
"Tok tok tok..."
Pintu diketuk dari seseorang yang nampak sangat tidak sabaran menunggu di luar.
Padahal ada bel, masih juga dia menggedor pintu, tidak tau aturan sekali tamu ini...
Yudha tidak bisa menebak siapa yang bertamu ke apartemennya, hari masih sangat pagi, jam 07:00 waktu fajar di kota Berlin.
"Ceklek..."
Senyum sebentar, lalu segera menghambur ke pelukan Yudha, begitulah kejadian yang bahkan rasanya Yudha saja masih tidak percaya.
Kekasihnya datang menemuinya sepagi ini, sungguh kejutan luar biasa.
"Sayang..." ucap Yudha lirih. Namun rasa bahagia menyeruak memenuhi dadanya.
"Maafkan aku..." Weni berkata seolah dirinya sangat menyesal.
"Ii iya, tapi lepas dulu, bagaimana bisa kau sampai ke sini sayang? Ini sangat mendadak, kau tidak mengabariku, aku seharusnya menjemputmu!" ucap Yudha.
Weni mengendurkan pelukannya, Yudha mengecup singkat kening kekasihnya itu. "Selamat ulang tahun sayang, aku kemarin tidak mengucapkan langsung padamu, maaf yah!" ucap Yudha.
"Hiks hiks, aku sungguh terharu!" ucap Weni, air matanya sudah jatuh lagi, betapa cengengnya diri ini pikir Weni.
"Duduklah, akan aku buatkan minum sebentar, di sini dingin sekali!" ujar Yudha.
Mata yang tadinya ogah-ogahan untuk melek, bahkan sekarang sudah menyala sempurna, ada kekasihnya datang, tiada yang lebih menyenangkan dari itu baginya saat ini.
Dua cangkir teh melati kini sudah siap dibuat oleh Yudha, dirinya membawa teh itu ke meja tamu, ah kejutan sekali hari ini gumamnya dengan langkah kaki riang gembira.
"Kau pasti lelah, nanti beristirahatlah di kamarku!" ucap Yudha.
"Aku ke sini ingin membicarakan sesuatu denganmu!" ucap Weni.
"Apa?" tanya Yudha.
"Biar kunikmati teh buatanmu dulu, aku butuh ketenangan untuk menyampaikan sesuatu ini."
Yudha jadi menegang karena penasaran apa yang akan dikatakan kekasihnya itu.
"Aku mau ikut denganmu ke sini, jika kita menikah." ucap Weni setelah meminum tehnya setengah.
__ADS_1
"Byurrrr..." spontan saja Yudha yang juga tengah menikmati teh, menyemburkan isi di mulutnya, untung saja dia masih bisa memprediksi akan kemana semburannya mendarat sehingga bisa dikatakan beruntung karena tidak mengenai Weni. Mengapa begitu? Baru beberapa hari kemarin bilang tidak mau lalu kali ini bilang apa, sampai menemuinya di sini, apa tunangannya serius pikir Yudha.
"Kau tidak apa?" tanya Weni panik.
Yudha langsung saja menggenggam erat tangan Weni, "Kau serius?"
Pelan namun pasti Weni mengangguk, menandakan apa yang tadi terucap dari bibirnya itu memang benar adanya.
"Kau serius, mau menikah dan tinggal di sini bersamaku?" tanya Yudha sekali lagi.
"Iya sayang!" jawab Weni dan juga dengan anggukan.
Yudha langsung saja berhambur memeluk Weni, kemarin dirinya hanya asal saja mengatakan kalau dirinya sudah menikah, namun apa ini, kali ini bahkan Weni datang padanya dan memutuskan untuk setuju menikah dengannya.
"Aku sudah memutuskan, dan aku juga akan jujur padamu!" ucap Weni.
"Apa?" tanya Yudha.
"Aku sebenarnya tidak bekerja di butik Angel's W sebagai karyawan, karena..."
"Karena apa?"
"Karena itu adalah Butikku, maafkan aku yang lebih mementingkan karirku dari pada cinta kita, tapi aku janji akan menyuruh orang untuk mengurus Butikku di sana dan aku akan hanya menemanimu saja di sini." ungkap Weni.
Yudha tersenyum dan membelai lembut rambut kekasihnya.
"Kau bisa mengelolanya dari sini, aku akan mendukungmu apapun itu!" ucap Yudha.
"Kau mau menikah dimana?" tanya Weni yang lagi-lagi mendebarkan jantungnya.
"Kau benar-benar serius ternyata!" lagi-lagi Yudha terperangah tak percaya.
" Memangnya aku gila, bercanda menyangkut pernikahan, hey umurku sudah tiga puluh tahun kau tau, masih banyak hal yang bisa dibuat bercanda dan kalau bisa jangan tentang pernikahan, bagiku itu sakral sekali, sudah tua juga!" ucap Weni.
"Iya iya, jangan marah, aku kan hanya bertanya!"
"Ya ya, jadi kapan?" tanya Weni lagi.
"Secepatnya, tapi aku rasa mumpung kita di sini, bagaimana kalau kita lakukan pemotretan saja, untuk foto prewedding dan bikin undangan, kau mau?" tanya Yudha antusias.
"Heh, memangnya aku bisa menolak?" tanya balik Weni.
__ADS_1
Yudha tersenyum, "Seharusnya tidak sih!"
"Hahahahaha!"
Keduanya tertawa bersama, hari ini Weni sudah memutuskan sesuatu yang besar dalam hidupnya, menerima ajakan menikah Yudha yang nyatanya lebih cepat dari waktu yang sempat mereka sepakati.
Tidak ada keraguan, bukan seperti beberapa hari sebelumnya, entahlah mengapa rasanya dirinya bisa menjadi sangat yakin akan keputusannya, Weni hanya berdoa semoga keputusan yang dirinya ambil kali ini bebar-benar tepat.
"Kau ada kelas sayang?"
Yudha berpikir sejenak, " Ada, kelas pagi nanti jam sepuluh, kenapa?" tanya Yudha.
"Aku ingin beristirahat sejenak, perjalanan dari tanah air ke sini sungguh melelahkan, kau bisa ikut kelas dulu, jangan hiraukan aku!" ucap Weni.
"Eemm..." Yudha meragu, rasa rindunya pada tunangannya itu membuatnya malas untuk memulai aktivitas kuliahnya, bolehkah dirinya membolos satu hari saja.
"Katanya mau menikah, tidak boleh malas untuk urusan kuliah, biar bisa cepat selesai dan kita kembali ke tanah air."
"Jangan mentang-mentang aku sudah menemanimu di sini kau jadi malas, dengar ya, itu masih belum terjadi, jadi aku masih bisa menarik kata-kataku tadi." ancam Weni.
Gegas Yudha mengangguk dan berjalan cepat menuju kamar mandi, tidak jangan tarik lagi kata-kata setuju untuk diajak menikah, itu adalah keputusan yang sangat tepat.
"Kalau urusan menikah, rela aja dia!" gumam Weni, dirinya merebahkan tubuhnya berbaring di sofa, kantuk menyerang dan tak lama dirinya pun tertidur.
Yudha sudah selesai dengan acara mandinya, ria berganti pakaian dan bersiap-siap untuk kuliah, di lihatnya Weni tengah tertidur di sofa, lalu Yudha mengangkat tubuh tunangannya itu memindahkannya ke kamar.
Weni nampak lelah, diangkat dari ruang tamu ke kamar saja tidak bangun, Yudha gemas sendiri.
Mengecup singkat kening Weni, ingin sekali Yudha merasai bibir ranum tunangannya itu, bibir yang pernah tidak sengaja bersentuhan dengan bibirnya, ah membayangkan kejadian di toilet rumah Jason waktu itu seketika otak Yudha terkontaminasi, dasar mesum!
"Aku ciuman pertamanya, untuk itulah aku mempertahankannya, tidak sembarang orang bisa mendapatkannya." gumam Yudha pelan.
Hal itu adalah salah satu alasan mengapa Yudha bisa jatuh cinta dengan Weni, karena ciuman pertama bagi Weni itulah Yudha mulai tertarik dan tidak akan ragu lagi untuk melabuhkan hatinya pada Weni.
"Terimakasih sudah menjaganya untukku, aku yang sangat beruntung memilikimu!" ucap Yudha lalu berlalu meninggalkan kamar membiarkan Weni istirahat.
Bersambung...
*
*
__ADS_1
*
Like, koment, and Vote !!!