
"Apa orang-orang yang bermasalah itu masih ada di sini?"
"Saya rasa masih Tuan, mereka sedang berada di sekat sebelah sana, Lisa juga bersama mereka!" tunjuk Alvin pada sekat yang tadi Athar duduki.
"Baiklah, kami juga akan ke sana, kau tolong pergi ke sana dan bilang jangan ada yang pulang dulu!" ucap Jason.
"Baik Tuan!"
"Ipah, kau bawa anak-anak bisa kan, minta bantuan pegawai lainnya saja kalau untuk mengasuh Misca." perintah Jason pada maid putrinya itu.
"Bisa Tuan, biar saya saja, abang tidak rewel kok!" ucap Ipah.
"Ya sudah, kami nggak bakalan lama kok, hanya memberi peringatan saja." ucap Shirleen menambahkan.
"Iya Nona!"
Ipah membawa Misca dan Jacob ke taman, lebih leluasa mengasuh keduanya di tempat seperti itu, karena Misca yang selalu suka di ajak ke taman jika di cafe Bundanya, sementara Jacob bayi gembul itu suka melihat dedaunan yang bergerak diterpa angin.
"Selamat siang..." sapa Shirleen, pada semua orang yang berada di salah satu meja pengunjung di sekat yang ditunjukkan Alvin tadi.
"Selamat siang!" sahut semuanya hampir bersamaan.
Athar tersenyum ramah, Shirleen belum menyadari sementara Jason tampak terkejut.
"Ada apa Lisa, kok bisa gini?" tanya Shirleen.
Dirinya belum menoleh ke arah Athar, karena tubuh Athar yang membelakanginya, sementara Lisa duduk bersebelahan dengan Zalin, yang juga ikut serta sebagai saksi kejadian.
"Tidak apa Bu Shirleen, hanya sebuah kesalahpahaman." jawab Lisa.
"Ini Ibunya yah?" tanya Shirleen, menunjuk seorang pasangan suami istri.
"Ada yang bisa jelasin kenapa?" tanya Shirleen lagi. Aura tegas langsung saja terpancar, meski selama ini Zalin dan Lisa mengenal Shirleen sebagai Bos yang baik dan juga sangat ramah, namun ternyata Bos baik mereka itu juga bisa tegas.
Semuanya terdiam, Athar ingin sekali menjelaskan, namun entahlah mendengar suara Shirleen bagai hipnotis yang mampu membuatnya tunduk, sudah lama sekali dirinya tidak mendengar omelan dari mantan istrinya itu.
"Ibu tau, saat ibu menuduh dengan tanpa kejelasan, dengan tanpa mau mendengarkan alasan seperti itu bukanlah sikap yang benar?" tanya Shirleen pada Ibu-Ibu tadi, ia tidak ramah namun tidak juga bersikap menyudutkan.
__ADS_1
"Tau Bu!" jawab Ibu itu.
"Saya tidak perduli dengan citra cafe ini meski Ibu melakukannya di cafe saya, yang saya perdulikan hanyalah harga diri para anak buah saya, iya kalau dia benar bersalah, kalau tidak seperti ini bagaimana? Apa ibu yakin vidio yang beredar di internet dengan tag lokasi yang tertera di cafe saya bisa menjamin orang akan menelusuri kejadian sebenarnya tanpa bertanya lebih lanjut?"
"Orang hanya akan melihat sekilas apa yang ditampilkan tanpa tau kebenarannya, dari situ mereka sudah bisa menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar, meski nyatanya di sini Lisa tidak melakukan itu dan Ibu sudah minta maaf."
"Harga diri bagi saya sangat penting Bu!"
"Saya minta maaf Bu, saya tidak tau kejadian yang sebenarnya tapi sudah menuduh sembarangan." mohon Ibu itu.
"Dan untuk Bapak, saya bisa melaporkan tindakan Bapak tadi dan Bapak akan berakhir di penjara atas kasus pelecehan seksual! Lisa, saya sarankan kamu laporkan saja laki-laki seperti ini, dia sudah sangat kurang ajar berani berbuat demikian padamu!" ucap Shirleen.
Lisa molotot tidak percaya, istrinya Jason itu begitu membelanya, sampai menawarkan ia untuk melaporkan tindak kurang ajar yang baru saja terjadi padanya.
"Tidak perlu Bu Shirleen, Bapak dan Ibu ini sudah minta maaf pada saya, dan saya sudah memaafkan."
"Kalau saya jadi kamu, tidak akan saya biarkan dia bernafas dengan tenang!" ucap dingin Jason, yang membuat Lisa lebih-lebih tidak percaya, bukankah baru saja seorang Jason Ares Adrian idolanya itu baru saja membelanya.
"Tidak perlu Tuan, saya hanya ingin hidup dengan damai." ucap Lisa, wanita itu bergetar saat menyahut ucapan Jason, meski tidak mungkin memiliki Jason lagi, namun Lisa yang memang sudah tergila-gila itu masih sangat mengidolakan Jason, meski sangat disayangkan hidupnya hancur juga disebabkan pemuda itu.
"Baiklah, semua keputusan berada di tanganmu." ucap Jason.
"Tuan Jason, saya ingin melaporkan sesuatu!" ucap Athar.
Jason mengkerutkan keningnya, dia mencoba bersikap biasa saja dan seolah terkejut akan kehadiran Athar.
"Mas Athar!"
"Mas Athar!"
Ucapnya tidak percaya bersamaan dengan Shirleen, bedanya Shirleen murni karena keterkejutan melihat mantan suaminya, sementara Jason hanya sandiwara.
"Iya, aku!" jawab Athar.
"Oh, jadi Mas yang dibilang pegawai kami tadi, yang katanya ada orang yang udah nuntasin masalah ini, terimakasih ya Mas!" ucap Shirleen, dirinya berterimakasih sekali.
Sayangnya tidak untuk Jason, pemuda itu memberengut kesal karena Shirleen yang nampak akrab, sudah dikatakan bahwa jangan terlalu ramah pada Athar, dirinya tidak suka, namun Shirleen masih saja tidak mengindahkan.
__ADS_1
Athar tersenyum manis untuk Shirleen, dirinya senang bisa membantu.
Sementara Shirleen, dirinya seketika tersadar bahwa mungkin suaminya tidak akan suka, jadi saat Athar ingin berjabat tangan padanya, Shirleen harus dengan sengaja tidak menerima.
Maafin aku Mas, bocil bisa ngambek kalau aku berani jabat tangan kamu.
Athar cukup mengerti, meski harus menelan kekecewaan karena tangannya yang menggantung sempurna tidak kunjung disambut.
"Aaa Tuan Jason, boleh saya melaporkan sesuatu tentang cafe anda?" tanya Athar, ia memilih berbicara pada Jason, mengabaikan Shirleen meski dirinya sangat ingin juga berbicara biasa dengan Shirleen. Apa lagi ia tau cafe ini adalah cafe Shirleen, jadi seharusnya ia membicarakan perihal cafe pada mantan istrinya itu, namun keadaan tidak memungkinkan dan Athar tidak mau memperburuk suasana.
Padahal, meski rasa itu masih ada, percayalah Athar tidak akan berani mendekati ataupun memandang Shirleen dengan perasaan menyukai seorang wanita. Ia tidak mau menjadi pebinor, tidak tolong jangan salah paham.
"Ya!" singkat Jason.
Athar juga tau, tidak mudah mengajak Jason berteman, bisa dekat begini saja ia sudah bersyukur.
"Masalah ini di sengaja!" ungkap Athar, yang sejurus kemudian membuat semua orang di sekat itu tercengang akan pengakuannya, begitupun Lisa.
"Apa?" tanya Jason ulang. Membaca pikiran Athar, namun yang dibacanya tidak ada raut kebohongan, Athar seperti mengetahui sesuatu.
"Iya, semua yang terjadi ini di sengaja, aku bahkan sudah merekam buktinya." ungkap Athar.
Seketika suasana kembali menegang, pun dengan sepasang suami istri itu, terlihat sekali gurat kekhawatiran di wajah keduanya.
Athar memperlihatkan vidio yang baru saja diambilnya beberapa menit yang lalu sebelum mereka berkumpul di sini, vidio yang menunjukkan bahwa kejadian tadi benar disengaja hanya untuk menjebak Lisa."
Jason menggeram, ada pula tikus got yang dengan beraninya mau bermain-main di cafe milik istrinya itu.
"Zalin, panggil dia!" perintah Shirleen, ia juga geram, selama ini kurang apa pengertian yang diberikan olehnya, bahwa semua pegawai di cafenya adalah sama, tidak perduli status sosial, fisik dan kekurangan yang ada, namun masih juga ada yang merasa lebih tinggi dari segalanya.
Bersambung...
*
*
*
__ADS_1
Like, koment, and Vote!!!