Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Bau Nangka.


__ADS_3

Pagi menjelang, Afik baru sampai kerumahnya setelah semalam menginap di rumah Jason.


Hari ini hari malasnya, Bundanya tidak ada di rumah karena pastinya sudah pergi ke toko perhiasan milik keluarganya, sementara Ayahnya sang Pilot itu katanya baru akan pulang minggu depan.


"Tak." sebuah benda jatuh saat ia hendak mengambil pakaiannya dari lemari.


Pelan ia memungut sebuah bingkai foto yang terbuat dari kaca tersebut, tampak sedikit retak namun wajah yang berada difoto tersebut masih bisa dilihat dengan jelas.


"Hai, apa kabar ?" tanyanya pada foto yang saat ini sedang ia tatap.


"Lo bahagia disana ?"


"Semoga gue tergolong orang baik, biar kita bisa bertemu nantinya di sana."


Afik menaruh lagi foto tersebut kembali pada lemari, ia simpan rapi, karena semakin dilihat hanya akan semakin membuatnya bersedih.


Namanya Zalinda, di foto tersebut saat itu wanita yang bernama Zalinda itu masih berumur delapan tahun, sepantar dengannya.


Keduanya, ia dan Zalinda tampak berpelukan, tersenyum manis saat difoto.


Ternyata meski terlihat slengean, rupanya Afik mempunyai kisah percintaan yang cukup tragis, saat ia berumur tujuh tahun waktu itu ia dan Zalin saat itu tidak sengaja mendengar rencana orang tuanya yang akan menjodohkan mereka saat mereka sudah dewasa nanti.


Ia dan Zalin sudah paham arti pernikahan pada umumnya saat itu yang pastilah akan hidup bersama, mereka berdua pun menerima, Afik kecil sangat senang, sejak saat itu ia menganggap Zalin adalah pacarnya begitupun sebaliknya Zalin kepadanya.


"Kau harus selalu menurut padaku, aku kan yang akan menjadi suamimu nanti setelah dewasa, sini berikan coklat itu lagi padaku." ucap Afik kecil saat itu.


"Mengapa aku harus menurut padamu, kita kan saat ini belum menikah." sanggah Zalin waktu itu, namun anehnya tetap saja memberikan coklat miliknya untuk Afik.


"Jadi jika aku menikah denganmu sekarang, kau akan selalu menurut padaku ?" tanya Afik.


"Kata Bunda, seorang istri yang sudah menikah harus selalu menurut pada suami !"


"Benarkah ? Kau juga akan menurut untuk tinggal di rumahku jika kita sudah menikah ?"


"Mana mungkin aku akan menolak, Tuhan akan menghukum ku jika aku tidak menurut, begitu kata Bunda !" jelas Zalin.


"Oke, tunggu sebentar, aku akan meminta ayah untuk segera menikahkan kita !" Afik kemudian berlari ke arah orang tuanya yang tampak sedang berbincang santai.

__ADS_1


Ia meminta untuk segera dinikahkan pada Zalin, namun Afik masih ingat betul jawaban sang ayah waktu itu, setidaknya ia harus menunggu sampai dirinya setinggi sang ayah.


Dan Bundanya juga bilang, saat ia sudah bisa bekerja seperti sang ayah barulah ia bisa untuk menikahi Zalin.


Setahun berlalu, keduanya nampak akrab, layaknya teman masa kecil, sampai hari itupun terjadi, hari yang membuat Afik tidak mungkin bisa menikahi Zalin lagi.


Saat Zalin dan orang tuanya ingin berlibur ke Singapura, dimana saat itu pesawat yang membawa Zalin dan orang tuanya malah naasnya mengalami kecelakaan, hingga sampai hari ini jasad ketiganya belum juga ditemukan, Afik ingin menganggap Zalinnya masih hidup namun berhari-hari ia menunggu, calon istrinya itu tidak juga pulang menepati janji mereka.


Ia tidak tau harus menganggap cintanya berpisah karena apa, ia tidak ingin menyebutkan bahwa Zalinnya sudah tiada, meski selama ini sepertinya begitulah kenyataannya.


Apa lagi, keluarga Zalin yang lainnya sudah mengadakan acara peringatan kematian Zalin dan kedua orang tuanya, dan dia harus dengan tabah pada akhirnya menerima bahwa Zalinnya mungkin memang benar sudah tiada.


Sebab itu, ia sangat mengerti bagaimana rasanya berjauhan, Yudha dianggapnya masih beruntung hanya ada jarak yang memisahkan. Sementara ia,


Kau tau bagian mana yang paling menyakitkan dari berpisah ?


Berpisah karena kematian.


Tak perduli seberapa besar kau merindukannya, dia tidak akan kembali ke dunia.


Tawanya, celotehnya, kadang ia lakukan sebagai penghibur diri yang sebenarnya sungguh rapuh ini. Ia tahan kesakitan itu bertahun-tahun, demi bisa hidup selayaknya orang lain, menebar cinta sana sini, menjadi layaknya pemuda mata keranjang yang menjual tampang, adu gombal berlawankan Angga, hanya untuk apa ? Supaya ia bisa lari dari kenyataan, bahwa seseorang yang pernah ia cintai sudah tiada.


Kembali ke rumah mewah nan megah,


"By, kamu beli nangka ?" tanya Jason, saat ini ia baru saja selesai mandi lalu pergi ke dapur untuk sarapan bersama.


"Enggak ! Kenapa ?" tanya Shirleen. Nangka ! Mengapa nanyain nangka tiba-tiba pikirnya ?


"Kok hidung aku penuh bau nangka ya, apa sih ini nah emang ada bau nangka, Ipah kali ya yang bawa nangka ?" ucap Jason sembari hidungnya mengendus-ngendus yang katanya mencium aroma nangka itu.


"Tidak Tuan, saya tidak bawa nangka !" ucap Ipah langsung.


"Halu kamu, pengen makan nangka kali !" ucap Shirleen.


"Ah nggak kok, aku cuma rasanya terus-terusan bau aroma nangka, bukannya mau makan !" sanggah Jason.


"Kamu ganti parfum ya ?" tanya Jason lagi.

__ADS_1


"Enggak !" jawab Shirleen.


"Kamu Pah ?" tanyanya pada si Maid.


"Tidak Tuan !" jawab Ipah.


"Nih orang makin aneh deh Pah, kayak orang ngidam, kamu tau nggak beberapa hari yang lalu dia malah makan itu jeruk nipis langsung diisep-isep ngambil sarinya, katanya enak, enak apanya coba ngarang banget, tuh kan aku aja yang cerita gini udah ngiler aja saking asemnya padahal cuma dibayangin." ujar Shirleen bercerita pada Ipah.


"Hah, beneran Non, Tuan seperti itu ?" tanya Ipah, sementara Jason tidak perduli meski ia sedang diomongin.


"Iya, aneh tau nggak !" ucap Shirleen.


"Non Shirleen, maaf ya tapi menurut saya mungkin Tuan benar-benar sedang ngidam, mungkin saja kan Non Shirleen sedang hamil saat ini dan yang ngidamnya malah Tuan Muda." ucap Ipah antusias, ia senang sekali kalau memang benar begitu.


"Byurrrr." spontan saja air putih yang baru saja masuk ke mulut Jason tersembur tidak kira-kira.


"HAMIL !" teriaknya.


Ipah bahkan mundur dua langkah saat Jason menatap kearahnya, tatapan yang penuh selidik.


Duh mati aku, harus jawab apa, aduh mulut nggak bisa ya ngomongnya kalau Tuan Muda udah pergi.


"Kamu bilang apa tadi, hamil ?" tanya Jason sekali lagi, meski Ipah sudah menunduk seolah ketakutan, tapi yah tetap saja Jason tidak akan perduli.


"By, tenang, jangan kayak gitu pelan-pelan ngomongnya, nanya kok kayak orang mau ngajakin berantem." ucap Shirleen menengahi.


"Tunggu dulu, Ipah apa tadi kamu bilang, jelasin tolong, apa benar istriku hamil ?" ucap Jason.


"Maaf Tuan, maafkan mulut saya yang telah lancang ini, saya kira Nona Shirleen sedang hamil karena jika seorang suami yang menunjukkan gejala mengidam itu bisa saja terjadi saat istrinya sedang hamil, sebenarnya itu hanya dugaan saya saja, untuk lebih jelasnya Tuan bisa menanyakan atau memeriksakannya dulu ke dokter kandungan, kalaupun Nona Shirleen tidak sedang hamil maafkan saya, maafkan atas kelancangan saya." ucap Ipah dengan masih menunduk.


"By, cepat siap-siap aku ingin memeriksakannya sekarang juga !" suruhnya pada Shirleen dengan bukan main semangatnya.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...

__ADS_1


__ADS_2