
"Gedek gue sama si Angga, sendirian kan gue, tuh anak pacaran mulu, jam segini aja belum nongol." gerutu Afik, saat ini dirinya tengah berada di parkiran, menunggu satu-satunya teman yang masih bisa diharapkan, namun apalah daya mungkin sebentar lagi juga tidak bisa diharapkan.
"Pertama si Junedi kewong, nah saking bucinnya malah milih kuliah online, udehnya si cebong malah minggat ke Jerman, nah ini perasaan baru aja minggu kemaren si Angga sayang-sayangan ama gue tapi sekarang malah ditinggal selingkuh kan, dasar setan!" umpat Afik untuk ketiga temannya.
Akhirnya tidak lama yang dinanti pun datang juga. Afik memiringkan sudut bibirnya melihat motor sport Angga terparkir rapi di sampingnya.
"Masih inget gue lo?" sindir Afik.
"Ya masih dong ayang beb, saatnya kembali ke pacar beneran!" ucap Angga tanpa dosa, jijik itulah yang Afik rasakan, namun dirinya juga tersenyum, jujur saja dirinya rindu kebersamaan, saat ini hanya Anggalah satu-satunya temen yang paling dekat dengannya.
"Ga, nanti kerumah Junedi yok, atau kalau dia di kantor kita samperin aja!" ajak Afik.
"Kenapa? Lo kangen kang bucin?" tanya Angga.
"Enggak sih, gue ngerasa kita udah jarang banget kumpul, apa lagi lo sekarang sibuk pacaran, gimana gebetan lo? Udah sampai mana pedekatenya?" tanya Angga lagi.
"Not bad! bentar lagi gue bakalan pacaran kayaknya!" optimis Angga.
"Weess PJ dong pastinya, ini kan kali pertamanya lo pacaran atas kemauan lo!" ucap Angga.
"Lo maunya apa?" tanya Angga, seolah memberikan Afik kebebasan.
"Udah nggak usah, gue cuma becanda kali, gue ikut senang kalo lo bisa bener-bener suka sama cewek, terus terang gue..."
"Apa?" tanya Angga.
"Gue takut lo malah suka sama gue, hahahaha!" jawab Afik sambil ngakak tak terhindarkan.
"Sialan lo, gue normal kali, lagian itu gara-gara dua manusia bucin ninggalin kita, gue jadi makan ati kan." dengus Angga.
"Lo cari dong Fik cewek, kenapa sih lo nggak pernah pacaran perasaan? Lo nggak pengen apa ngerasain kissing grep*-grep*?" lanjut Angga lagi.
"Sialan lo, jangan-jangan si Rara udah lo colok duluan?" umpat Afik.
"Gue masih pengen nikmatin kesendirian, sambil liat yang bening-bening, beuh jomblo itu kalau dinikmati mantap juga padahal!" alasan Afik ngasal.
"Kagak kali, Rara gue jagain sampe ke pelaminan pokoknya!" yakin Angga.
"Liat yang bening-bening muke lo, awas aja lo, giliran dapetnya malah yang keruh entar!" ejek Angga lagi.
"Gaya lo sampe ke pelaminan, pokoknya gue nggak yakin sebelum lo lewat tiga bulan!" sindir Afik.
"Lo tungguin aja, paling tiga bulan gue udah jadi laki orang!" ucap Angga.
"Serius lo, wah doyan banget sih lo pada nikah muda, kagak bisa nahan apa tuh otak desain ************?"
"Becanda... jangan dianggap serius juga Pak!" ucap Angga tanpa dosa.
__ADS_1
"Kirain! Eh, kelas yuk!" ajak Afik.
"Tumben rajin?"
"Anak teladan..."
Sementara di sebuah rumah mewah,
"By, semalam mau ngomong apa sih?" tanya Shirleen. Saat ini dirinya sedang memasangkan dasi pada kerah kemeja suaminya, setelah sarapan tadi Jason siap-siap berangkat ke kantor.
"Eemm nanti malam aja yah, aku ada rapat pagi!" ucap Jason.
"Oohh, ya udah! Nanti siang pulang nggak, makan?" tanya Shirleen.
"Aku mau ke cafe kamu sih nanti, soalnya aku mau ada pertemuan bisnis di situ, kalau kamu mau kita ketemuan di sana aja." jawab Jason, setelah Shirleen selesai dengan dasinya Jason langsung saja ******* lembut candunya, rindu sekali rasanya dengan yang manis satu ini pikir Jason.
Beralih ke perut Shirleen, dikecupnya bertubi-tubi perut yang sudah buncit itu, betapa bersyukurnya Jason.
"Hei, ini Papa, gerak dong!" ucap Jason mengajak bicara para janinnya.
Langsung saja perut Shirleen bergerak, Jason spontan mengusap lembut pada gerakan itu.
"Mereka selalu nurut apa kata kamu, dari masih di perut aja udah soulmate!"
"Iya dong kan dari bibit unggul aku, Abang aja yang bukan dari bibit aku malah nggak bisa kalau jauh dari aku." narsis Jason.
"Jangan dengerin ya dek, kalau suka nggak tau malunya Papa itu jangan ditiru." Shirleen mengusap perutnya.
"Kalau cerewetnya Mama juga jangan ditiru." ucap Jason tidak mau kalah.
"By, kamu ih!" kesal Shirleen.
"Cup!" Jason mengecup singkat bibir istrinya, "Kalau nanti Mama cerewet sama kalian, cium aja pasti diem!" lanjut Jason, kemudian pemuda itu berlalu pergi sebelum mendengar amukan dari istrinya.
"By... Salam dulu!" pekik Shirleen, namun Jason sudah masuk ke dalam lift.
Shirleen mengambil Jacob yang sudah duduk di ranjang, membawa bayi gembul itu ke kebun belakang untuk melihat kakaknya bekerja.
"Kakak, gimana capek?" tanya Shirleen.
"Sedikit Bun, padahal kakak cuma siram-siram aja, tapi kok capek?" ungkap Misca.
"Kakak nggak terbiasa nih, nanti juga biasa!"
"Ipah, Kakak beneran ngerjain kan?" tanya Shirleen.
"Iya Nona, deretan ini sama ini Kakak sendiri yang siram!" ucap Ipah.
__ADS_1
"Baiklah, berarti Kakak udah satu hari kerjanya, ayo semangat tinggal enam hari lagi!" ujar Shirleen, dirinya mengusap sayang puncak kepala putrinya itu.
"Bunda, Kakak harus mandi lagi, ini lengket sekali!" ujar Misca.
Gadis kecil itu merasakan badannya lengket semua, Misca tidak terbiasa akan itu.
"Ya sudah, mandi sendiri yah!" suruh Shirleen.
"Oke Bunda!"
"Nona, Kakak sudah bekerja keras!" ucap Ipah.
"Aku tau Pah, dia tidak pernah berbohong!"
"Apa kau kenal siapa temannya?" tanya Shirleen.
"Aku tidak tau, Kakak memiliki banyak teman di sekolahnya, dia selalu disenangi teman-temannya, saya tidak tau temannya yang mana!" jujur Ipah.
"Tugasmu, tolong cari tau siapa teman yang dimaksud putriku itu, aku tidak mau ada masalah di kemudian hari, bisa saja kan saat kita ingin membantu namun ternyata orang itu tidak suka dibantu, maksudku jangan sampai membuat orang lain tersinggung! Apa kau mengerti?" jelas Shirleen.
"Mengerti Nona!"
"Ya sudah, kau mandilah, nanti kita akan masak untuk makan siang, lalu pergi ke cafe!"
"Apa Tuan Muda tidak makan siang dirumah Nona?" tanya Ipah, dirinya heran memasak untuk makan siang lalu rumah ini akan ditinggalkan, bagaimana maksudnya?
"Aku akan membawa masakanku nanti ke cafe, Suamiku akan makan siang di sana, sekalian ada pertemuan bisnis!" terang Shirleen.
"Oh begitu, baik Nona!"
"Ya sudah!"
Lalu Ipah pun membersihkan tangannya yang sedikit kotor, dirinya pergi ke kamarnya untuk segera mandi.
Namun saat dirinya hendak menuju kamarnya, dirinya sekilas melihat bayang hitam berlalu tidak jauh dari hadapannya, seketika bulu kuduknya merinding, rumah sebesar ini mungkin saja kan!
Ipah langsung ngacir berlari masuk ke kamarnya.
Bersambung...
*
*
*
Like, koment, and Vote !!!
__ADS_1