Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Hari Weni dan Yudha.


__ADS_3

"Cepetan By, aduh ini nanti akadnya keburu mulai!" geram Shirleen menggerutu, Jason nampak santai seperti dunia akan selalu menunggunya, padahal Shirleen ingin melihat Weni menikah, akad nikah sahabatnya itu tidak kurang dari satu jam lagi di mulai.


"Bawel banget sih By, bentaran ini, aku nggak suka deh pake batik, apa lagi kamu nggak couplean sama aku." keluh Jason.


Sebenarnya Jason dan Shirleen sudah membeli satu set batik couple untuk pernikahan Weni, kemarin saat Shirleen tau Weni akan menikah ia langsung saja memesan.


Jason pun tidak masalah, meski pemuda itu tidak menyukai pakaian batik, namun jika harus couplean dengan sang istri ia masih bisa menerimanya.


Sayang seribu kali sayang, perut Shirleen yang membuncit membuat baju yang dirinya beli kemarin tidak pas dan tidak begitu nyaman saat dikenakan, jadi Shrileen memutuskan untuk memakai long dress saja yang kini sangat cantik dirinya kenakan sebagai Ibu hamil.


"By..." geram Shrileen.


"Aku nggak mau By!" protes Jason seperti anak kecil saja, masalah pakaian saja di debatin, dasar bocil umpat Shirleen dalam hati.


Shirleen geram sekali rasanya, ia berjalan menuju walk in closet, mencari-cari kemeja senada dengan long dressnya yang berwarna hijau mint, dan akhirnya ketemu.


"Pake ini mau?" tanya Shirleen.


Jason mengangguk, dan segera mengganti busananya.


"Dasar!" gumam Shirleen.


Sementara di rumah Weni,


"Si Junedi kemana sih, perasaan sekarang Junedi jadi sering ngaret dah!" keluh Afik.


"Ini Fik buat lo!" ucap Angga, sembari memberikan satu kotak tissue pada Afik.


"Apaan ini, lo nyuruh gue jualan tissue di sini? Napa nggak sekalian aja ngurus parkir!" sewot Afik.


"Bukan lah, itu buat lo kali, ada nanti gunanya!" ucap Angga dengan senyum menyebalkan, menarik pinggang Rara yang berada di sampingnya untuk semakin mendekat.


"Nanti Yudha bentar lagi sold out, Junedi juga bentar lagi datang sama kak Ilen bawa pasukan, nah gue sama pacar, iye nggak Pacar?" tanya Angga pada Rara, mengedipkan genit meminta pengakuan.


"Jijik gue kampret!" Afik melempar satu kotak tisu itu pada Angga, sialan sekali rasanya mendengar kenyataan kalau memang hanya tinggal dirinya yang menjomblo.


Sementara Rara, gadis itu hanya bisa nyengir kuda, kelakuan pacarnya ternyata begini, lebih gila dari yang ia duga.


"Liat noh Fik, si cebong tegang banget!" ucap Angga mengalihkan pembicaraan, tapi memang benar adanya, Yudha nampak tegang duduk di kursi yang tak jauh dari keduanya, sesekali calon manten itu melirik arlojinya, detik-detik melepas masa lajangnya menjadi suami orang.

__ADS_1


Acara sakral itu memang akan dilangsungkan di rumah Weni, setelah nanti siang baru akan dilangsungkan resepsi di salah satu hotel ternama kota ini.


"Hahaha, kira-kira apa isi otaknya sekarang yah?" tanya Afik.


"Ye mana gue tau, gue belum ngalamin!" jawab Angga apa adanya.


"Ga lo juga mau ngikutin jejak dua manusia es, Ada rencana lo?" tanya Afik lagi.


"Belum, bentar lagi kan nikahan bang Diran, ya nggak mungkin kan gue taun ini kewong?" jawab Angga.


Yah, tidak sampai satu minggu dari hari ini, Angga juga akan disibukkan oleh pernikahan kakaknya, dan hal itu jugalah yang tidak bisa membuatnya segera mempersunting Rara meski ia juga ingin menikah muda.


Rara sudah Angga perkenalkan dengan keluarganya, dan untungnya keluarga Angga tidak mempermasalahkan status sosial Rara, hanya saja mereka tidak setuju kalau Angga segera menikah di tahun yang sama dengan Kakaknya.


Jason dan Shirleen sudah sampai, dan benar apa yang dikatakan Angga, keduanya memang membawa pasukan.


Athar juga hadir di sana, Weni mengundang pria yang pernah ada di hatinya itu, meski Athar tidak pernah mengetahui perasaan Weni terhadap pria itu, namun Weni ingin memantapkan hatinya dan dengan yakin bahwa dirinya memang benar-benar sudah move on.


Ada Yudha yang sangat mencintainya, dan Weni sebisa mungkin akan membalas cinta suaminya itu.


"Saya terima nikah dan kawinnya Gweni Kirana binti Hadi Prastyo dengan maskawin uang tunai senilai dua puluh dua juta enam puluh satu ribu sembilan ratus sembilan puluh tiga rupiah dibayar tunai." ucap Yudha lantang dengan satu tarikan nafas, dengan mengucapkan itu dan para saksi mengatakan 'Sah' maka sebuah tanggung jawab sudah berpindah kepadanya.


"Sah,"


"Sah,"


"Sah."


"Alhamdulillahirobbilalamin..."


Alhamdulillah...


Yudha mengucap rasa syukur dalam hatinya karena sudah berhasil menyelesaikan tugasnya, rasa gemetar karena gugup yang ia rasakan seakan lenyap sudah.


Yudha mencium kening Weni, sementara Weni menyambut uluran tangan Yudha dan mencium punggung tangannya.


Setelah itu, Yudha membacakan sighat taklik di hadapan semua orang sebagai saksi sebuah ucapannya yang akan ia pertanggungjawabkan itu.


Semua orang memberikan selamat, begitupun Shirleen yang saat ini sedang memeluk Weni. Rasa bersalah seolah lepas dari dirinya saat ia tidak sengaja menyakiti hati Weni karena menikah dengan Athar dulu, Weni sudah menikah dan ia berharap akan ada bahagia yang tiada tara menghujani pernikahan sahabatnya dan sahabat suaminya itu.

__ADS_1


Mama Wina menangis, dirinya sudah tidak kuat lagi rasanya, namun ia tahan sebisa mungkin ia harus kuat untuk anaknya, untuk menantunya.


Acara sungkeman di lalui dengan haru, Yudha yang tidak lagi mempunyai sosok Ayah itu mendapat sedikit wejangan oleh Om Radit, air mata tidak bisa terhindarkan saat Om Radit membawa-bawa nama Papanya seakan mengingatkan untuk selalu Yudha kenang selamanya.


"Pasti Om, Papa pasti bahagia di sana!" ucap Yudha.


"Sayangi dia, jangan sakiti dia, Papamu selalu mencintai Mamamu hingga akhir hidupnya, kau bisa berjanji?"


"Iya Om, Aku janji, aku sangat mencintai Weni, tidak akan mungkin aku menyakitinya dengan sengaja, namun andai aku khilaf nanti Weni berhak menegurku saat aku salah." Yudha menatap Weni lama, Ah istri... kata itu adalah kata baru dalam hidupnya yang sudah baru juga.


"Weni..." panggil Mama Wina.


"Ya Ma!" ucap Weni mendekat.


"Mama sangat bahagia, kamu bisa mengerti perasaan Mama, nanti jika Mama pergi, Mama bisa pergi dengan tenang, sudah menikahkan kalian seperti apa yang almarhum Papanya Yudha minta." ucap Mama Wina berbisik, Yudha sedang berbincang dengan Om Radit saat ini.


"Ma, jangan ngomong gitu, nggak boleh, Mama pasti sembuh!" Weni menggenggam erat tangan mertuanya itu.


"Jangan bilang Yudha yah, please!" mohon Mama Wina.


"Enggak Ma, mana mungkin aku bisa menyimpan rahasia sebesar ini..."


"Shuuttt... Sayang, seenggaknya sampai acara hari ini selesai, Mama tidak ingin merusak kebahagiaan kalian." ucap mama Wina sembari menahan sakit, wanita itu nampak cantik mengenakan gamis dan jilbab yang menutupi kepalanya yang sudah mau botak, wajahnya sedikit pucat.


Yudha kemarin juga sedikit heran dengan Mamanya yang sudah mengenakan baju tertutup dan hijab saat ia sampai di Indonesia, namun Mamanya itu berdalih karena ingin menjadi lebih baik.


Mama Wina tidak sepenuhnya berbohong, karena ia juga sudah mendekatkan diri pada yang Kuasa sebisanya.


Mama Wina duduk di kursi dibantu Weni, tidak banyak yang tau perihal sakitnya, mungkin hanya dirinya, para medis, dan Weni.


Bersambung...


*


*


*


Like, koment, and Vote !!!

__ADS_1


__ADS_2