Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Sudah By...


__ADS_3

"Kau pulanglah By..." suruh Jason pada Shirleen. Dirinya melihat istrinya itu nampak lelah, apa lagi besok pagi Shirleen harus menghadiri acara pembagian rapor di sekolah Misca.


"Tidak apa By, aku di sini saja." jawab Shirleen.


"Jason, eemm kira-kira kapan Mama bisa pulang?" tanya Mama Mila, hari sudah beranjak sore namun suaminya belum juga datang menjenguknya, apa karena ada Jason pikir Mama Mila hingga suaminya tidak berani untuk datang.


Tapi menurut Mama Mila, suaminya itu bukan orang yang mudah gentar akan apapun.


"Kenapa? Mama kan belum pulih total!" jawab Jason.


"Tidak apa, Mama hanya bertanya."


"Ma, Mama kenapa?" tanya Shirleen, dirinya ingin sekali jujur tentang pertengkaran ayah dan anak itu, namun Shireen juga masih bingung harus memulai dari mana ceritanya.


"Tidak apa!" jawab Mama Mila.


"Mama kangen Papa yaaa?" goda Shirleen. Jason sedikit terusik kala sang Papa di sebut dalam percakapan Shirleen dan Mamanya.


"Ahaha, bukan begitu, tapi kenapa yah Papa belum ke sini?" tanya Mama Mila pelan, sedikit berbisik di dekat Shirleen, dirinya takut menyinggung Jason kalau berbicara normal.


"Ma, Mama tidak usah memikirkan itu yah." ucap Shirleen.


"Mama tidak memikirkan itu, Mama hanya menanyakan, tidak biasanya kan, Papamu meski sibuk tapi dirinya tidak pernah membiarkan Mama, dia selalu khawatir kalau Mama sakit begini." ungkap Mama Mila dengan masih berbisik.


Jason sebenarnya mendengar, indra pendengarnya memang sangat tajam, hatinya juga sedikit tersentak, haruskah dirinya menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi.


Lalu bagaimana reaksi Mamanya setelah tau Papanya memutuskan untuk pergi, apa akan menyalahkannya? Atau bagaimana?


Jason berperang dengan batinnya, dirinya terus saja memikirkan bagaimana solusi tentang semua itu.


"Ma..." seru Shirleen.


"Ya?"

__ADS_1


"Jika aku dan suamiku keluar sebentar, Mama tidak apa kan kami tinggal sendiri dulu?" tanya Shirleen.


"Ooh, ya silahkan, Mama pikir apa tadi, kalau mau keluar ya nggak papa, kalian jangan terlalu memikirkan Mama, Mama baik-baik saja tuh liat." Mama Mila menunjukan badannya yang tampak bugar, tidak lemah seperti tadi, dirinya sangat bersemangat saat ini.


"Sebentar ya Ma, hanya sebentar kok!" ucap Shirleen lagi.


"Iya, duh kayak nggak pernah muda aja Mama ini, sudah sana!" ucap Mama Mila.


Lalu Shirleen mengajak Jason keluar, Shirleen akan membicarakan sesuatu pada Jason, baginya ini tidak bisa dibiarkan, Shirleen tidak terbiasa berbohong, dari tadi Mama Mila terus saja bertanya tentang Pak Adrian, lalu bagaimana mereka akan menjawabnya, tidak semakin lama dibiarkan nanti masalah ini akan semakin runyam pikir Shirleen.


"Sekarang gimana?" tanya Shirleen, saat mereka sudah berada di mobil, Shirleen membawa Jason ke mobil mereka, baginya itu cukup privasi.


Jason diam saja, namun raut wajahnya terlihat bingung, Shirleen bisa membaca itu karena sangat kentara.


"By, ayo... Apa kamu bisa, apa kamu siap menjelaskan, jangan diam saja, jangan mengelak, semakin lama akan semakin runyam jika kita terus seperti ini." ujar Shirleen.


"Sampai kapan kita akan menyembunyikannya, bahkan sedari malam tadi kau tidak tau kemana perginya Papa, By, aku sebenarnya tidak ingin mengatakan ini, tapi tolong rubah cara pikirmu, turunkan egomu sedikit, atau kamu akan menyesal By!" tegas Shirleen.


"Kau marah padaku?"


"Kau masih belum mengerti, berarti kepedulianmu, apa yang terucap dari bibirmu kalau kau akan selalu di sisiku itu hanya ocehanmu saja kan, kau hanya kasihan padaku!"


"By, terus saja, terus saja seperti itu, sampai kapan kau akan menganggap bahwa tidak ada yang perduli padamu, aku ini manusia biasa By, yang mencoba menjadi penengah di antara pertengkaran anak dan orang tuanya."


"Aku bisa saja mendukungmu, tapi aku seorang Ibu, sama seperti Mamamu, yang ingin semua orang yang dicintainya bahagia, aku yakin Mama sangat menginginkan keluarganya utuh seperti dulu, bukan malah terpisah seperti ini."


"Kau yakin tidak mau mengambil langkah tentang masalah ini? Kau akan membiarkan Mamamu hidup dalam kebohongan, dia bertanya-tanya, sampai kapan? Sampai nalurinya sebagai istri tergadaikan, dengar By, aku memang akan memihakmu, tapi selama kau benar, dan bagiku kau saat ini sudah salah, kau terlalu ambisi tentang dendammu, dendammu telah membuatmu buta, tidak bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah."


"Sudah, jangan katakan!" pekik Jason, Shirleen terdiam, apakah dirinya baru saja membuat Jason marah?


"Bahkan belum dua puluh empat jam kau membelaku, namun sekarang kau sudah menyalahkanku, bagus sekali By, bagus sekali..." ucap Jason, matanya mengisyaratkan akan kekecewaan.


"By, kau tidak paham, ini adalah situasi yang berbeda."

__ADS_1


"Jangan, jangan katakan, aku tidak mau mendengarnya."


Shirleen tersentak, astagah apa yang baru saja dirinya lakukan, hanya karena terlalu memikirkan perasaan Mama Mila dirinya bahkan tega secara tidak langsung menyalahkan Jason, padahal dirinya tau kalau suaminya itu sebenarnya sudah dalam tahap depresi, Shirleen mengerti, melihat kenyataan di hadapannya ini, Jason yang menutup kedua telinga serta tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya disalahkan membuat Shirleen sungguh mengerti, suaminya sangat menderita batin. Bahkan Shirleen tidak bisa membayangkan sudah di tahap yang bagaimana batin suaminya itu tersiksa.


Shirleen menangis, ingin dirinya tarik kata-katanya tadi, namun tidak bisa semuanya sudah terjadi.


"By, maafkan aku By, tidak kita akan cari solusinya." lirih Shirleen.


"Tidak, jangan lakukan, tidak." pekik Jason.


Shirleen memeluk paksa Jason, sungguh ia sakit melihat kenyataan seperti ini.


Seorang Jason Ares Adrian, pemuda yang terlihat nyaris sempurna, dikagumi banyak orang, semua orang bangga atas prestasinya, bahkan Shirleen mengakui itu, Jason adalah suami yang begitu baik, menyayangi anak-anaknya, Jason tidak pernah mengeluh tentang hidup, suaminya itu selalu bisa diandalkan, dewasa dalam berpikir, Shirleen bahkan sudah jatuh cinta entah berapa kali di buat Jason, berkali-kali dirinya jatuh dalam pelukan suaminya itu.


Namun siapa sangka dibalik kesempurnaan itu, ada Jason Ares Adrian yang rapuh, ada Jason yang kehilangan arah, Ada Jason yang sangat menyedihkan, Shirleen tidak bisa membayangkan kehidupan seperti apa yang telah menyeret suaminya itu ke dalam kehancuran seperti ini.


"Dia harus menderita, dia harus menderita!"


Shirleen tau sumpah itu ditujukan untuk siapa, begitu menggunung dendam yang suaminya itu kobarkan, begitu sakit hati suaminya itu.


"Dia harus menderita, dia harus membayarnya, aku tidak akan membiarkannya hidup tenang, dia harus menderita, tidak akan kubiarkan dia tau bagaimana caranya tersenyum, dia akan membayarnya."


"Aku akan melihatnya hancur, suatu hari nanti, aku akan melihatnya hancur, dia harus hancur sehancur-hancurnya."


"By, sudah By, sudah, hentikan By... Hiks hiks, By, tolong hentikan, jangan seperti ini."


Shirleen tidak percaya, caranya ingin menengahi semuanya bahkan membuat luka suaminya itu tertoreh lagi.


*


*


*

__ADS_1


Like, koment, dan Vote !!!


__ADS_2