Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Kemana Riska ?


__ADS_3

Riska nampak mendusel-duselkan pipinya pada bahu, ia berusaha membuka penutup mulut dari lakban itu, tangan dan kakinya terikat kencang di sebuah kursi, tidak ada siapapun disitu, benar yang ia pikirkan, ia benar-benar diculik.


Untuk apa, siapa yang ingin menculiknya, ia berpikir dari semenjak ia terbangun tadi, namun ia tak menemukan clue siapapun yang telah berani melakukan ini padanya.


Pelan atas kegigihannya, ia berhasil melepaskan lakban yang menutupi mulutnya, ia mulai mencoba melepaskan pengikat di kaki atau tangannya, namun ini bukan ikatan biasa, cara orang mengikatnya ini nampak sulit sekali dilepas, apa lagi dengan tenaganya yang hampir habis.


Ia mengingat potongan kejadian sebelum ia berakhir disini, benar ada yang memanggilnya, setelah itu gelap, lalu ia bangun dan sudah berada disini.


Tempat apa ini, kenapa emak-emak sepertiku harus di culik.


Tak tak tak


Langkah sepatu mendekat kearahnya, terbukalah akses masuk satu-satunya pada ruangan itu. Terlihat seseorang yang mungkin pernah ia jumpai, preman itu, yah pria yang tidak sopan padanya tadi, ayah dari anak dikandungan Shirleen kini bahkan sudah berada tepat di hadapannya.


Jason tersenyum smirk dibalik maskernya, perlukah ia berekspresi seperti seorang anak kecil yang nampak antusias mendapatkan sebuah mainan baru, kurang lebih itulah yang terjadi padanya kini.


Roy nampak setia mengekor dibelakangnya, siap untuk melakukan apa saja. Termasuk hal-hal gila yang kini pasti tengah memenuhi otak tuannya.


"Bagaimana, apa menyenangkan kita bertemu lagi ?" Tanya Jason, seringai nampak menghiasi wajahnya.


"Cuih, dasar sampah, preman sepertimu sungguh buruk beraninya menculik wanita" ucap Riska dengan kemarahan yang memuncak.


"Gue...?" Jason menunjuk dirinya "Akan dengan senang hati gue nunjukkin betapa buruknya gue !"


"Selamat datang, lo adalah salah satu orang yang beruntung bisa bertemu langsung sama gue" narsis Jason, ia membuka maskernya dan terpampanglah wajah seorang pewaris keluarga Adrian yang begitu digilai warganet itu.


Riska ternganga, preman itu...

__ADS_1


Nafasnya keburu sesak atas keterkejutan yang ia lihat. bagaimana bisa Shirleen bersama dengan pewaris keluarga nomor satu di negara ini.


"Kenal gue ?" Tanyanya angkuh.


Riska tidak berani menjawab, rumor tentang pewaris keluarga Adrian langsung terngiang dibenaknya, meneguk salivanya kasar, sungguh baru kali ini ia menyesal mengatai orang.


"Tolong lepaskan aku..." Riska mengiba, kini ia tidak seangkuh tadi.


"Lepasin lo ? Hahahaha !!!" Jason tertawa keras seolah baru saja mendengar lelucon.


"Biar gue kasih tau, orang kalo udah masuk sini biasanya gak bakalan keluar dengan selamat !"


"Tolong, tolong lepasin aku, aku akan lakukan apa yang Tuan mau, asalkan aku bisa lepas" Riska kini sudah terisak, apa yang dikatakan Jason nampaknya berpengaruh penuh pada otaknya. Ia mulai ketakutan sekarang.


"Benarkah ? Apapun ?" ucap Jason seolah tertarik.


Seringai lagi lagi lolos dari bibirnya.


"Hahahaha" Seperti iblis, Jason tertawa keras diruangan bawah tanah itu, membuat suasana semakin mencekam.


"Walau dengan menukar hidup lo ?"


Berkata bersamaan dengan busur panah yang hampir saja mengenai kepala Riska, begitu cepat Jason melakukannya.


Riska menggeleng, tubuhnya kini gemetar, drama busur panah itu mampu mencabik-cabik perasaannya, apakah ia akan berakhir disini, tidak jangan hidupnya, apa maksud tuan muda ini, menukar hidup yang seperti apa.


"Jauhi Shirleen" ucap Jason dengan tatapan membunuhnya.

__ADS_1


"Ba baik Tuan, aku tidak akan mengganggu Shirleen atau tuan lagi, tidak akan pernah lagi bertemu kalian, aku berjanji" Riska dengan cepat menyetujui ucapan Jason yang dianggap syarat baginya untuk bisa lepas dari sini.


Jason mengangguk, tapi bukan hanya itu yang ia mau, mana mungkin tikus yang sudah masuk kesini bisa lepas begitu saja, sedikit bermain-main mungkin mengasyikkan juga.


"Baiklah, aku akan memberikan penawaran kerja sama" Jason duduk tidak jauh dari Riska, ia menepukan tangannya, muncullah sebuah layar lebar dihadapan Riska.


"Ayo kita nonton film dulu !"


Sementara dirumah Athar, ia dikejutkan dengan telponan kakak iparnya yang mengatakan bahwa saudara sulungnya belum juga pulang kerumah, padahal waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, kemana perginya kak Riska pikirnya.


Ia menelpon kakaknya itu, tidak aktif, ada dimana sebenarnya Riska.


Ia gusar sendiri, menanyakan pada saudara lainnya, namun Citra mengatakan sejak sore tadi Riska sudah pulang kerumah, lalu kemana


?.


Apa Riska diculik, tapi buat apa ? lalu kemana perginya Riska hingga belum pulang dini hari begini, tidak mungkin kan Riska pergi ke club, seumur hidup itu bukan seleranya.


Mencoba lagi dan lagi menelpon kakak sulungnya itu, namun nihil. Ia memutuskan untuk pergi kerumah sakit saja, barang kali bisa menemukan petunjuk dimana keberadaan si sulung.


Bersambung...


*


*


*

__ADS_1


Like, koment, dan vote seikhlasnya...


Happy reading !!!


__ADS_2