
Malam harinya, Jason baru saja akan membuka media sosialnya, namun Shirleen malah mengejutkannya karena terlihat melakukan perubahan pada dirinya.
Jason tersenyum geli melihat apa yang ada didepan matanya, entah kenapa dirinya malah seakan hendak tertawa saat Shirleen seperti ingin menggodanya malam ini.
"Heh kenapa ?" tanya Shirleen heran sekalian tidak terima, karena dilihatnya Jason bukannya senang dengan penampilannya, malah ia yakin sekali suaminya itu sedang berusaha menahan tawa.
"Gak papa" ucap Jason santai.
"Aku hanya mencobanya, ini dari Weni, setelahku buka ternyata isinya pakaian kurang bahan seperti ini, apa aku terlihat sangat buruk ?" tanya Shirleen, tadinya ia memang penasaran akan kado dari sahabatnya itu, ternyata isinya lingerie yang sangat kekurangan bahan dengan warna merah terang menyala, ia kira Jason akan ngiler dan tergoda saat ia memakainya, namun ternyata diluar dugaan yang dilihatnya Jason malah sedang uji ketahanan tawa saat ini.
"Pfftt, hahaha" Jason tidak bisa lagi menahan gejolak rasa ingin tertawanya, ah sudahlah jika istrinya ngambek itu urusan belakangan.
"Kok ketawa sih" gerutu Shirleen sangat pelan, namun masih bisa di dengar oleh Jason.
"Abis lucu sih By, aku nggak pernah liat kamu pakai yang kayak gitu,"
"Kok lucu ?" tanya Shirleen.
"Gak tau, memangnya kamu nunjukin ini ke aku pengen godain aku yaaa" tanya balik Jason.
Shirleen mengerucutkan bibirnya, sumpah demi apa ini tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Mau kemana By" cegah Jason.
"Ya mau ganti, kamu kayaknya bukannya tergoda malah jadi lawakan" ucap Shirleen.
"Marah nih kamu maksudnya"
"Eng enggak sih, gak tau deh gimana, rasanya kayak eem kamu nyebelin amat sih"
"Hahahaha, nanti yaaa pakai itu lagi untuk kamu menunggang kuda" ucap Jason lagi.
"Ih apaan, aku sudah kecewa" ejek Shirleen, kini gilirannya mempermainkan sang suami.
"Oohh jadi kecewa" ucap Jason.
"Iya kecewa, kamu aja nggak tertarik sama yang beginian"
"Sebenarnya bukan nggak tertarik sih By" ucap Jason tepat ditelinga Shirleen. "Gimana yaaa, lebih ke... Aku senangnya jika kamu nggak pake apa-apa" ucap vulgar Jason.
"Heemm, dasar otak mesum" umpat Shirleen.
"Nggak diajarin aja aku mesum, apa lagi diajarin kayak gini" Jason membuka tali yang mengikat baju laknat Shirleen. "Bukan mesum By, tapi normal" bisik Jason.
"Udah ah, aku mau ganti baju aja" ucap Shirleen ia pergi meninggalkan Jason lalu masuk ke kamar mandi lagi.
Jason kembali melihat ponselnya, ia akan melihat pemberitaan tentang pernikahannya hari ini.
__ADS_1
Benar saja, publik seakan tidak ada pembahasan lain, pernikahannya menjadi trending topic pencarian paling pertama di sosial media.
Jason Ares Adrian, menikahi Janda dua anak, intip foto pernikahannya.
Shirleen Damla Julian, wanita yang beruntung mendapatkan hati Jason Ares Adrian, intip beberapa fotonya.
"Haaahh" Jason menghela nafasnya kasar, sebelumnya ia memang sudah menyangka publik akan memberitakan hal semacam itu, lalu ia menelpon Roy untuk menyuruh asisten pribadinya itu melakukan sesuatu.
^^^"Ya Tuan Muda..."^^^
"Besok kau urus semuanya, aku akan mengadakan konferensi pers, kurasa benar apa katamu, sepertinya memang perlu"
^^^"Baik Tuan Muda"^^^
Jason mendudukkan tubuhnya di sofa, lalu ia memposting foto pernikahannya dengan Shirleen, sudah lama sekali ia ingin menampilkan wajah wanita yang ia cintai itu di akun sosmednya, ia sangat ingin Shirleen dikenal sebangai miliknya.
Di sebuah rumah, Athar sedang memandangi foto pernikahannya dengan Shirleen.
Dulu ia menikah atas dasar suka sama suka, meski tidak adanya restu dari kedua belah pihak orang tua, namun mereka tetap bahagia, Shirleen begitu cantik dengan kebaya putih sederhana yang mereka sewa di Butik Weni yang saat itu baru saja dibuka.
Hari-hari mereka lalui dengan sangat bahagia, hingga beberapa bulan kemudian Misca hadir melengkapi kebahagiaan mereka.
Lalu bagaimana bisa ia melupakan begitu saja kenangan manis itu, rumah tangga yang mereka bangun bersama, sungguh ia sangat mencintai Shirleen dulunya sebelum akhirnya ia khilaf atas pesona dunia.
"Seharusnya kita bahagia, kalau bukan karena kesalahanku, tidak kusangka aku akan benar-benar kehilanganmu" lirih Athar, ia berbicara sendiri dikamarnya, matanya memanas, yah inilah akhirnya.
"Prangg"
Ia bergegas menuju kamar ibunya, namun ibunya itu tampak masih tertidur pulas.
"Prangg" kembali lagi ia mendengar suara yang sama, namun kali ini lebih jelas, ternyata suara itu berasal dari kamar kakak sulungnya.
Ia lalu menuju kamar Riska untuk melihat apa yang terjadi, dan memastikan bahwa kakaknya baik-baik saja.
Meski beberapa hari ini, semenjak ia mengetahui kebejatan Riska, ia sama sekali tidak bertegur sapa dengan kakak sulungnya itu, namun ia tidak bisa mengabaikan begitu saja jika terjadi sesuatu pada kakaknya.
"Kak Riska..." ucapnya spontan berteriak, Riska sedang mengamuk dikamarnya ternyata, dia membanting apapun yang bisa ia banting.
"Jangan mendekat..." ucap Riska.
"Kak..." lirih Athar. Ia melangkahkan kakinya pelan, keadaan Riska sangat berantakan, sepertinya kakak sulungnya itu habis menangis seharian, terbukti dari mata yang terlihat sembab dan memerah.
"Diam, jangan berani mendekat" bentak Riska.
"Kak, istigfar kak, kenapa bisa begini" ucap Athar lagi, ia sungguh bingung apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Diam kamu"
__ADS_1
"Kak..."
"Jangan mendekat" teriak Riska, ia bahkan mengambil pecahan kaca yang lumayan panjang lalu ia todongkan pada dirinya tepat akan mengenai perutnya.
"Astagfirullah Kak, istigfar kak, ingat Allah" ucap Athar.
"Pergi, nggak ada lagi untungnya aku hidup di dunia, Tiara sudah pergi, Rendi pergi, semua orang pergi ninggalin aku"
Ingin sekali Athar memaki dan mengatai kakak sulungnya itu bahwa semua yang terjadi, penyebab Tiara pergi dari hidupnya adalah kesalahannya sendiri, seharusnya Riska menyadari bukan malah berputus asa seperti ini, namun sayangnya kondisi sekarang sangat tidak memungkinkan, Riska sedang emosional, kalau ia berkata demikian bukan tidak mungkin Riska akan melakukan hal diluar batas.
"Kak..." ucap pelan Athar.
"Pergi"
"Kak..."
"Aku bilang pergi, jangan mendekat"
"Kak..." tapi Athar tidak perduli, ia terus saja mendekat, ia ingin membawa Riska kedalam pelukan, supaya kakaknya itu bisa lebih tenang.
"Jangan melangkah lagi, atau..." ucap Riska.
Athar tetap saja tidak perduli, baginya yang terpenting adalah keselamatan kakaknya.
Tap, Athar berhasil menangkap lengan kakaknya, ia langsung saja membawa Riska kedalam pelukan, namun karena Riska yang terus saja memberontak membuat Athar sedikit kesulitan.
"Lepas..." berontak Riska.
"Aku mau mati" ucapnya lagi.
"Tidak kak, jangan seperti itu, ada aku, ada kak Delia, Kak Mutia, Kak Citra, kami semua menyayangi kakak, kita lewati semuanya sama-sama" ucap Athar menenangkan kakaknya.
"Lepas..."
"Kak sadar kak, sadar ya Allah" ucap Athar, sumpah demi Tuhan ia tidak tau apa yang harus ia lakukan selain menyelamatkan kakaknya dengan cara seperti ini.
"Srettt" sebuah pecahan kaca malah sudah tertancap.
"Kak..."
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!
__ADS_1