Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Siksa untuk Riana


__ADS_3

"Mas, kenapa dengan kakiku ?" Riana yang baru bangun tidur itu pun terkejut melihat kakinya yang sudah agak borok, nampak berlubang.


"Lho sayang, iya kok bisa jadi gini ?" Athar bingung, obat dari rumah sakit yang ia berikan tidak ada efek sama sekali, malahan sakit Riana mangkin serius.


"Mas, ayo kita kerumah sakit, aku mau periksa mas, kok nggak ada tanda kesembuhan ?" Riana mulai panik karena kini badannya juga semangkin sakit rasanya.


"Ya udah, ayo..." Athar segera berkemas dan membawa Riana kerumah sakit.


Sesampainya dirumah sakit, Riana diperiksa seperti biasa, nampak dokter malah menggelengkan kepala seolah menyerah dengan sakitnya Riana.


"Bagaimana keadaan istri saya dok ?" Tanya Athar, setelah Riana selesai diperiksa.


"Mari ikut saya Pak" Dokter rumah sakit itu menyuruh Athar keruangannya untuk bicara berdua saja, karena ia takut untuk mengatakannya depan pasiennya.


"Istri bapak saat ini sedang tidak baik-baik saja, kami juga tidak tahu kenapa obat yang kami resepkan tidak bereaksi dalam tubuhnya, ini benar diluar dugaan kami Pak" Jelas Dokter saat sudah diruangannya.


"Entah kenapa malah kondisi istri bapak semakin memburuk saja seperti ini, atau silahkan saja bila bapak ingin berobat kerumah sakit yang lebih baik, ke luar negeri misalnya, kami disini sudah angkat tangan Pak"


"Kalau jika terus seperti ini, akan berpengaruh pada bayinya, kondisi istri bapak mulai melemah, sistem imunnya kini sudah menyerang sampai saraf otaknya, mungkin kalau tidak ada perubahan pada kondisi istri bapak, dia akan lumpuh total" lanjutnya lagi.


"Untuk sementara kalau dari kami di rumah sakit ini tidak ada yang bisa kami lakukan, karena lupus memang penyakit yang tidak bisa disembuhkan, saya sarankan pada usia kandungan tujuh bulan, istri bapak harus segera melahirkan, karena jika tidak itu akan sangat mempengaruhi bayinya, atau ya itu bapak ke rumah sakit luar negeri saja yang segalanya sudah sangat terbaik perawatannya"


"Tapi semua keputusan saya kembalikan pada bapak, sekarang usia kandungan istri bapak sudah mau menginjak enam bulan, sebulan lebih lagi, persiapkan segalanya, terutama mental istri bapak" dokter itu kemudian penepuk pundak Athar seolah berkata sabar.


"Apa tidak apa-apa Dok ?" Tanya Athar.


"Hanya itu yang bisa kami lakukan, berdoa pada yang kuasa, terus memberikan obat dan makanan sehat semoga saja bisa meringankan sakitnya, percayalah hanya pada Allah semata tempat kita meminta" Jawab dokter.


"Saya akan resepkan obat untuk borok pada kakinya, mudah-mudahan ada perubahan untuk lebih baik" ucap dokter lagi.


Yah Tuhan, ini seperti mimpi buruk, Riana akan mengalami ini semua.


Athar masih berharap segalanya hanyalah mimpi, dan saat ia terbangun semua ini tidak pernah terjadi pada istrinya.

__ADS_1


Namun apa mau dikata, itu semua hanya mimpinya juga, apa yang terjadi pada istrinya kini itulah kenyataannya.


Misca sekarang bagaikan tuan putri, ia diantar oleh supir keluarga Adrian dan ditunggui oleh pengasuhnya saat bersekolah, Jason tidak mengizinkan Shirleen untuk banyak beraktivitas diluar, cukup aktivitas dirumah saja.


"Mbak Inah, boleh tidak Misca ingin ke taman, semenjak Bunda akan punya adek bayi Misca sudah lama tidak jalan-jalan, Misca jalan sama Mbak Inah saja juga tidak apa-apa !" Misca menanyakan kepada pengasuhnya.


"Sebentar tuan putri, Mbak Inah izin dengan Tuan Muda Jason dulu !" Jawab pengasuhnya.


Pengasuhnya pun mengirim pesan kepada Jason untuk meminta izin membawa Misca ke taman, tidak lama Jason pun membalas pesanya, Jason mengiyakan dan mengatakan untuk berhati-hati serta tetap selalu mengawasi Misca.


Kini Misca sudah sampai di taman, ia bermain di area permainan anak-anak diawasi sopir dan pengasuhnya.


"Anaknya cantik sekali Mbak..." Tiba-tiba seorang wanita paruh baya menegur Inah.


"Eh iya Bu, anak majikan saya itu" Jawab Inah.


"Oh iya, heemmm, cucu saya juga pasti seumuran anak itu sekarang, pasti juga cantik seperti itu" ucap wanita paruh baya itu.


Inah pun merasa canggung, ia sebenarnya tidak menaruh curiga terhadap wanita paruh baya dihadapannya ini, namun ancaman Tuan Muda Jason yang selalu mengingatkannya jangan sampai terjadi sesuatu dengan Misca membuatnya selalu waspada level teratas.


"Mbak Inah, ini siapa ?" Tanya Misca melihat ada orang asing yang duduk bersama pengasuhnya.


"Kenalkan, Oma Nena kamu bisa panggil saya Oma Nena" Ucap Mama Nena, yah yang duduk disamping Mbak Inah adalah mamanya Shirleen, Mama Nena.


Misca hendak menyalami orang tua itu, namun tangannya langsung dipegang oleh pengasuhnya.


"Maafkan saya Bu, majikan saya melarang Misca untuk berjabat tangan dengan orang asing" ucap Mbak Nena, katakanlah ia terlalu protektif, namun itu semua adalah perintah Jason dan ia tidak akan berani untuk membantah.


"Mbak Inah, oma ini bukan orang asing, namanya Oma Nena, kata Bunda kalau ada orang tua mengajak kita bicara kita harus sopan, namaku Misca Oma" Ucap Misca.


"Tapi Non, nanti Mbak dimarahin Papa Non" terang Pengasuhnya.


"Nanti biar Misca yang bicara sama Papa Jason, Mbak Inah tenang saja" Misca juga sudah diajarkan Jason dan Mama Mila untuk memanggil Jason dengan sebutan Papa, dan Oma untuk Mama Mila.

__ADS_1


Mbak Inah hanya bisa menggaruk tengkuknya, ia merasa kalah berdebat dengan Misca. Dalam hatinya pun tak henti-hentinya berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan Misca.


"Ayo nek kita main" Ajak Misca pada Oma Nena.


"Non boleh tidak kita pulang, nanti Papa Non pasti tidak suka melihat ini" Mbak Inah masih mencoba membujuk Misca.


"Mbak Inah aku masih ingin main" Renggek Misca.


Mbak Inah yang tidak tega pun, menuruti Misca, ia membiarkan Misca menikmati waktu bermainnya, sambil terus mengawasi.


Misca begitu cepat akrab dengan wanita paruh baya itu.


Sampai Misca kini lelah bermain, Mbak Inah langsung menggendongnya dan pamit pulang pada Oma Nena.


Bu Nena hanya bisa melihat kepergian Misca, yang mampu menghilangkan keriduannya dengan anak dan cucunya.


Hari ini ia sengaja ke taman, untuk mengenang anaknya, ia ingin sekedar melepas rindu, dulu setelah Ilen pergi meninggalkan rumah ia terakhir kali melihat anaknya secara diam-diam di taman ini, waktu itu ia tidak sengaja bertemu anaknya yang ternyata sedang hamil.


Ia begitu senang melihat anaknya yang nampak bahagia dengan kehamilannya. walaupun ia hanya bisa memandang dari kejauhan. Tak apa setidaknya anaknya baik-baik saja, semoga saja keputusan anaknya itu benar, harapnya


Ia tidak rela anaknya menjadi menantu dikeluarga Athar. Namun ia tidak bisa berbuat banyak waktu itu, semuanya sudah keputusan anaknya.


Dan ia sungguh menyesal saat ini.


Bersambung...


*


*


*


***Hai readers, mohon dukungannya dengan like, koment, dan vote yah...

__ADS_1


Happy reading*** !!!


__ADS_2