Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Perpisahan Sekolah.


__ADS_3

"Duh ganteng banget sih Papa" ujar Shirleen memuji suaminya, saat ini Jason sedang memakai atasan batik dan celana bahan hitam untuk menghadiri acara perpisahan sekolahnya.


"Kamu bakalan hadir kan By ?" tanya Jason, bukannya mengharapkan orang tuanya, ia bahkan menyuruh Shirleen saja yang akan menghadiri acara perpisahannya.


"Iya By, takut banget aku nggak dateng"


"Bukan gitu By, sebentar, Ipaaaahh" ucap Jason memanggil maidnya itu.


"Iya Tuan Muda" jawab Ipah saat ia sudah menghampiri Jason.


"Nanti kamu anter istriku sebentar setelah nganterin anak-anak ke rumah Mama"


"Baik Tuan"


"Aku bisa sendiri lho By" keluh Shirleen, tadinya ia ingin pergi sendiri sekalian meninjau cafe setelah pulang dari sekolah Jason, namun Jason tidak mengizinkan karena katanya mereka akan pergi ke suatu tempat.


"Udah jangan ngebantah, kebiasaan deh, aku pergi dulu ya" imbuh Jason. "Cup" Jason mengecup singkat bibir istrinya, kemudian berlalu pergi.


"By salamnya..." teriak Shirleen, namun Jason sudah turun ke bawah tidak menghiraukan ucapannya.


"Selalu saja lupa, aku kan mau jadi istri yang baik"


Hampir satu jam berlalu, Jason sudah sampai di sekolahnya, seperti biasa terlihat Afik, Angga dan Yudha tampak menunggunya di parkiran.


Yudha memang sudah pulang kemarin sore, namun mereka baru bertemu hari ini, karena kesibukan masing-masing jadi mereka bertiga tidak bisa menyempatkan diri untuk menjemput Yudha di Bandara.


"Gila, baru kali ini lo pake batik" ujar Afik, dari mulai ia mengenal sahabatnya itu baru kali ini ia melihat Jason mengenakan baju batik, batik sekolah pun Jason tidak pernah sama sekali memakainya.


"Gue kira lo bakalan lain dari yang lain" sindir Angga.


"Dipaksa bini gue" jawab Jason.


"Wah wah udah mulai takut istri nih kayaknya" tambah Angga lagi.


"Bukan takut, tapi saking sayangnya" sanggah Jason.


"Iye deh kang bucin"


"Kita mah apalah, jangankan bini gebetan aja nggak punya, heh lo anak Jerman udah punya gebetan kagak lo disana ?"


"Gimana mau dapat, orang kemaren di doain semoga aja nggak ada yang deketin gue, nah itu doa siapa menurut lo" ucap Yudha.


"Hahaha manjur juga tuh doa, baek-baek lo disana apa lagi cuma sendiri gak ada temen"


"Sialan lo"


"Lo siapa yang dateng Son ?" tanya Angga.

__ADS_1


"Bini gue lah" bangga Jason.


"Gue males ngomong sama Junedi, bawaannya pamer mulu" keluh Angga, ia berniat untuk menanyakan perihal hari esok, namun dia yang jomblo ini takut kena mental, karena Jason seakan-akan bangga sekali dengan statusnya sekarang.


"Besok aja kali kalo mau pamer, lo juga bakal dipajang seharian" sambung Afik.


Jason tidak peduli, ia masih tetap memasang wajah songong bin tengilnya.


"Kak Jason, boleh minta tanda tangan kak Jason nggak ?" ucap salah satu dari beberapa ciwi-ciwi yang sepertinya adik kelas menghampiri mereka, berita tentang pernikahannya sudah menyebar dimana-mana namun ternyata masih banyak juga yang ngefans dengannya.


"Tanda tangan gue aja mau nggak" tawar Afik.


"Boleh Kak Afik, tapi mau tanda tangan Kak Jason dulu bisa nggak ?"


Jason membisikkan sesuatu pada Yudha, Yudha mengangguk pelan, ia mengerti.


"Boleh katanya, tapi ada syaratnya" ucap Yudha sebagai menerjemah.


"Apa kak ?" jawab para cewek itu kompak.


"Sekali ini aja, dan nggak boleh kasih tau orang lain" jelas Yudha.


"Iya kak iya" ucap kelimanya girang


"Tanda tangan disini kak" ujar salah satu dari mereka membalikan badannya, rupanya bermaksud untuk menulis di baju bagian belakang mereka.


Kelima ciwi-ciwi itu terperangah, mendengar suara Jason secara langsung adalah keajaiban bagi mereka, walaupun tidak punya, namun mereka spontan mengangguk.


"Tutupin baju lo atau ganti setelah gue tanda tangan nanti, jangan sampe ada yang liat" ujar Jason lagi.


Lagi dan lagi kelima adik kelas mereka itu mengangguk patuh.


Jason mulai menuliskan karyanya, ia masih ingat pesan istrinya, sekali-sekali hargailah fans, jangan terlalu sombong, meski Jason waktu itu menentang dan mengatakan ia bukan sombong hanya tidak suka di sentuh, tidak suka hidupnya diganggu, namun Shirleen juga mengatakan kalau itu sama saja.


Ia yang penurut ini hanya bisa mengatakan iya saat itu.


"Terima kasih Kak, ternyata kakak baik banget aslinya" lalu berbagai puji dan puja dilontarkan kelima ciwi-ciwi tersebut setelah kemudian berlalu, mereka benar menepati janjinya, ada yang melindungi hasil karya idola mereka itu dengan tas ataupun jaket mereka, yang terpenting tidak ada orang lain yang mengetahui.


Angga dan Afik semakin heran di buat perubahan Jason, dimana Jason yang katanya tidak suka disentuh hidupnya.


"Nah lo beneran Junedi ?" tanya Afik.


"Sial gue baper ?" tambah Angga.


"Paan sih lo bedua" ucap Jason heran.


"The power of emm apa yaaa, the power of emak-emak tapi Kak Shirleen kan cantik nggak serem kayak emak-emak raja jalanan" ucap Angga ia bingung menamai Shirleen apa.

__ADS_1


Dari kejauhan, Shirleen dengan anggunnya berjalan mendekati mereka, mengenakan batik yang ternyata coupelan dengan yang di kenakan Jason.


"Oohh jadi ini alasannya lo mau pake batik ?" tebak Yudha.


"Hai Kak Shirleen" sapa Afik.


"Hai juga" sapa balik Shirleen "Yudha, mama kamu udah dateng belum ?" tanyanya pada Yudha, ia bingung harus berteman dengan siapa, satu-satunya wali murid yang ia kenal hanya Mamanya Yudha karena pernah sama-sama terlibat party kemarin.


"Belum kak, tadi sih di chat katanya bentar lagi"


Pikiran Yudha berkecamuk saat melihat Shirleen, ingin sekali ia menanyakan seberapa dekat antara istri sahabatnya itu dengan Weni, namun ia urungkan karena tidak mau membuat geger ketiga sahabatnya.


Nanti kalau ada kesempatan, gue bisa tanyain langsung.


"Oohh, kamu Fik, Ga udah ada yang dateng ? Apa aku kepagian ya datangnya, tapi lima belas menit lagi acaranya mulai kok"


"Aku... Nah itu tuh emak gue, sebentar ya kak aku samperin dulu, takutnya gak liat anaknya disini" ucap Angga.


Shirleen mengangguk mengiyakan.


"Itu Papa lo Fik" ucap Yudha sembari tangannya menunjuk seseorang.


"Nah iya"


Tak lama Mama Wina pun juga datang, dan langsung menghampiri Shirleen.


Keduanya terlibat perbincangan hangat, sebelum kemudian mereka memasuki ruangan.


"Anak tante itu, lagi suka sama seseorang, tapi nggak tau deh siapa, tante paksa dia cerita eh dia nggak mau kasih tau namanya, tante jadi penasaran Yudha kan sebelas dua belas sama Jason, tipe anaknya tante itu kayak gimana, tante pengen banget lihat siapa orangnya" ujar Mama Wina mengoceh apa saja saat semua wali murid sudah duduk sembari mendengarkan pidato akhir dari kepala sekolah.


Ia duduk bersama Shirleen, sehingga membuat Shirleen harus membagi fokusnya, sifat mama Wina yang kelewat supel kadang malah menjadi tidak tepat jika dihadapkan dengan situsasi seperti ini.


"Oh ya, bagus dong tante, semoga pilihan Yudha tepat, orangnya baik" ucap Shirleen mencoba menanggapi dengan fokus yang masih pada apa yang disampaikan kepala sekolah di panggung sana.


Ia takut melewatkan sesuatu, semisal adanya biaya akhir atau hal penting lainnya, mana tau kan.


Barisan wali murid dan siswa-siswi kelas tiga memang terpisah, sehingga tidak ada Jason saat ini di dekat Shirleen.


Mama Wina terus saja bercerita apa saja, Shirleen sampai sedikit pusing dibuatnya.


Apa iya seorang yang katanya dokter meliliki selera rumpi setinggi ini.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...

__ADS_1


Happy reading !!!


__ADS_2