Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Saya duda!


__ADS_3

Tok tok tok, ketukan pintu lagi terdengar, Jason menyuruh Angga untuk membukakan pintu, barang kali perawat yang ingin memeriksa kondisi Shirleen pikirnya.


Ceklek, pintu dibuka.


"Oh Kak Weni, masuk kak!" ucap Angga, sehingga membuat semua orang di dalam ruangan itu tau bahwa yang datang adalah Weni.


"Tante, masuk Tan!" sapa Angga lagi.


"Assalamualaikum..." ucap Weni dan Ibunya bersamaan.


"Waalaikum salam!" sahut semuanya.


"Ileeen!" Weni langsung saja menghampiri Shirleen, ia tak kuasa menahan tangis kala melihat keadaan Shirleen, tidak tau saja dirinya bahwa Shirleen pernah lebih parah dari itu kemarin malam.


"Wen, kamu tau dari mana aku disini?" tanya Shirleen.


"Kamu viral tau di sosmed." ucap Weni.


"Viral! Viral kenapa?" tanya Shirleen.


"Ya jelas viral lah sayang, kan udah jadi bininya sultan, ya pasti adalah pemberitaannya."


"Ohh, mana coba liat beritanya." pinta Shirleen.


Weni mengeluarkan ponselnya dan lalu memperlihatkan berita trending topik hari ini pada Shirleen.


Shirleen tersenyum, yang sebenarnya adalah dirinya tidak menyangka kalau dirinya akan masuk pemberitaan media tentang kehidupannya, tidak ada yang buruk dalam berita tersebut, kehamilan disebut-sebut pemicu dirinya sampai di rawat inap, biarlah lebih baik begitu.


"Ponakan aku nggak papa kan didalem?" tanya Weni.


"Alhamdulillah aman!" jawab Shirleen.


"Nah terus kenapa bisa masuk rumah sakit, aku khawatir banget tau." ucap Weni lagi.


"Aku cuma sempet drop Wen, udah itu aja, beritanya aja yang terlalu dibesar-besarin." ucap Shirleen beralasan.

__ADS_1


Jason tersenyum mendengar jawaban istrinya yang seratus persen berbohong, ia tidak menyangkal bukan berarti dirinya menyetujui sang istri membohongi Weni dan semua orang disini namun itu juga demi kebaikan rumah tangganya.


"Junedi, lo apaan sih, kan udah gue bilang buat jagain itu si kembar sama emaknya, kenapa coba emaknya bisa drop?" cerca Angga, ia sungguh sewot, ia juga menyayangi si kembar di perut Shirleen, saat mengetahui istri sahabatnya itu mengandung bayi kembar, ia adalah salah satu orang yang sangat antusias.


"Hemmm!" singkat Jason.


"Lah bang Juned, kenapa suka berubah-ubah sifatnya, tadi hangat, ini dingin, kadang suka bikin panas dingin, kan gue jadi merinding." ucap Angga garing.


"Dia lagi kumat Ga." sambung Afik.


Weni nampak berbincang santai dengan Shirleen, Ibunya juga ikut nimbrung, sementara Jason tengah bekerja didampingi duo A yang selalu berdebat apa saja, Jason membiarkan anggap saja hiburan selama Shirleen tidak merasa keberatan.


Keadaan Athar sudah semakin membaik, hari ini adalah hari pertamanya mulai jualan lagi, stok rupiahnya sudah semakin menipis karena kebutuhan rumah dan ibunya juga sedikit banyak ditanggung olehnya.


Ia memutuskan untuk pergi ke supermarket dan pasar tradisional untuk berbelanja, stok bahan makanannya sudah menipis, ia akan mengisi yang kurang dengan sisa uang modalnya.


Tiga puluh menit berlalu, sampailah ia di pasar tradisional, ia akan membeli daging ayam untuk membuat nugget ayam, ia memang selalu membuat makanan jualannya sendiri itu akan sangat menghemat belanjaannya.


Athar sangat menyukai pekerjaannya, meski terlihat kecil namun ia bahagia karena disini dirinyalah bosnya, yah meski tidak ada karyawan juga, tapi tetap saja ini adalah usahanya sendiri.


Itu adalah suka duka dalam usaha, bukan masalah besar baginya selama masih bisa diatasi.


"Mas, kita pernah ketemu lho..." ucap seorang wanita menyapa Athar yang sedang memilih beberapa dada ayam pada lapak salah satu pedagang.


Athar memicingkan matanya mencoba mengingat kira-kira dimana dirinya pernah bertemu dengan wanita yang menyapanya ini.


"Di Supermarket waktu itu, Mas yang ngasiin margarin buat aku lho, nggak nyangka aku bisa ketemu Mas lagi." ucap wanita itu mencoba mengakrabkan diri.


"Ah iya saya ingat, hemm sudah lumayan lama yaaa." ucap Athar, padahal dirinya masih mencoba mengingat-ingat.


"Kenalin, nama aku Lisa, nama Mas siapa?" tanya Lisa, yah wanita itu adalah Lisa. Jujur saja semenjak ia melihat Athar pertama kali di Supermarket, ia senang saja rasanya dengan laki-laki yang pengertian apa lagi Athar baginya lumayan ganteng yah meski masih ganteng Jason sih, ah Jason mengingat nama itu ia kembali tidak enak perasaan, bagaimana kabar istrinya Jason yang kemarin malam masih belum sadarkan diri, apakah sudah bangun dari pingsan, pikir Lisa.


"Saya Athar, kamu tampak masih anak sekolahan, atau baru saja tamat?" tanya Athar langsung, gila sekali rasanya yang sedang mengajak kenalan dirinya ini sangat jauh lebih muda darinya, apakah tidak memilih karena dirinya ini rasanya sudah tua, sudah tiga puluh satu tahun umurnya.


"Aku masih sekolah Mas, kalau Mas?" tanya Lisa.

__ADS_1


"Oh, kenapa tidak sekolah, ini kan bukan hari libur?" tanya balik Athar.


"Eem, aku home schooling Mas, sekolahnya malem." jawab Lisa.


"Oohhh." singkat Athar sembari mengangguk teratur.


"Kalau Mas?"


"Apanya?"


"Sudah punya istri kah?" tanya Lisa langsung to the point.


"Eh, hehe," Athar sedikit tersenyum mendengar pertanyaan wanita yang bernama Lisa itu, "Saya duda!" jawab Athar, ia tidak ingin berbohong mengenai statusnya meski setelah hari ini entah ia akan bertemu Lisa lagi atau tidak tapi ia bertekad jika ada orangbyang menanyakan statusnya meski itu perempuan ataupun laki-laki, ia tetap akan jujur mengenai status dudanya.


"Eh..." bingung Lisa, mengapa tidak sesuai harapan pikirnya, ia pikir Athar masih bujangan.


"Kenapa?" tanya Athar, ia sedikit tergelitik dengan ekspresi keterkejutan Lisa, mungkinkah wanita dihadapannya ini memang ingin mengenalnya lebih dekat sehingga nampak kecewa terbaca dari raut wajahnya.


"Ah tidak apa Mas, emm, boleh minta nomor WA Mas, barang kali ada yang ingin saya tanyakan?" tanya Lisa, ah sudahlah duda juga tidak apa, untuk teman bicara saja pikirnya.


Jangan salahkan Lisa, selama ini dirinya hanya berteman dengan sepi, sahabat-sahabatnya dulu tidak ada yang mau mengenalnya, tidak ada yang mau menjadi temannya lagi, sehingga dulu saat setelah dirinya keluar dari rumah sakit ia memutuskan untuk mengubah semua tentang Lisa, ia tumbuh bagai menjadi Lisa baru yang tak punya teman sama sekali, dan saat ini dirinya mulai kesepian, tidak ada teman dekat, teman yang bisa diajak bicara selain kedua orang tua dan para tetangga, itupun semuanya ibu-ibu.


Athar terheran, untuk apa meminta nomor WA, bukankah wanita dihadapannya ini sangat menggemaskan, masih kecil sudah tidak ada malunya mengajak cowok kenalan duluan.


Memangnya dirinya kang sales, barang kali ada yang ingin ditanyakan, batin Athar.


Athar tersenyum, ia mencuci tangannya yang tadi sempat memegang daging ayam, lalu meminta ponsel Lisa.


Ia mencatat nomor WAnya pada kontak Lisa, rasanya berteman dengan gadis SMA tidak juga buruk pikirnya, lumayan untuk menghibur diri, karena jujur saja dirinya juga sangat kesepian.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...

__ADS_1


__ADS_2