri yang terlalu, dasar plin plan pikirnya.


"Eh Fik, gue mau nanya nih!" ucap Angga lagi.


"Nanya apaan?"


"Tapi kali aja lo inget yaaa, mana tau kan, kira-kira beberapa bulan kebelakang atau baru-baru ini, ada nggak sih gue diajak kenalan sama cewek, kira-kira ceweknya itu nggak terlalu tinggi, rambutnya item, matanya agak belok gitu, kalau untuk kulit normal deh apa putih ya, soalnya malem itu gue nggak bisa mengenalinya dengan jelas." jelas Angga.


"Ya si ege, ya mana gue tau, orang lo diajak kenalan cewek udah bejibun, dengan ciri-ciri yang lo bilang kek gitu pasaran banget kali, mungkin ada sepuluh orang cewek yang bentukannya kayak yang lo bilang tadi selama beberapa bulan ke belakang." ucap Afik, Angga kira dirinya pengamat wanita apa.


"Hemmm, ya juga ya, tapi gue penasaran sih, awalnya dia seneng banget ketemu gue, tapi pas gue bilang siapa yaaa karena gue nggak kenal dia, yah dianya jadi garang banget." keluh Angga.


"Haha, mampus lo, makanya jangan suka mainin cewek." ejek Afik.


"Ya bukan apa Fik, gue beneran ngerasa nggak pernah kenalan sama dia, memori otak gue juga perasaan gak penuh-penuh amat, masih bisalah ngingetin setiap cewek yang pernah ngajakin gue kenalan meski gue nggak inget namanya satu-satu, lah tapi perasaan tuh cewek beneran gue nggak kenal deh." ucap Angga membela diri.


"Fans lo kali!" ucap Jason.

__ADS_1


"Lah Junedi, tumben lo tertarik bahasan ginian, eh apa iya ya, kali aja emang gak pernah ngajakin gue kenalan, dia aja yang tau ama gue sementara gue enggak."


"Heeh, sok ngartis lo!"


"Weekk, ya kalik kan, kali aja gue emang seterkenal itu."


"Ketemu dimana sih?" tanya Afik.


"Adalah itu di deket perempatan yang gak jauh dari rumah lo, malem-malem motornya mogok, ya gue anterin dah, tapi dianya ya itu awalnya seneng banget ketemu gue, eh taunya cuek naudzubillah karena gue nggak ngenalin dia, cewek emang sensitif ya apa salahnya coba bilang namanya siapa, kali aja kan gue bisa nginget-nginget dianya cewek yang mana."


"Heemm, kadang menghadapi makhluk yang bernama wanita itu ya sering sesulit itu lah, mereka diciptakan dengan pemikiran yang minimalis banget makanya gampang ngambekan." ucap Afik.


"Heh ada-ada aja lo, keknya cewek emang sensitif banget tuh buktinya, liat noh semua wanita pada natap lo dengan uuhhh serem," bisik Angga pada Afik, "Udeh yok Junedi, tinggalin nih curut, biarin dia bertanggung jawab atas perkataannya." lanjutnya pada Jason, kemudian memang benar, Angga dan Jason benar-benar pergi meninggalkan Afik sendirian dengan tatapan para wanita di sekelilingnya yang bak memburu.


"Yah si ege laknat bener lo bedua, bantuin gue napa."


Sementara yang tengah dibicarakan sedang menggerutu hebat namun dalam hatinya berdesis aneh, malam itu semenjak hari pertemuannya dengan Angga ia yang berlagak ngambek harus merelakan diri diantar oleh Angga dikarenakan motornya mogok dan tidak adanya taksi yang lewat, hari sudah semakin larut dalam hatinya juga berselimut takut, takut kalau terjadi sesuatu pada dirinya ditengah jalanan yang sepi itu.


Flashback.


"Udah naik aja." pinta Angga.


Namun Rara masih saja diam acuh, ia malas harus berhutang budi pada Angga, namun beberapa menit berlalu tidak aja juga taksi yang lewat sehingga dirinya sedikit meringis entah harus berbuat apa.


"Yakin masih mau nunggu?" tanya Angga lagi.


Rara masih cuek, meski dirinya ingin, namun sebenarnya juga ragu, apa lagi tadi dirinya sempat menolak tawaran Angga, malu sekali kan.


Angga mulai memasang helm dan menghidupkan motornya, ia bersiap-siap hendak pergi, meski tidak tega namun karena tidak adanya jawaban dari si wanita, ia memilih meninggalkan wanita itu dan mencoba mengawasinya saja nanti dari kejauhan, sehingga dia tidak benar-benar meninggalkan.

__ADS_1


Dan lucu sekali rasanya saat ia hendak melajukan motornya, tiba-tiba terasa adanya pergerakan di bagian belakang motornya, saat ia menoleh si wanita malah dengan sikap masih cueknya sudah duduk manis di belakangnya. Ah keadaan macam apa ini gumam Angga.


Angga tersenyum samar, menggemaskan sekali, ia jadi suka kan. Wanita cuek-cuek butuh seperti ini.


Dan motor pun melaju, Angga sengaja agak ngebut karena Rara masih mempertahankan untuk tidak berpegangan padanya.


Kalau kayak gini serasa lagi pacaran tapi ceritanya berantem.


Rara ingin sekali mengumpati Angga karena nampaknya Angga sengaja melajukan motornya kencang, dengan terpaksa Rara harus berpegangan pada kedua bahu Angga karena untuk melingkarkan tangannya pada pinggang Angga rasanya terlalu sulit.


Dia nggak nyari kesempatan, gue suka gue suka.


Sementara Angga, dirinya nampak semakin menyukai Rara, karena baginya Rara tidak sama dengan para cewek lainnya.


Sampailah dirumah Rara setelah tadi Rara sempat menunjukkan dimana alamat rumahnya, Angga mengingat-ingat jalan menunju rumah cewek yang sedang ditaksirnya itu, rencananya jika ia bisa mendekati si wanita dirinya akan mencoba pacaran tiga bulan, kalau berlanjut ya syukur dia juga sudah lelah menyandang gelar playboy.


Tidak ada ucapan terimakasih atau apapun, Rara melongos saja masuk kerumah tidak memperdulikan Angga, entah kesal atau malu pokonya dirinya tidak mau berdekatan dengan Angga lama, tanpa ia sadari ia belum bertanya bagaimana urusan motornya yang ia tinggal di pinggir jalan. Dasar Rara!


Flashback off.


Dan disinilah dirinya hari ini, di sebuah bengkel karena tetangganya, Mira pagi-pagi datang kerumahnya, memberitahukan padanya bahwa motornya sudah dibawa ke bengkel, semuanya sudah selesai diperbaiki, dan montirnya menyuruhnya untuk membayar semuanya dengan mendatangi alamat rumah yang tertera di secarik kertas yang diberikan padanya.


Perumahan XZ, nomor 22.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...

__ADS_1


__ADS_2