
"Saya sudah menemukan keberadaan nona Shirleen Tuan Muda" setelah beberapa hari berkutat dengan pekerjaan kantor dan lagi harus dibebankan untuk menggali informasi tentang dimanakah keberadaan Shirleen, akhirnya Roy membawa kabar baik pada hari ini.
"Hemmm" ucap Jason. Namun keingintahuan jelas terlihat dari matanya.
"Nona ada di pulau Belitung, disebuah perkampungan terpencil yang sangat jauh dari kota, saya mendapatkan informasi ini setelah menyadap ponsel nyonya besar, beberapa kali nyonya besar terlihat menghubungi seseorang namun sepertinya kendala sinyal di daerah itu hingga panggilannya tidak terhubung"
"Lalu ?"
"Lalu saya menelusuri segala informasi mengenai nomor itu, pemiliknya bernama Ramli Kasim, dan ini informasi seputar pria itu" Roy memberikan sedikitnya dua lembar kertas berisi data dan informasi yang ia dapatkan.
"Disitu tertulis beberapa hari yang lalu ia menjemput beberapa orang dari Bandara setempat, kemungkinan memang Nona Shirleen Tuan Muda" ucapnya lagi.
Jason mengangguk, ia mengerti mengapa Shirleen tidak ditemukan, identitasnya pasti sudah disamarkan dan dibawa kedaerah yang sangat pelosok, minim sinyal sehingga sulit dijangkau, sudah ia duga Mamanya pasti mengetahui sesuatu.
"Urus keberangkatanku hari ini juga" ucap Jason kemudian, ia tidak bisa lagi menunggu lama.
"Baik Tuan Muda"
Disebuah rumah mewah nan megah, terlihat sepasang suami istri tampak bersitegang mengedepankan pendapat masing-masing.
"Puas papa udah bikin Jason minggat dari rumah, sudah mama bilang jangan pisahkan ia dari Shirleen" ucap Mama Mila, walau itu hanya sandiwara namun dalam hatinya ia memang agak marah dengan suaminya itu.
"Ma, Papa juga gak tau harus gimana lagi, Papa gak punya cara lain"
"Sekarang gimana, bahkan Mama pergi ke perusahaannya saja ia tidak mau menemui Mama"
"Mama cuma mau ketemu Jason Pa"
Pak Adrian juga nampak berpikir, setelah berapa hari yang lalu perusahaan anaknya memisahkan diri dari perusahaan utama, sahamnya turun drastis, banyak investor yang beralih menanamkan modal pada ARAD Group, terlebih produk yang baru saja mereka luncurkan begitu tepat sasaran di masyarakat sehingga angka penjualannya melonjak pesat.
__ADS_1
Jason memang tidak main-main, Pak Adrian sebetulnya sudah berhasil mendidik Jason menjadi penguasa dalam dunia bisnis, dalam umurnya yang sebentar lagi menginjak angka delapan belas, prestasi yang putranya raih sungguh diluar dugaan. Aaah andai saja putranya itu tidak memilih jalan yang salah mungkin ia akan lebih bangga dari ini.
Masih dengan tidak menyadari bahwa ialah penyebab segalanya.
Mama Mila kembali ke kamarnya, ia mencoba lagi menghubungi seseorang yang beberapa hari ini selalu masuk dalam daftar panggilannya, namun selalu saja tidak tersambung, nomor itu masih sama tidak bisa dihubungi.
Ia gusar memikirkan keadaan Shirleen, setelah hari itu ia tidak pernah lagi mendengar kabar wanita yang rencananya akan menjadi calon mantunya itu.
Aku harus bagaimana, apa aku susul saja.
Sementara di ruang kerja Roy, ia saat ini sedang mengadakan janji temu dengan seseorang.
"Pak Roy, saya harus melakukan apa lagi, target sudah masuk perangkap ?"
"Lakukan saja seperti biasa, bersikap biasa saja, setelah tuan muda kembali dari luar kota baru kita akan bertindak, kau sudah siap untuk resiko pekerjaanmu ?"
"Sudah Pak Roy !"
"Sudah juga Pak Roy, saya sudah memberi pengertian pada mereka, dan mereka mengerti"
"Baiklah, untuk saat ini biarkan dia menikmati masa senangnya"
"Baik Pak Roy"
"Baiklah kau boleh pergi, lanjutkan pekerjaanmu"
Lalu seseorang itu kembali bekerja, setelah ini beberapa hari kedepan dan seterusnya mungkin ia tidak akan menjadi dirinya lagi.
Roy mendesah pelan, pekerjaan yang menumpuk belum lagi dengan masalah cintanya yang rumit, acara yang ia nantikan tinggal beberapa jam lagi, namun ia masih saja berkutat dengan sejumlah laporan di layar gadgetnya.
__ADS_1
Tuan Mudanya itu mungkin sudah berangkat saat ini mengurus masalah percintanya, apa kabar dirinya yang masih betah berlama-lama dengan segudang pekerjaan disini. Sungguh nasib menjadi bawahan.
Shakira, satu nama itu terlintas dipikirannya, apa Shakira sudah membaca undangannya, atau malah undangan itu sudah ia buang.
Apa yang harus aku lakukan jika nanti dia tidak datang ?
Roy melirik rolex di pergelangan tangannya, masih tersisa lima jam dari sekarang, ia masih belum juga mempersiapkan diri.
Heh, sebuah kencan yang mengharuskannya mencuri waktu.
Kalau kutinggalkan sebentar, apa Tuan Muda akan marah.
Drett dreettt dreettt,
Namun sebuah notif pesan masuk ke ponselnya.
📩 Hei anak muda, jika ingin berkencan tinggalkan saja pekerjaanmu, menyusahkan saja ! Dasar kaum bucin...
Satu pesan dari aplikasi chatting yang didominasi warna hijau masuk pada ponselnya, ternyata pesan dari tuan muda yang berhasil membuyarkan lamunannya, namun yang ia herankan dari mana tuan mudanya mengetahui ia akan pergi berkencan malam ini.
📩 Pergilah sebelum aku berubah pikiran, tidak penting aku tau dari siapa, aku hanya kasihan padamu, tanggalkan gelar jomblo akutmu itu.
Haahh..., Roy menghempaskan nafasnya berat, apa seorang Bos selalu bersikap semaunya seperti Tuan Mudanya ini, dan lagi pula apakah Tuan Mudanya ini seorang cenayang hingga begitu tepat menebak apa yang sedang ia pikirkan.
Dasar Tuan Muda minim akhlak, seenaknya saja mengataiku jomblo akut.
Menyebalkan, gini-gini padahal aku yang selalu dikejar-kejar wanita, sedangkan dia malah pernah mengejar-ngejar wanita, mana janda pula.
Bersambung...
__ADS_1
Like, koment, gift, dan vote.